01/10/2010

Mitos di seputar Individualisme

Kata orang, kalangan libertarian, atau liberal klasik, berfikir bahwa “individu sudah terbentuk dengan sempurna dan pilihan-pilihan prinsip mereka sudah ada sebelum masyarakat ada, atau bahkan di luar masyarakat.” Mereka, kata orang-orang ini, “mengabaikan bukti-bukti ilmiah mengenai buruknya dampak isolasi,” dan, lebih mengagetkan lagi, “menentang ide mengenai “nilai-nilai bersama” dan “kebaikan bersama.” Saya ambil semua kutipan ini dari pidato pelantikan Profesor Emitai Etzioni sebagai presiden American Sociological Association pada 1995 (American Sociological Review, Februari 1996). Sebagai tamu yang sering diundang dalam acara talkshow dan juga sebagai editor The Responsive Community, Etzioni telah dikenal sebagai mubalig bagi gerakan politik yang dikenal sebagai komunitarianisme.

Etzioni tak sendiri. Tuduhan yang hampir sama juga datang dari kelompok kanan dan kiri. Dari kelompok kiri, ada kolumnis Washington Post, E.J Dionne Jr., yang mengatakan dalam bukunya, Why Americans Hate Politics (Mengapa Orang Amerika Benci Politik), “semakin populernya agenda-agenda kelompok libertarian menunjukkan bahwa banyak orang Amerika yang tak lagi percaya adanya “kebaikan bersama,”. Dalam esei terbarunya di Washington Post Magazine, Dionne juga mengatakan “penekanan kalangan libertarian terhadap individu yang serba bebas (freewheeling individual) seakan-akan mengasumsikan bahwa individu lahir ke dunia ini sebagai orang dewasa yang harus bertanggungjawab terhadap tingkah laku mereka sejak lahir.” Dari kelompok kanan, ada almarhun Russell Kirk, yang mengklaim dalam artikelnya “”Libertarians: The Chirping Sectaries (Libertarian: kelompok yang suka mencicit),” bahwa “libertarian sejati itu seperti setan. Ia tidak menyukai otoritas apapun, baik temporal maupun spiritual. Ia juga tidak menghormati budaya dan kepercayaan kuno, dunia alami, negaranya, bahkan sekelumit elemen imortal dalam diri manusia.”
Ada pula yang kritik yang agak sopan seperti dari Senator Dan Coats (Republican-Indiana) dan David Brooks dari Weekly Standard yang mengeritik kalangan libertarian karena dengan sengaja mengabaikan nilai-nilai komunitas. Untuk mempertahankan usulannya agar pemerintah federal AS lebih banyak menyelenggarakan program-program untuk “membangun kembali” komunitas, Coats menulis bahwa rancangan undang-undang yang diusulkannya “adalah rancangan konservatif, tidak sepenuhnya libertarian; RUU ini mengakui, tidak hanya hak-hak individu, tetapi juga kontribusi kelompok dalam membangun kembali infrastruktur sosial dan moral masyarakat.” Dalam pernyataan ini seolah-olah hak-hak individu tak selaras dengan partisipasi dalam kelompok atau masyarakat.
Tuduhan-tuduhan seperti ini yang semakin sering datang dari mereka yang menentang cita-cita kalangan liberal klasik, sayangnya, tidak pernah didukung dengan kutipan-kutipan dari para ahli liberal klasik. Pun tak pernah ada bukti bahwa mereka yang menyukai kebebasan individu dan pemerintahan konstitusional yang terbatas itu berfikir seperti yang dituduhkan oleh Etzioni dan kawan-kawannya. Tuduhan-tuduhan aneh dan tak didukung oleh bukti yang cukup seperti ini bisa diterima sebagai kebenaran, karenanya Etzioni dan para pendukung komunitarian lainnya yang mengeritik kebebasan individu harus bertanggungjawab terhadap distorsi yang sudah mereka lakukan.

Individualisme Atomistik

Mari kita uji benda bernama “individualisme atomistik” yang disebut-sebut oleh Etzioni, Dionne, Kirk, dan yang lainnya. Akar filosofis dari tuduhan ini sudah diungkapkan oleh kalangan komunitarian yang mengeritik konsep individualisme liberal klasik seperti filosof Charles Taylor dan sarjana ilmu politik Michael Sandel. Charles Taylor misalnya mengklaim bahwa orang-orang libertarian percaya akan hak-hak individu dan prinsip yang abstrak mengenai keadilan, mereka percaya akan “kemandirian manusia, atau lebih tepatnya, individu.” Jadi tuduhan ini sebenarnya hanya versi baru dari kritik lama terhadap konsep individualisme liberal klasik yang pada intinya menyatakan bahwa kalangan liberal klasik menggunakan konsep “individu yang abstrak (abstract individuals)” sebagai dasar pandangan mereka terhadap keadilan.
Klaim-klaim itu benar-benar nonsens. Tak ada yang percaya bahwa ada yang disebut dengan “individu yang abstrak,” karena semua individu itu pastilah konkrit. Pun tak ada individu yang benar-benar “mandiri”, dan mereka yang membaca The Wealth of Nations pasti menyadari hal ini. Malah, kalangan liberal klasik dan libertarian menyatakan bahwa sistem peradilan seharusnya tidak mempertimbangkan karakteristik individu yang konkrit. Jadi, ketika seorang individu menghadap pengadilan, tingginya, warna kulitnya, kekayaannya, posisi sosial dan agamanya tidak relevan dengan persoalan keadilan. Itulah yang disebut dengan kesetaraan di hadapan hukum; tapi bukan berarti bahwa tidak ada individu yang memiliki tinggi, warna kulit atau kepercayaan tertentu. Abstraksi adalah proses mental yang kita gunakan ketika kita berusaha memilah mana yang esensial atau yang relevan dengan satu persoalan; ia tidak menuntut kepercayaan terhadap entitas-entitas abstrak.
Justru karena tak ada individu atau kelompok kecil yang bisa mandiri sepenuhnya, kerjasama menjadi penting agar mereka bisa bertahan dan berkembang. Dan karena kerjasama itu terjadi antara individu yang tak terhitung jumlahnya dan tak mengenal satu sama lain, aturan yang mengatur interaksi dan kerjasama itu secara alamiah pasti abstrak. Aturan-aturan abstrak, yang menentukan terlebih dahulu perkara-perkara yang boleh kita harapkan dari yang lain, membuat kerjasama bisa terjadi dalam skala besar.
Tak ada orang rasional yang akan percaya bahwa individu terbentuk dengan sempurna di luar masyarakat—atau dalam isolasi seperti tuduhan di atas. Karena jika demikian, berarti tidak ada yang bisa punya orang tua, sepupu, teman, sosok pahlawan, dan bahkan tetangga. Jelas bahwa kita semua dipengaruhi oleh mereka yang ada di sekeliling kita. Libertarian hanya menyatakan bahwa perbedaan di antara orang dewasa normal tidak mengharuskan perbedaan dalam hak-hak fundamental.

Sumber-Sumber dan Batas-Batas Kewajiban

Libertarianisme pada dasarnya bukan teori metafisik mengenai keutamaan individu di atas yang abstrak, apalagi tentang teori aneh mengenai “individu yang abstrak.” Libertarianisme juga bukan penolakan terhadap tradisi, seperti Kirk dan kalangan konservatif lainnya tuduhkan. Libertarianisme adalah teori politik yang muncul sebagai respons terhadap semakin tak terbatasnya kekuasaan negara. Libertarianisme mengambil kekuatan dari peleburan antara teori normatif mengenai sumber-sumber politik dan moral serta batas-batas kewajiban, dengan teori positif yang menjelaskan sumber-sumber sebuah tatanan. Setiap orang memiliki hak untuk bebas, dan orang yang bebas bisa menghasilkan tatanan secara spontan, tanpa ada kekuatan yang memerintah mereka.
Jadi apa sebetulnya karakterisasi absurd yang dibuat Dionne bahwa libertarianisme itu percaya bahwa “individu lahir ke dunia ini sebagai orang dewasa yang harus bertanggungjawab terhadap tingkah laku mereka sejak lahir”?
Kalangan libertarian mengakui adanya perbedaan antara orang dewasa dan anak-anak, dan perbedaan antara orang dewasa normal dengan orang dewasa yang gila atau mentalnya terganggu atau terbelakang. Keberadaan wali penting bagi anak-anak dan orang dewasa yang abnormal, karena mereka tidak bisa membuat pilihan yang bertanggungjawab untuk diri mereka. Tapi tak ada alasan untuk memberikan hak kepada sebagian orang dewasa normal untuk membuat pilihan bagi orang dewasa normal lainnya seperti yang dipercaya oleh kalangan kiri dan kanan. Kalangan Libertarian menyatakan bahwa tidak ada orang dewasa normal yang berhak memaksakan kehendaknya kepada orang dewasa normal lain, kecuali dalam keadaan-keadaan tertentu, seperti ketika orang lain itu ditemukan tak sadar dan ia memberikan pertolongan medis atau memanggil ambulan.
Yang membedakan libertarianisme dengan pandangan lain tentang moralitas politik adalah teorinya mengenai kewajiban yang bisa dipaksakan (enforceable obligations). Sebagian kewajiban, seperti kewajiban untuk menulis ucapan terimakasih kepada orang yang telah mengundang makan, biasanya tidak diwajibkan dengan paksaan. Kewajiban lain seperti kewajiban untuk tidak meninju hidung orang yang kritiknya mengesalkan atau kewajiban membayar barang yang dibawa keluar dari toko, adalah kewajiban yang bisa dipaksakan.
Kewajiban bisa jadi universal atau khusus. Individu, siapapun dan dimanapun ia berada (ini yang dimaksud khusus), mempunyai kewajiban yang bisa dipaksakan kepada semua orang, yakni untuk tidak membahayakan kehidupan, kebebasan, kesehatan dan hak milik orang lain. Dalam istilah John Locke, “karena manusia setara dan merdeka, berarti tidak ada seorang pun yang boleh membahayakan hidup, kesehatan, kebebasan dan hak milik yang lain.” Semua individu berhak untuk tidak disakiti oleh orang lain yang ingin menikmati hal-hal yang disebut tadi. Hak dan kewajiban itu saling berkaitan, dan keduanya mesti bersifat universal dan “negatif”, dan karenanya dalam situasi yang normal, hak dan kewajiban bisa dimiliki oleh semua orang secara simultan. Hak manusia yang universal untuk tidak dibunuh, disakiti, atau dirampok adalah dasar pandangan libertarian, dan seseorang tidak membutuhkan ide mengenai “individu yang abstrak” untuk menyatakan keuniversalan hak-hak itu. Justru karena penghormatan, bukan kebencian, pada “sekelumit elemen imortal dalam diri manusia” yang mendorong seorang libertarian mempertahankan hak-hak individu.
Kewajiban-kewajiban yang disebut di atas adalah universal, bagaimana pula dengan kewajiban-kewajiban “khusus”? Ketika menulis artikel ini, saya sedang duduk di sebuah kedai kopi dan memesan secangkir kopi lagi. Saya sudah menjalankan kewajiban untuk membayar kopi yang saya minum dengan bebas: saya sudah mentransfer hak kepemilikan saya atas sejumlah uang kepada pemilik kedai kopi, dan ia sudah mentransfer hak kepemilikannya atas secangkir kopi kepada saya. Kalangan Libertarian biasanya menyatakan bahwa kewajiban tertentu, paling tidak dalam situasi yang normal, harus terbentuk melalui persetujuan; kewajiban itu tidak bisa dipaksakan secara sepihak kepada yang lain. Kesetaraan hak berarti bahwa sebagian orang tak boleh secara sewenang-wenang memaksakan kewajiban kepada orang lain, karena kuasa moral dan hak orang-orang itu akan ternodai. Sementara itu, kalangan komunitarian menyatakan bahwa kita semua lahir dengan kewajiban-kewajiban tertentu, seperti memberikan banyak uang, pengabdian atau bahkan hidup kepada satu badan yang disebut negara, bangsa, komunitas, atau kelompok. Bagi komunitarian, kewajiban pada badan-badan ini bisa dipaksakan. Malah, menurut orang-orang seperti Taylor dan Sandel, saya menjadi seorang manusia, bukan hanya karena cara saya diasuh atau pengalaman saya, tetapi juga karena seperangkat kewajiban yang sudah dipilih untuk saya.
Saya ulang, komunitarian berpendapat bahwa kita menjadi manusia karena kewajiban kita, dan karenanya kewajiban itu bukan pilihan. Meski demikian, ini hanyalah pernyataan dan tidak bisa menjadi alasan bahwa seseorang itu memiliki kewajiban kepada orang lain; ini bukan justifikasi untuk melakukan paksaan. Kita sebetulnya juga bisa bertanya, jika seseorang dilahirkan dengan kewajiban yang harus ia patuhi, siapa yang dilahirkan dengan hak untuk memerintah? Jika seseorang menginginkan teori yang koheren mengenai kewajiban, seharusnya ada seseorang, baik individu atau kelompok, dengan hak atas pemenuhan kewajiban. Jika saya menjadi seorang manusia karena kewajiban yang harus saya patuhi, siapa yang menjadi seorang manusia karena hak untuk dipatuhi? Teori kewajiban seperti itu mungkin koheren di zaman raja-raja yang bertindak atas nama Tuhan, tapi nampaknya ia tak relevan dalam dunia modern. Kesimpulannya, tiada ada orang rasional yang akan percaya adanya individu yang abstrak, dan perselisihan sebenarnya antara libertarian dengan komunitarian adalah bukan mengenai individualisme, tetapi mengenai sumber bagi kewajiban tertentu, apakah dipaksakan atau dilaksanakan dengan bebas.

Kelompok dan Kebaikan Bersama

Teori kewajiban yang berfokus pada individu tidak berarti bahwa tidak ada yang disebut dengan masyarakat atau kita tidak bisa berbicara secara berarti mengenai kelompok. Fakta bahwa pohon itu ada tidak menghalangi kita untuk berbicara mengenai hutan. Masyarakat bukan sekedar kumpulan individu, ia bukan pula sesuatu yang “lebih besar atau lebih baik” yang terpisah dari individu. Seperti halnya satu bangunan, ia bukan tumpukan batu bata, tetapi ia adalah batu bata dan hubungan di antara mereka; masyarakat bukanlah seorang manusia, dengan hak-haknya sendiri, tapi ia terdiri dari banyak individu dan seperangkat hubungan yang rumit di antara mereka.
Dengan refleksi sekejap saja, jelaslah klaim bahwa libertarian menolak “nilai-nilai bersama” dan “kebaikan bersama” itu tidak koheren. Jika kalangan libertarian sama-sama percaya pada nilai kebebasan (minimalnya), mereka dengan demikian tidak bisa menolak adanya “nilai-nilai bersama”. Bila kalangan liberatarian percaya bahwa kita akan lebih baik bila kita menikmati kebebasan, mereka dengan demikian masih percaya dengan “kebaikan bersama,” karena bagian utama dari upaya mereka adalah untuk menegaskan apa yang dimaksud dengan “kebaikan bersama” itu. Sebagai respon terhadap klaim Kirk bahwa kalangan libertarian menolak tradisi, saya nyatakan bahwa mereka justru mempertahankan tradisi kebebasan yang merupakan buah dari sejarah umat manusia ribuan tahun lamanya. Lagipula, tradisionalisme murni itu tidak koheren, karena tradisi mungkin berbenturan dan akhirnya kita kehilangan panduan bagi tindakan yang benar. Jadi secara umum, pernyataan bahwa libertarian itu “menolak tradisi” itu garing dan absurd. Libertarian mengikuti tradisi agama, tradisi keluarga, tradisi etnis, dan tradisi sosial lainnya seperti sopan santun dan menghormati sesama, yang nampaknya bukan tradisi yang dalam pandangan Kirk perlu dipelihara.
Argumen libertarian mengenai kebebasan individu, yang sudah didistorsi sedemikian rupa oleh para pengeritik dari kalangan Komunitarian, adalah sederhana dan rasional. Jelas bahwa individu yang berbeda membutuhkan hal yang berbeda untuk dapat hidup dengan baik, sehat dan terhormat. Meski manusia ini mempunyai fitrah yang sama, masing-masing mereka berbeda baik dari segi materi maupun jumlah, dan kita memiliki kebutuhan yang berbeda. Jadi, seluas manakah wilayah “kebaikan bersama” itu?
Karl Marx, pengeritik awal libertarianisme nan cerdas dan pedas dari kalangan komunitarian mengatakan bahwa masyarakat sipil (civil society) adalah berdasarkan “pemecahan manusia” sehingga “esensi manusia tidak lagi ada dalam komunitas melainkan dalam perbedaan”; sebaliknya, ujar Marx, di bawah sosialisme, manusia akan menyadari fitrahnya sebagai satu “spesies.” Sosialis percaya bahwa perencanaan kolektif atas segala sesuatu itu pantas; dan dalam negara yang benar-benar sosialis, kita semua akan menikmati kebaikan bersama secara bersama-sama dan konflik pun tidak akan terjadi. Kalangan komunitarian biasanya lebih hati-hati. Tetapi, meski banyak bicara, mereka jarang memberitahu kita mengenai apa kebaikan bersama itu. Filosof komunitarian, Alasdair MacIntyre, misalnya, dalam bukunya yang berpengaruh, After Virtue, menyatakan dalam 219 halaman bahwa ada “hidup yang baik untuk manusia” yang harus diraih bersama-sama dan secara jelek menyimpulkan bahwa “hidup yang baik bagi seorang manusia adalah hidup yang digunakannya untuk kebaikan hidup manusia lain.”
Kalangan komunitarian biasanya mengklaim bahwa menyediakan pensiun melalui negara adalah elemen kebaikan bersama, karena pensiun itu akan “menyatukan kita semua.” Tapi siapa yang termasuk dalam “kita semua” itu? Data aktuari menunjukkan bahwa lelaki Amerika keturunan Afrika yang membayar pajak yang sama kepada sistem Social Security (asuransi sosial yang dikelola pemerintah Amerika Serikat untuk orang lanjut usia, veteran atau orang cacat, pen.) selama masa kerjanya hanya mendapatkan setengah dari yang didapat oleh lelaki kulit putih. Selain itu, lebih banyak lelaki kulit hitam daripada kulit putih yang akan mati sebelum mendapatkan sepeser uang yang mereka simpan, yang berarti bahwa uang mereka digunakan untuk kepentingan orang lain dan tidak tersedia untuk keluarga mereka. Dengan kata lain, mereka dirampok untuk kebaikan pensiunan orang non-kulit hitam. Jadi, apakah lelaki kulit hitam Amerika adalah bagian dari “kita semua”, yang menikmati kebaikan bersama, atau mereka adalah korban dari “kebaikan bersama” yang lain? (Pembaca majalah ini harus tahu bahwa semuanya akan menjadi lebih baik dalam sistem yang diprivatisasi dan ini yang mendorong libertarian untuk menegaskan bahwa “kebaikan bersama” di sini ialah kebebasan untuk memilih dari berbagai sistem pensiunan yang ada). Seringkali klaim mengenai “kebaikan bersama” digunakan sebagai alasan untuk menutupi upaya-upaya untuk mengamankan kepentingan pribadi; seperti yang dicatat oleh novelis terkenal dari Austria, Robert Musil, dalam karyanya The Man without Qualities (Manusia tanpa Kualitas), “Sekarang ini hanya kriminal yang berani menyakiti orang lain tanpa filsafat.”
Libertarian mengakui pluralisme dunia modern dan karenanya menyatakan bahwa kemerdekaan individu adalah paling tidak merupakan bagian dari kebaikan bersama. Mereka juga memahami pentingnya kerjasama untuk meraih tujuan individu; individu yang soliter sesungguhnya tidak akan pernah benar-benar “mandiri,” karena itulah kita harus memiliki aturan mengenai hak milik dan kontrak, misalnya, agar kerjasama yang damai bisa terjadi dan kita melembagakan pemerintahan untuk melaksanakan aturan-aturan itu. Kebaikan bersama adalah sistem peradilan yang memungkinkan kita untuk hidup secara harmonis dan damai; kebaikan bersama cenderung menjadi lebih luas sehingga ia bukan lagi menjadi kebaikan bersama bagi “kita semua,” tapi kebaikan bersama bagi sebagian kita dengan mengorbankan yang lain. (Ada pengertian lain bagi istilah “mandiri” yang biasanya difahami oleh setiap orang tua. Orang tua biasanya menginginkan agar anak-anaknya agar bisa “menjaga dan mencukupi diri” dan tidak menjadi beban atau benalu karena itu akan membuat sang anak menghargai dirinya sendiri. Sayangnya Taylor dan para pengeritik libertarianisme yang lain sering mengelirukan kemandirian dengan keadaan mustahil di mana manusia tak tergantung atau tak bekerjasama dengan yang lain).
Isu mengenai kebaikan bersama terkait dengan kepercayaan kalangan komunitarian mengenai personaliti atau eksistensi kelompok yang terpisah-pisah. Keduanya adalah bagian dari pandangan politik yang tak ilmiah dan irasional yang cenderung untuk mempersonifikasi lembaga atau kelompok, seperti negara, bangsa atau masyarakat. Bukannya memperkaya ilmu politik dan menghindari tuduhan tak berdasar terhadap konsep individualisme libertarian, tesis mengenai personifikasi ini justru mengaburkan persoalan dan mencegah kita untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan menarik yang akan mendorong pencarian ilmiah. Tak ada yang lebih baik dalam menggambarkan kenyataan ini dari sejarawan liberal klasik, Parker T. Moon dari Columbia University dalam kajiannya mengenai imperialisme Eropa pada abad ke-19, Imperialism and World Politics (Imperialisme dan Politik Dunia):
“Bahasa seringkali mengaburkan kebenaran. Lebih dari yang kita biasa sadari, mata kita terbutakan oleh trik lidah dalam soal fakta-fakta mengenai hubungan internasional. Ketika seseorang menggunakan kata “Perancis”, ia berfikir Perancis sebagai sebuah kesatuan, sebagai entiti. Untuk menghindari pengulangan, kita biasanya menggunakan kata ganti orang untuk merujuk pada negara itu dengan mengatakan misalnya, “Perancis mengirim tentaranya untuk menaklukkan Tunis”. Dengan melakukan itu, kita telah memberikan tak hanya kesatuan tetapi juga personaliti pada negara. Kata-kata itu menyembunyikan fakta dan membuat hubungan internasional menjadi drama yang glamor di mana bangsa yang diperlakukan seperti seorang manusia menjadi aktornya, dan kita pun lupa mengenai manusia sesungguhnya, baik perempuan atau lelaki, yang menjadi aktor sesungguhnya dalam peristiwa itu. Betapa berbedanya jika kita tak punya kata seperti “Perancis”, dan karenanya harus mengatakan “tiga puluh delapan juta lelaki, perempuan, dan anak-anak yang memiliki ketertarikan dan kepercayaan yang berbeda yang tinggal di sebuah kawasan seluas 218.000 mil persegi! Kita pun dengan demikian harus mendeskripsikan Ekspedisi Tunis itu dengan akurat dengan pernyataan seperti ini: “Sebagian kecil dari tiga puluh delapan juta orang ini mengirim tiga puluh ribu di antara mereka untuk menaklukkan Tunis.” Dengan menghadirkan fakta seperti ini banyak pertanyaan pasti muncul: Siapakah sebagian kecil itu? Mengapa mereka mengirim tiga puluh ribu orang ke Tunis? Dan mengapa yang tiga puluh ribu orang ini patuh?”
Personifikasi kelompok mengaburkan, bukannya menjelaskan, masalah-masalah politik yang penting. Masalah-masalah itu, kebanyakan seputar penjelasan mengenai fenomena politik yang rumit dan tanggungjawab moral, benar-benar tidak bisa dijelaskan dalam batas-batas personifikasi kelompok, karena ia justru menaikkan tabir mistisisme di sekitar tindakan pembuat kebijakan hingga memungkinkan sebagian dari mereka untuk menggunakan “filsafat”—dan filsafat mistik—untuk membahayakan orang lain.
Libertarian terpisah dari komunitarian karena perbedaan-perbedaan dalam isu-isu yang penting, terutama mengenai penting atau tidaknya paksaan untuk memelihara komunitas, solidaritas, pertemanan, cinta dan hal-hal lainnya yang membuat hidup lebih bermakna dan bisa dinikmati bersama-sama dengan yang lain. Perbedaan-perbedaan itu tidak bisa dihilangkan begitu saja; dan tidak akan bisa diselesaikan dengan melakukan distorsi, karakterisasi yang absurd, atau pelabelan.

Artikel ini terbit dalam Cato Policy Report edisi September/Oktober 1996.

Tag , .

Kenali AkademiMerdeka.org

AkademiMerdeka.org ialah satu projek pendidikan ide-ide libertarianisme dalam Bahasa yang dijalankan oleh Atlas Global Initiative for Free Trade, Peace and Prosperity.

Langgan feed RSS

Ikuti melalui Twitter

Sertai kami di Facebook

Kenali kami sepenuhnya »

© 2012 AkademiMerdeka.org