19/06/2010

Mengikuti Akademi Merdeka Indonesia 2

Pada tanggal 19 Mei saya diberitahu oleh seseorang dari Freedom Institute sebagai salah satu peserta yang berhak mengikuti Akademi Merdeka ke-2 yang diselenggarakan oleh Freedom Intitutute pada 27-30 Mei 2010 di Bogor. Persiapan yang dilakukan di antaranya membaca artikel-artikel ilmiah dengan keyword “kebebasan, dan liberalisme” pada search engine google. Ada tiga perserta (termasuk saya) yang berasal dari Universitas Padjadjaran Bandung, dan ketiganya berasal dari fakultas hukum serta angkatan yang sama.

Singkat kata hari yang dinantikan itu tiba dan rencana yang tadinya disusun, yaitu kami bertiga menggunakan jasa travel pergi pagi-pagi menuju Jln. Proklamasi No. 41, Menteng, terpaksa diubah karena harus mengisi absensi dan mengumpulkan UAS Kemahiran Hukum pada pukul 13.00. Akhirnya satu teman saya yang berangkat pada siang hari, sedangkan saya bersama teman yang lain pergi pada sore hari dan langsung menuju lokasi acara di Bogor dengan menggunakan bus. Kami tiba di CICO Resort pada pukul 20.00 tepat sebelum acara dimulai dan langsung melakukan registrasi.

Akademik Merdeka yang kami ikuti merupakan yang kedua kalinya diadakan dan mengambil tema “Introducing Modern Political and Economic Ideas”. Pada hari pertama yaitu kamis 27 Mei diadakan sambutan kepada para peserta, pengenalan tiap peserta, pemilihan ketua kelas dan penjelasan mengenai logistik.

Hari kedua dan selanjutnya sampai acara selesai pelaksanaan workshop dimulai pada pukul 09.00 s.d. pukul 21.00 dengan beberapa kali waktu rehat. Pada Jum’at 28 Mei pukul 09.00 para peserta mendapat pemaparan materi mengenai ‘Introduction to Liberalim Today’ dari Rainer Heufers. Beliau menerangkan tentang cara terbaik dalam mempelajari liberalisme, yaitu melalui komunikasi dua arah antara peserta dan pemateri . Selain itu dijelaskan pula mengenai pentingnya moral yang baik dalam kehidupan sosial di mana kebebasan seseorang dibatasi oleh moral dan kebebasan orang lain.

Selain itu, peserta diminta untuk menyebutkan mengenai isu-isu yang berkaitan dengan liberalisasi yang sedang menjadi tema bahasan di kampus masing-masing. Didapati ada enam belas isu penting, yang setelah dikerucutkan sesuai urgensinya hanya menjadi lima isu penting yang akan didiskusikan dalam bentuk diskusi kelompok yaitu Asean-China FTA, demokrasi dan hegemoni Amerika Serikat, hubungan antara liberalime dengan keadilan dan aspek budaya, privatisasi pendidikan, dan penyebab timbulnya terorisme . Setiap kelompok terdiri dari enam orang yang masing-masing membahas isu tersendiri dengan format pembahasan yaitu latar belakang, identifikasi masalah, respon terhadap isu tersebut, dan langkah-langkah yang akan dilakukan di kampus masing-masing.

Setelah presentasi dari Rainer Heufers, sebelum diskusi kelompok, presentasi dilanjutkan oleh Luthfi Assyaukanie dengan mengambil tema ‘Modern Political Ideas: Democracy, Justice, and Peace’. Dalam paparannya beliau mengemukakan mengenai nilai-nilai (values) liberalisme yaitu: kebebasan, individualisme, persamaan, hak asasi manusia, toleransi, demokrasi, masyarakat sipil (madani), rule o law, keadilan, dan pasar bebas. Nilai-nilai tersebut apabila disaring lagi akan menghasilkan tiga nilai utama (core values) yaitu; demokrasi, hak asasi manusia, dan keadilan. Selain itu dijelaskan pula mengenai jeni-jenis kebebasan (freedom from dan freedom to), demokrasi prosedural dan demokrasi substansial, serta mengenai demokrasi dengan kata sifat, seperti social democracy, marxist democracy, pluralist democracy, dan sebagainya, di mana dalam perkembangannya kata sifat itulah yang dominan sehingga mereduki nilai-nilai demokrasi.

Hari ketiga pemberian materi dilakukan oleh Arianto A. Patunru dengan tema ‘Modern Economic Ideas: Freedom, Property, and the Rule of Law’. Dalam paparannya beliau menjelaskan mengenai macam-macam hambatan perdagangan internasional (tarif dan nontarif), tiga kebebaan yang berkaitan dengan nasionalisme (kebebasan untuk berdagang, kebebasan untuk bergerak, dan bebas dari utang), dua teorema yang berbicara kesejahteraan (adanya kebebasan produsen dan konsumen melalui invisible hand dan perlunya dilakukan redistribusi pendapatan dan kekayaan), tragedi kepemilikan bersama beserta solusinya dan komplikasinya, sudut pandang ekonomi dalam hukum, hukum dan konstitusi dan sebagainya.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan kuis dan bedah film tentang fenomena keseharian di sekitar kita yang seringkali luput dari perhatian, misalnya mengenai pedagang kaki lima, kaum tuna wisma dan isu pelanggaran HAM yang aktual berupa kerusuhan antara aparat keamanan dan mayarakat di Koja, Jakarta Utara. Acara hari itu diakhiri dengan debat antara para peserta yang dibagi menjadi tiga kelompok beserta kepentingannya maing-masing, yaitu kelompok pemerintah daerah, DPRD, dan perwakilan dari asosiasi PKL.

Hari terakhir para peserta mendapat pemberian materi mengenai ‘Free Society and It’s Enemies’ dari Ulil Abshar Abdalla. Dalam presentasinya, pemateri menerangkan mengenai musuh-musuh liberalisme atau free society yang terbagi menjadi dua, yaitu ancaman lama dan ancaman baru. Ancaman lama yaitu adanya golongan ‘kanan’ dengan asumsinya bahwa tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui akan kepentingan orang banyak. Oleh karena itu, timbullah persamaan hak pilih. Sebaliknya ada pula golongan ‘kiri’ yang berasumsi bahwa terdapat seseorang/pemimpin yang mengetahui segala hal tentang kepentingan umum. Pemimpin tersebut dapat berupa pemimpin agama, dan sebagainya.

Selain ancaman lama, lanjut pemateri, terdapat pula ancaman baru yaitu; (1) fasisme yang berlatar belakang keagamaan. Jenis fasisme ini melahirkan pemimpin agama yang dianggap mengetahui segala-galanya sehingga mengatur masyarakat secara totaliter, (2) kelompok komunitarian, yang berpandangan bahwa individu selalu dilihat sebagai bagian dari masyarakat sehingga kedudukan individu di bawah kehendak bersama, dan (3) kapitalisme, di mana penumpukan kekuasaan dan modal pada satu orang atau kelompok tertentu akan melahirkan ekses negatif berupa monopoli modal dan opini publik.

Acara kemudian diakhiri dengan sesi world café, yaitu sharing pendapat para peserta mengenai penentuan visi dan misi, strategic plan, dan program bagaimana membangun jaringan penyebaran ide. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok sama rata dan secara bergiliran dimintai pendapatnya mengenai ketiga materi program evaluation tersebut. Pada sesi ini para peserta dimintai pendapatnya mengenai saran-saran untuk pelaksanaan program ini dalam jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

Setelah mengikuti rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Freedom Institute ini saya lebih memahami tentang liberalisme, free market, free society, property right, the rule of law, dan sebagainya. Hal-hal yang baru yang tidak saya peroleh di kampus, akhirnya saya dapatkan di acara ini. Selain itu, para peserta juga mendapat beberapa buah buku, artikel, dan CD yang berhubungan dengan materi yang diberikan sehingga dapat mempelajarinya lebih lanjut.

Hendra Gunawan ialah Mahasiswa Unpad, peserta Akademi Merdeka Indonesia 2.

Tag .

Kenali AkademiMerdeka.org

AkademiMerdeka.org ialah satu projek pendidikan ide-ide libertarianisme dalam Bahasa yang dijalankan oleh Atlas Global Initiative for Free Trade, Peace and Prosperity.

Langgan feed RSS

Ikuti melalui Twitter

Sertai kami di Facebook

Kenali kami sepenuhnya »

© 2010 AkademiMerdeka.org