Mestinya, pertanyaan yang lebih pas adalah “Apa itu liberalisme?” Sengaja saya tidak menggunakan kata “liberalisme” dalam pertanyaan di atas, karena saya ingin menjelaskan makna “liberal” dalam nama “Liberal Society.”
“Liberal” tentu saja adalah kata sifat atau bisa juga kata benda. Jika kata ini disandingkan dengan kata benda lain, maka fungsinya menjadi kata sifat penjelas, seperti “liberal thinker,” “liberal group,” atau “liberal community.” Kata “liberal” sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti “bebas.” Sebelum abad ke-19, kata “liberal” berarti “orang yang baik hati dan toleran.”
Liberal adalah sebuah sikap politik, ekonomi, dan sosial, yang menekankan pentingnya kebebasan individu. Seorang yang liberal adalah seorang yang mendukung gagasan kemajuan dan perlindungan terhadap kebebasan sipil.
Dalam bidang politik, seorang liberal percaya bahwa demokrasi adalah satu-satunya cara untuk perubahan politik yang damai. Demokrasi tak hanya menjanjikan keragaman hidup, tapi juga menjanjikan perlindungan kepada hak-hak fundamental, batasan kekuasaan, dan pasar bebas. Demokrasi yang baik adalah demokrasi yang liberal, yakni demokrasi yang tak hanya menekankan aspek-aspek prosedural (seperti pemilihan umum), tapi juga aspek-aspek substansial (kebebasan individu).
Dalam bidang ekonomi, liberalisme memberikan aneka jenis kebebasan kontraktual seperti hak milik, hak mengumpulkan kekayaan dan kapital, kebebasan untuk memproduksi, menjual, dan membeli. Orang-orang liberal mengimani sepenuhnya pasar bebas. Pasar adalah lokus di mana individu-individu mempraktikkan kebebasan ekonomi mereka. Pasar merefleksikan supply dan demand bagi barang-barang dan jasa, yang kemudian, pada akhirnya, pasarlah yang harus menentukan harga.
Dalam bidang sosial, liberalisme memproyeksikan bahwa kebijakan-kebijakan yang baik adalah kebijakan yang mempertimbangkan tatanan ekonomi-politik yang secara intrinsik bersifat sosial. Kebijakan liberal pada dasarnya bersifat sosial karena ia bertujuan memberikan warga negara kebebasan untuk menjaga hak dan harta bendanya secara bertangungjawab. Kebebasan sosial, pada akhirnya, adalah sebuah jawaban terhadap apa yang kini kita sebut sebagai kesempatan untuk meningkatkan mobilitas individu di tengah masyarakat.
Liberal Society berusaha membangun sebuah masyarakat yang peduli pada nilai-nilai politik, ekonomi, dan sosial yang liberal, yakni nilai-nilai yang dirumuskan oleh para pemikir liberal seperti John Locke, Adam Smith, John Stuart Mill, Friedrich August von Hayek, dan Ludwig von Mises.
Saya akan menjelaskan tentang nilai-nilai liberal dan para perumus Liberalisme dalam tulisan terpisah.
Tulisan ini pernah dimuat dalam blog pribadi Luthfi Assyaukanie.
Dalam Bab Enam laporan Model Ekonomi Baru (MEB) yang dikeluarkan oleh Majlis Penasihat Ekonomi Negara (MPEN), dengan terang dinyatakan bahawa MPEN tidak bersetuju dengan cadangan mewujudkan gaji minimum kerana ia boleh mengurangkan peluang pekerjaan di Malaysia.
Keynesianisme percaya bahwa ekonomi didorong oleh permintaan. Jika permintaan sektor swasta tidak cukup, mereka percaya bahwa permintaan itu mesti ditambah dengan permintaan pemerintah agar semua orang bisa bekerja (full employment). Kunci untuk menumbangkan Keynesianisme—jika kita harus menumbangkannya—adalah dengan berpegang pada teori ini.
Saya masih ingat sekitar tahun 2007, ketika membantu Open Dialogue Center (ODC) menggerakkan beberapa siri program pendidikan ekonomi. Salah satu program dianjurkan bersama Akademi Sains Islam Malaysia (ASASI), sebuah badan intelektual yang dianggotai ramai cendekiawan muslim, khususnya para pendokong agenda islamisasi ilmu pengetahuan. Sebagaimana selalu didengar, ramai cendekiawan muslim cuba mempopularkan istilah ‘ekonomi Islam’ dan [...]
AkademiMerdeka.org ialah satu projek pendidikan ide-ide libertarianisme dalam Bahasa yang dijalankan oleh Atlas Global Initiative for Free Trade, Peace and Prosperity.
© 2012 AkademiMerdeka.org