20/07/2010

Visi moral masyarakat merdeka

Pengantar Dr Tom G. Palmer bagi buku Hukum karya Friedric Bastiat.

Memaksa atau membujuk: mana jalan ke moralitas? Perampasan atau mengakui kepemilikan: mana jalan yang menuju kesejahteraan? Inilah pertanyaan besar dalam filsafat moral, hukum, politik, dan ekonomi. Seperti yang telah diakui oleh para pemimpin moral dan spiritual, dalam hal keagamaan tidak boleh ada pemaksaan. Frédéric Bastiat menunjukkan bahwa pemaksaan adalah cara yang buruk untuk memperlakukan orang. Tidak saja dalam hal beragama, tapi juga dalam segala lingkup hubungan manusia, karena hidup, kemerdekaan, dan hak milik adalah alamiah manusia –anugerah dari Tuhan, bukan dari manusia lain–dan bahwa apabila ada orang yang mengklaim hidup, kemerdekaan, dan hak milik orang lain untuk dirinya sendiri maka itu adalah pelanggaran hak asasi.

Tidak bakal ada hasil yang bajik dari tindakan semacam itu, seperti yang Bastiat tunjukkan dengan tidak saja mengacu pada hukum moral, namun juga dengan ekplikasinya yang cermat tentang hak alamiah pada umumnya, termasuk hukum ekonomi. Dunia kehidupan manusia dibimbing oleh sebab dan akibat, termasuk akibat-akibat yang tidak diniatkan, dan kita akan hancur sendiri apabila mengabaikan hubungan-hubungan ini.

Salah satu guru moral terbesar di zaman modern adalah seorang Prancis yang sederhana, Frédéric Bastiat, yang tidak kenal capai mengabdikan hidupnya, bahkan pun ketika ajal sudah akan tiba, untuk membela perdagangan bebas, perdamaian, dan kedaulatan hukum. Bastiat lahir pada 1801, namun baru berhasil mengukirkan karya-karya terbesarnya, termasuk tulisan-tulisannya yang luar biasa berlimpah, antara 1844 dan tahun wafatnya 1850. Pada 1848, ketika ia jadi anggota parlemen Prancis, ia membantu menggugurkan proyek-proyek orang komunis. Ia membongkar banyak sekali kesesatan berpikir kaum komunis, tidak dengan kekuatan paksa atau ancaman balik, tapi dengan menggunakan akal pikiran dan selera humornya yang khas. Caranya yang lembut ini membantu Prancis menghindarkan diri dari nasib seperti yang dialami Russia dan bangsa-bangsa yang dikuasai kekaisaran Russia (kemudian Uni Soviet), terbunuhnya jutaan manusia.

Bastiat adalah seorang ahli ekonomi terkenal, bukan karena sumbangsihnya pada ilmu ini, namun karena kemampuannya menyampaikan dengan jelas prinsip-prinsip ilmu ekonomi. Penerima Hadiah Nobel F.A. Hayek menyebutnya “publisis jenius” karena kemampuannya menjelaskan hubungan sebab-akibat dalam masyarakat, dan memujinya khusus untuk karyanya “Apa yang Terlihat dan Apa yang Tak Terlihat”, yang bagi Hayek adalah “pembelaan yang paripurna atas kemerdekaan ekonomi”. Bagi yang belum membaca esai hebat Bastiat tentang apa yang terlihat dan tak terlihat tersebut ada hadiah yang menunggu; begitu esai ini dibaca dan dipahami, maka dunia pun tak akan tampak sama lagi. Ia akan sebagai dunia yang punya pilihan, biaya-biaya, dan trade-offs, sebuah dunia yang dipimpin oleh akal budi, logika, dan ilmu, bukan nafsu.

Hayek bukan saja menghargai pemahaman Bastiat yang mendalam atas prinsip-prinsip ilmu ekonomi, namun juga penekanannya pada prinsip-prinsip moral. Seperti yang dicatatnya: “Bastiat sungguh tepat dalam memperlakukan kebebasan memilih sebagai sebuah prinsip moral yang tidak pernah boleh dikorbankan demi pertimbangan kemudahan pencapaian sesuatu; karena mungkin tidak akan ada aspek lain dari kemerdekaan yang tidak akan dihapuskan jika ia dihargai semata-mata hanya ketika kerusakan konkrit yang diakibatkannya dapat ditunjukkan.”

Bastiat paham bahwa begitu ide kesetaraan keadilan bagi semua ditinggalkan, maka yang tinggal untuk kita adalah perang melawan semua. Jawabannya bukan, seperti yang dikemukakan beberapa orang, dengan membatasi hak suara hanya kepada beberapa orang yang terpilih saja (lagipula bagaimana kita yang sisa-sisa ini terlindungi dari ketamakan mereka?) namun dengan membatasi hukum. Seperti yang ditanyakan Bastiat: “jika hukum dibatasi hanya untuk melindungi semua orang, semua kebebasan, dan semua hak milik; jika hukum tidak lebih dari kumpulan hak individu atas pertahanan diri yang terorganisasi; jika hukum adalah rintangan, perlindungan, penghukum semua penindasan dan perampasan—apakah mungkin bahwa kita warga negara akan berselisih tentang tingkat hak suara tersebut?” Alih-alih “perampasan legal yang terbatas” (yakni yang “sedikit merampas yang banyak”) atau “perampasan universal” (“di mana semua orang merampas semua orang”), Bastiat mengusulkan tidak ada perampasan sama sekali, yang ia sebut “prinsip-prinsip keadilan, perdamaian, tata-tertib, stabilitas, harmoni, dan logika.”

Ilmu ekonomi tidaklah berseberangan jalan dengan moralitas, seperti yang Bastiat tunjukkan. Ekonom yang baik didorong oleh semangat keadilan, sama seperti pasar bebas didasarkan atas keadilan.

Jika visi moral bagi sebuah masyarakat merdeka yang berdasarkan keadilan menarik bagi Anda, wahai pembaca budiman, saya rekomendasikan untuk membaca karya-karya Bastiat yang lain, dan lalu karya-karya Ludwig von Mises, F.A. Hayek, Milton Friedman, dan masih banyak lagi pendekar akal budi, logika, dan kemerdekaan. Kami mengajak para pembaca untuk bersama-sama mengusahakan bersemainya kebebasan, keadilan, perdamaian, dan kesejahteraan bagi Indonesia, dan saya rekomendasikan buku ini.

Washington, Mei 2010
Tom G. Palmer
Atlas Global Initiative for Free Trade, Peace and Prosperity

Tag .

Kenali AkademiMerdeka.org

AkademiMerdeka.org ialah satu projek pendidikan ide-ide libertarianisme dalam Bahasa yang dijalankan oleh Atlas Global Initiative for Free Trade, Peace and Prosperity.

Langgan feed RSS

Ikuti melalui Twitter

Sertai kami di Facebook

Kenali kami sepenuhnya »

© 2012 AkademiMerdeka.org