Sejak akhir Perang Dunia II, keadaan keamanan global telah menjalani sejumlah perubahan besar yang penyebabnya baru sedikit diteliti–bahkan oleh analis keamanan.

Jumlah perang keseluruhan–baik perang antar bangsa maupun perang saudara–yang terjadi di dunia naik tiga kali lipat selama tahun-tahun Perang Dingin, kemudian turun drastis. Sayangnya, penurunan ini tidak dirayakan-bahkan oleh PBB.

Faktor-faktor yang menyebabkan penurunan ini mungkin bisa dipertahankan atau bahkan ditingkatkan di tahun-tahun ke depan, hingga kita bisa lebih sedikit optimis, meski tetap hati-hati, mengenai kondisi keamanan dunia di masa yang akan datang.

Sebagian besar peningkatan jumlah konflik sejak akhir Perang Dunia II hingga akhir Perang Dingin disebabkan oleh merebaknya konflik di dalam negeri (perang saudara). Tetapi Perang Dingin, jumlah perang–yang hampir kesemuanya merupakan perang dalam negeri–turun drastis. Pada 2008, jumlah perang yang terjadi hanya satu pertiga dari perang yang terjadi pada 1992.

Sejak 2003 hingga 2008, jumlah konflik secara keseluruhan naik sekitar 25 persen. Ini bisa dijelaskan oleh meningkatnya jumlah konflik kecil yang membunuh hanya sedikit orang. Tetapi jumlah perang berskala besar, yang korbannya bisa mencapai 1000 orang atau lebih dalam setahun, terus menurun. Pada 2008, jumlah perang seperti ini 78 persen lebih sedikit daripada di tahun 1980an.

Sayangnya, tidak ada kajian panjang untuk menjelaskan mengapa penurunan jumlah perang yang luar biasa ini–yang sebagian besarnya adalah perang saudara–bisa terjadi.

Kenapa perang semakin tidak terlalu mematikan?
Perang yang terjadi pada 1950an rata-rata membunuh 10.000 orang dalam satu tahun; pada milenium baru ini, perang hanya membunuh rata-rata kurang dari seribu orang.

Penurunan yang luar biasa, namun tak merata, jumlah korban meninggal dalam perang disebabkan salah satunya oleh penurunan jumlah perang antar bangsa yang panjang jangka waktunya. Perang antar bangsa sementara ini membunuh lebih banyak orang daripada perang saudara. Penurunan ini juga disebabkan oleh menurunnya campur tangan militer negara-negara adidaya, baik langsung maupun tidak langsung, dalam perang yang dialami negara lain, padahal campur tangan seperti ini menjadi ciri perang besar yang terjadi pada masa Perang Dingin. Perang-perang tersebut–baik Perang Saudara di Cina, Perang Korea, Perang Vietnam, serta invasi dan pendudukan Soviet di Afghanistan–mempertemukan dua tentara yang berjumlah besar, dengan salah satunya, paling tidak, dilengkapi dengan persenjataan berat–pesawat terbang penyerang, tank, alat penembak jarak jauh dan yang sejenisnya. Korban mati bisa mencapai lebih dari satu juta orang.

Pada masa paska Perang Dingin, perang lebih banyak terjadi di dalam negara, bukan antarnegara, dan terjadi antara tentara yang jumlahnya kecil, yang sebagian besarnya hanya dilengkapi dengan persenjataan kecil dan ringan. Meski banyak tindakan brutal dilakukan terhadap warga sipil, perang-perang ini tidak membunuh orang sebanyak perang besar yang terjadi pada masa Perang Dingin.

Bukan hanya jumlah kematian dalam pertempuran yang menurun, kematian akibat memburuknya penyakit dan kekurangan nutrisi dalam perang juga menurun dengan adanya kemajuan dalam pelayanan kesehatan masyarakat, terutama imunisasi yang berhasil menurunkan tingkat kematian orang tua dan anak-anak di negara-negara berkembang secara drastis pada 30 tahun terakhir ini. Peningkatan ini tidak hanya mengurangi tingkat kematian pada masa damai dengan stabil, tetapi juga menyelamatkan banyak nyawa pada masa perang.

Selain itu, bantuan kemanusiaan bagi penduduk yang negaranya terlibat perang semakin meningkat baik dari segi jumlah, jangkauan maupun efektivitasnya. Bantuan ini semakin menurunkan jumlah korban mati dalam peperangan.

Bisakah kita optimis dengan kecendrungan baru ini?
Penemuan ini mengetengahkan gambar yang berbeda dengan gambaran umum–utamanya dari media–bahwa dunia ini yang kita tinggali ini semakin dipenuhi kekerasan. Tetapi penemuan ini juga memunculkan pertanyaan lain: bisakah data ini diandalkan? Ada jawaban pendek untuk pertanyaan ini: kita bisa percaya dengan jumlah konflik, tetapi jumlah korban dalam peperangan memang kurang bisa diandalkan. Klaim jumlah korban kadang dilebih-lebihkan karena alasan politik, tetapi bisa juga tidak terhitung dengan selayaknya–terutama di negara-negara miskin. Tetapi, tak ragu lagi bahwa dalam 50 tahun ini kematian dalam peperangan kecendrungannya semakin menurun–tak ada akademisi yang bisa menolak bahwa rata-rata perang masa kini tidak semematikan perang pada masa Perang Dingin.

Memperkirakan tren keamanan masa depan memang cukup berbahaya, kita bisa ingat kegagalan komunitas pengkaji keamanan hampir di seluruh dunia dalam memperkirakan akhir Perang Dingin. Tetapi, meski data-data statistik tak cukup untuk memperkirakan secara pasti kapan dan dimana perang akan bermula, sudah ada kemajuan besar dalam memahami kondisi, dinamika dan kebijakan yang meningkatkan–dan menurunkan–resiko sebuah negara terjerumus dalam perang.

Kajian untuk memahami faktor-faktor yang bisa mencegah atau menghentikan perang lebih sedikit daripada kajian untuk memahami penyebab perang. Ironis memang. Tapi begitulah. Begitu banyak perhatian, kadang berlebihan, diberikan untuk memahami resiko perang dan terorisme, tetapi tak ada seorang pun yang berbicara soal uang sebesar kira-kira 1.5 triliun dolar yang dibelanjakan untuk keperluan militer di seluruh dunia. Sejarawan Australia dengan tepat menyatakan, “Dari setiap seribu halaman mengenai penyebab perang hanya kurang dari satu halaman yang menjelaskan langsung penyebab perdamaian.”

Untuk memahami penyebab perdamaian paska Perang Dunia II, paling tidak, kita mesti menjelaskan penyebab turunnya konflik internasional sejak tahun 1950-an dan menurunnya jumlah perang saudara sejak akhir Perang Dingin.

Menjelaskan penurunan insiden konflik internasional dalam 60 tahun
Pada 1950-an, rata-rata ada lebih dari enam konflik internasional terjadi di dunia setiap tahun, termasuk perang anti-penjajahan. Pada milenium baru ini, rata-rata kurang dari satu konflik internasional terjadi setiap tahunnya, seperti yang terlihat dalam Grafik 3.

Lagipula, tak pernah ada lagi perang antara negara-negara adidaya dalam 60 tahun terakhir ini. Ini tidak berarti bahwa negara-negara ini anti-perang. Tidak sama sekali. Malah Perancis, Inggris, Amerika Serikat, dan Rusia menduduki peringkat paling atas di antara negara- negara yang terlibat dalam perang sejak 1946, meski sebagian besar dari perang itu dilakukan di negara-negara miskin dan bukan untuk melawan negara adidaya lainnya.

Konflik internasional tidak hanya menurun dalam jumlah, tetapi juga menjadi kurang mematikan. Pada 1950-an, konflik internasional membunuh rata-rata 20.000 orang dalam pertempuran per tahun. Pada periode paska Perang Dingin di tahun 1990an, rata-rata tingkat kematian akibat pertempuran per tahun menjadi kurang dari 6.000 orang; sementara pada milenium baru ini, jumlah tersebut menurun menjadi 3.000.

Sarjana-sarjana hubungan internasional sudah memberikan sejumlah penjelasan-yang saling berlainan-mengenai penyebab perang dan perdamaian pada zaman nuklir ini. Meski banyak debat terjadi antara pendukung teori yang berlainan ini, teori-teori tersebut sebetulnya saling melengkapi.

Perdamaian karena nuklir?
Bagi akademisi mazhab “realis”, tiadanya perang antara negara-negara adidaya selama Perang Dingin bisa dijelaskan dengan adanya kekuasaan yang seimbang dan stabil antara Timur dan Barat– terutama karena efek pencegah yang dihasilkan dari kepemilikan senjata nuklir dengan kapasitas serangan balasan yang setara kuatnya atau lebih (second strike capability).

Kenneth Waltz, pendukung utama teori dampak pendamai dari senjata nuklir, menyatakan, ”Perdamaian telah menjadi hak istimewa negara-negara yang memiliki senjata nuklir, sementara perang diderita oleh mereka yang tidak memilikinya.”

Sementara senjata nuklir tak ragu lagi membuat negara-negara adidaya dan sekutunya saling mengawasi perilaku mereka, pernyataan Waltz tadi tak sepenuhnya benar karena dua alasan.

Pertama, tak sedikit negara-negara yang memiliki senjata nuklir terlibat dalam perang. Keempat negara yang terlibat dalam perang internasional sejak akhir Perang Dunia II (Perancis, Inggris, Amerika dan Rusia) adalah negara-negara yang memiliki senjata nuklir.

Kedua, sejak akhir Perang Dunia II, negara-negara yang tidak memiliki senjata nuklir telah berulangkali menyerang negara-negara yang memiliki nuklir. Senjata nuklir Amerika Serikat tidak mencegah Cina untuk menyerang tentara Amerika dalam Perang Korea, pun tak mencegah Vietnam Utara untuk menyerang Vietnam Selatan dan tentara AS pada tahun 1960an. Senjata nuklir Israel tidak mencegah Mesir untuk menyerang negara itu pada 1973. Senjata nuklir Inggris tidak mencegah Argentina untuk menginvasi Kepulauan Falkland pada 1982, dan persenjataan nuklir Soviet tidak mencegah kelompok Mujahidin untuk mengobarkan perang melawan tentara mereka di Afghanistan pada 1980an–pun tak menghindarkan Soviet dari kekalahan.

Perdamaian melalui demokratisasi dan kesalingtergantungan
Para akademisi “Liberal”, yang punya pandangan yang kurang pesimistik tentang fitrah dan lembaga manusia dibanding “realis”, percaya bahwa terjadinya perang antarnegara semakin berkurang sejak akhir Perang Dunia II karena semakin meningkatnya jumlah negara demokrasi di dunia dan kesalingtergantungan dalam bidang ekonomi.

Teori akademisi liberal yang paling terkenal adalah “perdamaian melalui demokrasi”, yang isinya, yang paling utama dan belum terbantahkan, adalah bahwa negara-negara demokratis tidak pernah, atau lebih tepatnya, hampir tidak pernah, akan menyerang satu sama lain.

Pendukung teori ini tidak mengatakan bahwa negara-negara demokrasi itu cinta damai–karena negara-negara ini bisa berperang dengan negara-negara yang tidak demokratis, teori ini hanya menyatakan bahwa negara-negara demokratis tidak saling berperang. Jika teori ini benar, peningkatan drastis jumlah negara demokratis di dunia ini dalam tiga dekade terakhir akan mengurangi jumlah negara di dunia yang berpotensi untuk saling berperang.

Akademisi liberal lainnya kurang menekankan dampak demokrasi dalam mengurangi konflik dan lebih menekankan dampak dari semakin meningkatnya kesalingtergantungan dalam ekonomi yang menglobal sekarang ini terhadap keamanan.

Kesalingtergantungan membuat biaya perang menjadi mahal, dan mengurangi keuntungannya. Sebuah kajian yang dilakukan Cato Institute menyatakan bahwa ketika variabel demokratisasi dan liberalisasi ekonomi diperhitungkan dalam analisis statistik, “kebebasan ekonomi 50 kali lebih efektif daripada demokrasi dalam mengurangi konflik berat.”

Debat para ahli penelitian kuantitatif, mengenai dampak relatif dari demokrasi dan kesalingtergantungan ekonomi terhadap perang, tak terselesaikan dan terlalu teknis. Meski demikian, tak banyak yang menolak asumi bahwa naiknya jumlah perdagangan internasional dan penanaman modal luar negeri berkait kelindan dengan turunnya resiko perang.

Tetapi, meningkatnya kesalingtergantungan bukan satu-satunya dampak kegiatan ekonomi yang bisa mengurangi resiko perang. Di era modern ini keuntungan ekonomi dari menyulut peperangan tak sebesar pada masa penjajahan. Sekarang ini, membeli bahan baku mentah dari negara lain lebih murah–secara politik dan ekonomi–daripada melakukan invasi untuk menguasai negara tersebut.

Perdamaian melalui Ide: Perubahan sikap terhadap perang
Pada abad ke 21 manfaat ekonomi dari penaklukan tak sepenuhnya hilang, tetapi menyulut perang telah menjadi alat kenegaraan yang secara hukum dan normatif hanya boleh dilakukan untuk mempertahankan diri, atau dengan izin dari Dewan Keamanan PBB.

Perubahan dalam norma global ini terlihat jelas dalam pengakuan universal terhadap ketidaksahan penaklukan untuk tujuan penjajahan dan tiadanya pemerintahan di dunia ini yang hiper-nasionalisme dan agresif seperti pemerintah Jerman dan Pemerintah Fasis Jepang sebelum Perang Dunia II. Apa yang disebut bellicisme–pengagungan peperangan–telah menghilang sepenuhnya dari negara maju dan sangat jarang ditemukan di bagian dunia lain–meski sekarang ini menjadi ciri sejumlah organisasi radikal Islam seperti al-Qaeda.

Pentingnya norma anti-perang tak menegasikan fakta bahwa kadang-kadang norma itu dilanggar. Semua norma pada tahap tertentu bisa dilanggar, tetapi itu tak berarti norma tersebut tak berguna.

Andrew Mack adalah Direktur Human Security Report Project di Universitas Simon Fraser sekaligus dosen di Jurusan Hubungan Internasional di universitas tersebut. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Perencanaan Strategis di Kantor Sekertaris Jenderal PBB pada 1998-2001 ketika Kofi Annan sedang menjabat.

Diterjemahkan dari http://www.cato-unbound.org/2011/02/07/andrew-mack/a-more-secure-world/

FacebookTwitterGoogle+Share