Data Kementerian Pertanian Amerika Serikat (USDA) menunjukkan seperempat dari komoditas sereal yang ditanam di negeri itu pada 2009 dipakai untuk biofuel, akibatnya harga pangan naik dan lingkungan rusak. Sementara itu Presiden Obama tetap ingin “melanjutkan investasi pada biofuel tahap lanjut”.
Kajian World Bank Development Prospect Group atas krisis pangan 2007-2008 telah menyalahkan kebijakan produksi biofuel di AS dan Uni Eropa sebagai penyebab melonjaknya harga pangan dunia hingga antara 70-75%, meski menurut USDA 3%.
Kebijakan subsidi biofuel sebenarnya lebih merupakan urusan bagi-bagi jatah politik, bukan tentang penyelamatan lingkungan. Namun, meski ada arus balik kuat melawan pengembangan biofuel ini pada 2008, saat ini tampaknya dunia sudah tidak lagi memperhatikan kebohongan ini.
Produksi bahan biofuel seperti jagung, gula dan kelapa sawit telah melonjak hingga tiga kali lipat sejak tahun 2000. AS sendiri akan menaikkan campuran etanol hingga 15 milyar gallon pada 2012 dan 36 milyar pada 2022, naik sembilan kali lipat dari tahun lalu.
Menurut laporan University of Rice (Texas), pemerintah AS menggelontorkan US$4 milyar untuk mensubsidi biofuel, padahal hanya untuk menggantikan 2% saja dari persediaan bahan bakar fosil (BBM) di negeri itu. Subsidi ini, dalam hitungannya, berarti membebani pembayar pajak dengan harga biofuel setinggi US$82 per barel, atau US$1,95 per gallon lebih tinggi ketimbang harga BBM. Begitu menginjak 2022, subsidi biofuel di AS sudah akan mencapai US$400 milyar, menurut kelompok penekan bidang lingkungan hidup Friends of the Earth. Uni Eropa tidak lebih baik. Subsidi yang ia bayarkan adalah Euro 3,7 milyar pada 2007. Sasaran subsidi ini adalah hanya untuk menggantikan pemakaian 5,75% BBM pada 2010.
Lebih penting lagi, selain pemborosan uang pajak dan naiknya harga pangan, biofuel sebenarnya juga tidak berarti banyak bagi lingkungan. Emisi yang dilepas produksi biofuel di AS dan EU jauh lebih banyak ketimbang yang dihindarkannya. Ahli kimia peraih Nobel Paul J. Crutzen memperkirakan: “Untuk minyak jarak, 80% dari seluruh produksi biofuel di Eropa, pemanasan global relatif yang terjadi akibat emisi N2O [nitroksida] adalah 1 hingga 1,7% lebih tinggi ketimbang efek pendinginan yang diakibatkannya dari penekanan emisi CO2 dari pemakaian BBM yang digantikannya. Untuk bioetanol dari jagung, dominan di AS, angkanya adalah antara 0,9 hingga 1,5.”
Meskipun dalam perkiraan badan pangan PBB, FAO, dunia tidak akan mengalami lagi apa yang disebutnya sebagai “konkurensi banyak faktor” pada masa-masa dekat ini, sekarang bukanlah saatnya untuk berpuas diri. Harga pangan yang sudah naik akan butuh waktu panjang untuk turun lagi (harga jagung saat ini masih 50% lebih tinggi dari rata-rata harga 2003-2006), sementara itu jumlah orang yang kelaparan sudah mencapai 1 milyar orang. Ini adalah perkembangan yang mengkhawatirkan, mengingat adanya kecenderungan naiknya jumlah orang kelaparan, baik secara absolut maupun persentase. Berbagai pencapaian selama berpuluh-puluh tahun belakang ini telah surut lagi.
Etanol sendiri telah memakan lebih dari 27 juta dari sekitar 90 juta hektar lahan pertanian jagung di AS: selama 2006-2008, Indeks Harga Pangan Bank Dunia meningkat dua kali lipat.
Jika biofuel benar-benar adalah tentang penyelamatan lingkungan maka seharusnya pemerintah AS tidak mengenakan tarif pada etanol buatan Amerika Latin dan Karibia yang masuk ke AS. Begitu pula tarif UE yang jelas-jelas menyasar produsen-produsen AS yang mengekspor 95% biofuelnya ke Eropa.
Kekhawatiran lain adalah tentang konversi habitat alamiah asli ke lahan pertanian, akibat aji mumpung yang terdorong subsidi biofuel ini. Pengubahan lahan pertanian kedelai di AS telah memindahkan produksi kedelai ke Amerika Selatan dan Indonesia, sehingga mendorong terjadinya deforestasi.
Di Indonesia sendiri (produsen kelapa sawit terbesar dunia, yang harga biofuelnya juga termasuk yang termurah di dunia), di mana pemerintah baru-baru ini meningkatkan subsidi BBN dari Rp1.000 menjadi Rp2.000 per liter, setidaknya akan terjadi konversi lahan hingga 3 juta hektar karena ada target peningkatan lahan untuk kelapa sawit dari tujuh juta hektar sekarang menjadi 10 hektar pada 2015.
Potensi deforestasi di Kalimantan dan berbagai daerah lain, serta konflik-konflik sosial akibat perebutan lahan maupun pencaplokan lahan ilegal, sangat tinggi. Ini akan semakin mengharu birukan lanskap sosial ekonomi di negeri yang setiap tahun mengekspor 80% dari sekitar 20 ton produksi biofuelnya ini.
Lebih penting lagi, biofuel sebenarnya juga tidak akan menghemat energi. Untuk mengembangkan beberapa varietas proses yang dibutuhkan – mulai dari menanam, angkut, dan pemrosesannya – emisi yang dilepaskan bahkan akan lebih besar daripada yang ingin dikuranginya.
Dan menurut World Business Council for Sustainable Development jika harga minyak di bawah US$70 per barel (baru-baru ini sekitar US$70-85), harga etanol berbasis jagung pada tingkat eceran adalah sama dengan harga BBM – padahal uang pajak yang dipakai untuk subsidi belum lagi dihitung.
Sudah pula ada klaim dari AS dan UE bahwa produksi biofuel “generasi kedua” yang akan menggunakan selusose dan limbah produksi biofuel, yang lebih hemat dan ”terbarukan”. Namun ini belum sesuai dengan nilai uang yang telah digelontorkan, dan industri ini baru pada tahap yang awal sekali. UE juga telah mengatakan akan mengkaji ulang biofuel sejak krisis pangan 2007-2008 terjadi. Namun itu telah surut gara-gara kuatnya lobi-lobi di UE maupun AS.
Pertanian menghadapi banyak kendala yang sulit, mulai dari bagaimana menetapkan hak atas lahan hingga ke penyebarluasan teknologi atau bagaimana beradaptasi terhadap perubahan iklim. Namun isu subsidi biofuel ini adalah isu yang mudah untuk dipecahkan.
Penciptaan pasar semu melalui subsidi-subsidi jelas-jelas bukanlah cara untuk mengurangi emisi, menyelamatkan hutan, ataupun untuk memberi makan kepada si miskin. Upaya ini lebih untuk menggemukkan kantong pelobi-pelobi pertanian di negeri-negeri kaya: sudah saatnya kita akhiri kebohongan ini semua.
—
Caroline Boin, kontributor www.AkademiMerdeka.org, adalah Direktur Proyek di International Policy Network, London, sebuah think-tank independen bekerja pada pembangunan ekonomi.
AkademiMerdeka.org ialah satu projek pendidikan ide-ide libertarianisme dalam Bahasa yang dijalankan oleh Atlas Global Initiative for Free Trade, Peace and Prosperity.
© 2012 AkademiMerdeka.org