01/06/2010

Akademia sudah melangkah!

Jarak ribuan li bisa ditempuh, dan dimulai dengan langkah pertama, demikian kata pepatah.

Sudah dua kali Akademi Merdeka Indonesia bergulir. Tak disangka saya ikut menjadi peserta di keduanya. Dari segi waktu Akademi Merdeka 2 lebih leluasa. Semangat peserta sama tingginya. Waktu cukup banyak untuk mengenal ide-ide kebebasan. Suasana diskusi santai tapi serius. Diskusi peserta bebas ekspresif. Presentasi para narsumber sungguh membantu merangsang diskusi dan merapikan pikiran saya. Saya juga yakin bagi peserta lain.

Yang terpenting dan menyentuh, di balik acara ini, saya merasakan ada sebuah semangat tinggi untuk menggulirkan suatu perubahan: membangun suatu masyarakat merdeka.

Yang saya tanyakan pada diri saya adalah bagaimana caranya?

Tulisan pendek ini dimaksudkan untuk memberikan sumbang saran berdasarkan rekaman saya memfasilitasi world cafe discussion yang dibuat pada hari terakhir Akademi kedua, di Cico Bogor 27-30 Mei 2010.

Di hari itu, tercetus lagi ide “partai” masa depan. Suatu partai bagi orang muda, suatu organisasi sosial politik yang mewakili semangat zamannya: Zaman yang bergerak pasti menuju tatanan yang semakin terbuka dan demokratis, tertib hukum; gabungan sebuah idealisme dan keinginan untuk segera bertindak, to seize the day.

Agaknya, kesan saya, tanpa terasa embrio ide, bahkan cikal-bakal organisasi sosial politik ini sudah mulai tercetus-cetus di antara sebagian 30 peserta Akademi kali ini. Kurang lebih sama ketika Akademi pertama saya ikuti. Mungkin peserta lain perlu menuliskan semacam testimoni untuk menguatkan kesan saya ini, atau mungkin juga saya hanya mimpi. Saya rasa kita perlu ini: kita perlu memiliki kehendak kuat, namun tidak hanya bermodal semangat saja. Kita mesti memperkuat penguasaan ide-ide kita akan politik dan ekonomi modern. Kita harus sadar akan the power of ideas, dan ide-ide kita haruslah yang bervisi menyejahterakan dan berkeadilan.

Marilah kita awali langkah-langkah kecil kita secara terencana, atau setidaknya terarah, atau yang terpenting kita yakin bahwa arah itu secara mroal adalah yang terkaut sampai saat ini (tentu saja tidak ada yang absolut dalam dunia ide bukan?)! Kita perlu membangun platform yang jelas sekaligus konkrit sebagai pembibing program kerja.

Saya bayangkan: Bila seorang dari 58 orang alumni Akademi 1 dan 2 bisa menawarkan gagasan, menceritakan kembali apa yang diperolehnya dari Akademi ini, dan lalu mengajak lima orang lain kepada keyakinan baru yang memerdekakan dari ide-ide liberalisme klasik, maka kita sudah menggulirkan sesuatu yang berarti. Saya yakin memang ada sebuah utopia ide. Oleh karena itu tantangan kita adalah mencoba memperjelasnya pada tataran pemahaman kita dan mencoba memperjuangkan pewujudannya di kehidupan yang sekarang kita lihat.

Kita masih muda, dan pasti kita bisa! Yang dibutuhkan masyarakat kita saat ini adalah para pemuda/pemudi yang sanggup menjadi katalis bagi sekelompok orang yang lebih besar jumlahnya untuk bergerak, bekerja, sambil belajar untuk semakin mempertajam sense kita akan penataan kehidupan yang lebih memakmurkan, adil, dan memerdekakan bagi individu. Saya membayangkan pemuda/pemudi di sekitar Soekarno-Hatta tahun 45, berseru “Kita musti merdeka sekarang, Bung! Tak perlu bergantung pada niat tulus Jepang, karena kau dan aku tahu itu hanya menipu. Kita musti merdeka 1000% sekarang juga..”

Tapi, kepada siapa seruan pemuda/pemudi itu sekarang kita alamatkan? Saya sendiri masih mencari jawabannya. Saat ini jawaban saya masih sementara sifatnya. Apakah menunggu “pertanda” alam hingga muncul jawab final-nya? Terus terang, saya anggap kita semakin asyik dengan tarian orang lain.

Bagi saya jawabannya terletak dalam ide-ide liberalisme, semangat pencerahan, semangat emnasipasi individu, semangat pemerintahan minimal, semangat rule of law, semangat ekonomi terbuka, semangat membangun suatu masyarakat maju dan mondial. Mereka yang bersiap menyongsong masa depan, tidak boleh lagi menunggu di tikungan. Kita mesti rebut kesempatan kita dengan cerdas. Jalannya adalah politik ide! Semoga dalam perlombaan gagasan dan pertarungan ide ini, Akademia mampu berperan dalam bentuk apapun. Mulai di belakang layar, depan layar, penarik, pemain, sutradara atau apapun seperti pertunjukan tonil yang segera dimulai.

Selama dan setelah melalui Akademi Merdeka, saya jadi semakin optimis dengan masa depan demokrasi dan kebebasan di Negeri Kita, mengapa? Karena hadirnya aktor dan calon aktor masa depan sudah saya rasakan dan lihat sendiri, bahkan saya telah berinteraksi dengan mereka. Saya bayangkan jika suatu saat kami bertemu lagi di dunia politik, kami mudah-mudahan telah belajar paham ide-ide kebebasan ini, bahwa meskipun partai politik kami nanti berbeda, kami selalu bisa melihat suatu titik temu besar yang mengangkat tinggi martabat individu.

Kita bisa! Mari kita mulai dengan merawat hubungan sesama Akademia yang telah terbangun. Masa depan Indonesia yang semakin merdeka (Liberal) adalah keniscayaan. Dan kita telah melangkah.

Depok, 31.05.2010

M. Ikhsan ialah peserta Akademi Merdeka

Tag .

Kenali AkademiMerdeka.org

AkademiMerdeka.org ialah satu projek pendidikan ide-ide libertarianisme dalam Bahasa yang dijalankan oleh Atlas Global Initiative for Free Trade, Peace and Prosperity.

Langgan feed RSS

Ikuti melalui Twitter

Sertai kami di Facebook

Kenali kami sepenuhnya »

© 2012 AkademiMerdeka.org