18/05/2011

Pajak Progresif dan Ketidaksetaraan

Pajak Progresif dan Ketidaksetaraan [i]

Ekonomi pasar atau kapitalisme adalah sistem yang berdasar pada kepemilikan swasta atas alat-alat produksi dan usaha swasta. Konsumen, dengan membeli atau tidak membeli, adalah yang menentukan apa yang harus diproduksi, seberapa banyak dan seberapa bagus. Pengusaha yang mengikuti keinginan konsumen akan beruntung, sementara yang tidak mengikuti keinginan utama konsumen tidak akan mendapat untung. Laba didapat oleh orang yang menggunakan faktor-faktor produksi untuk memuaskan kepentingan utama konsumen, sementara kerugian adalah bagi mereka yang tidak dapat melakukan itu. Dalam ekonomi pasar yang tidak dikotak-katik oleh pemerintah, pemilik properti adalah mandataris konsumen. Di pasar setiap harinya ada pemungutan suara untuk menentukan siapa memiliki apa dan berapa banyak. Sekali lagi, konsumenlah yang membuat sebagian orang kaya dan sebagian lain miskin.

Ketidaksetaraan kekayaan dan pendapatan adalah ciri penting ekonomi pasar. Ia adalah alat yang membuat konsumen menjadi raja dengan memberi mereka kekuasaan untuk memaksa semua yang terlibat dalam produksi untuk memenuhi perintah mereka. Ia memaksa semua yang terlibat dalam produksi untuk memberikan yang terbaik bagi konsumen. Ini yang melahirkan kompetisi. Yang memberikan yang terbaik kepada konsumen mendapatkan keuntungan lebih banyak dan menjadi kaya.

Dalam tipe masyarakat yang disebut oleh Adam Ferguson, Saint-Simon dan Herbert Spencer (1820-1903) sebagai masyarakat militeristik atau yang kita sebut sekarang sebagai masyarakat feodal, tanah dapat dimiliki secara pribadi karena adanya pemberontakan berdarah atau karena ada derma dari panglima perang yang menang. Sebagian orang memiliki lebih, sebagian lain kurang, dan sebagian lain sama sekali tidak memiliki apa-apa karena pemimpin dalam masyarakat itu menentukan demikian. Dalam masyarakat seperti itu, benar mengatakan bahwa tuan tanah menjadi kaya karena ada orang miskin yang tak memiliki tanah.

Tapi beda halnya dengan ekonomi pasar. Usaha yang besar tidak merugikan, justru meningkatkan kondisi hidup yang lain. Para miliuner mendapatkan kekayaan mereka karena menyediakan benda-benda yang sebelumnya tidak dapat dimiliki oleh sebagian orang. Jika hukum melarang mereka untuk menjadi kaya, kita harus rela untuk hidup tanpa fasilitas dan alat-alat yang sekarang ini sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Orang Amerika menikmati standar hidup tertinggi dalam sejarah dunia karena selama bergenerasi-generasi kita tidak berusaha untuk “menyamaratakan” atau “mendistribusikan” kekayaan. Ketidaksetaraan kekayaan dan pendapatan melahirkan kesejahteraan, bukan penderitaan. Ketika ada tingkat kesetaraan yang lebih rendah, berarti ada juga standar hidup yang lebih rendah.

Tuntutan untuk “Mendistribusikan”

Dalam pendapat para demagog, ketidaksetaraan (kesenjangan) “distribusi” kekayaan dan pendapatan adalah keburukan yang paling terkeji. Keadilan mengharuskan adanya distribusi yang setara. Karenanya, adalah adil dan bijak mengambil harta berlebih orang kaya atau sebagiannya dan memberikannya kepada yang kurang berpunya. Filsafat ini mengandaikan kebijakan seperti ini takkan mengurangi jumlah barang yang diproduksi. Bahkan jika pun ya, jumlah yang ditambahkan pada kemampuan rata-rata untuk membeli jauh lebih kecil dari yang diasumsikan oleh anggapan umum. Kenyataannya, kemewahan orang kaya hanya bagian kecil saja dari keseluruhan konsumsi negara ini. Sebagian besar pendapatan orang kaya tidak dihabiskan untuk konsumsi, tetapi untuk disimpan dan diinvestasikan. Inilah yang justru menyebabkan orang semakin kaya. Jika dana yang semestinya digunakan oleh pengusaha untuk membiayai sektor-sektor produktif diambil oleh negara untuk kepentingannya atau untuk kepentingan konsumsi kelompok masyarakat lain, akumulasi kapital menjadi terhambat dan mungkin terhenti. Jika sudah demikian, tak akan ada peningkatan ekonomi, kemajuan teknologi, dan meningkatnya standar hidup rata-rata.

Ketika Marx dan Engels dalam Manifesto Komunitas merekomendasikan “pajak penghasilan progresif” dan “penghapusan hak waris” sebagai cara untuk “menyita semua modal dari tangan borjuis secara berangsur-angsur,” mereka konsisten dengan tujuan akhir yang ingin mereka capai yaitu menggantikan ekonomi pasar dengan sosialisme. Mereka sadar betul dengan akibat dari kebijakan-kebijakan ini. Mereka dengan terbuka menyatakan bahwa cara-cara itu “riskan secara ekonomi” dan mereka menganjurkannya karena “cara-cara ini akan membukakan jalan” bagi terciptanya tatanan sosialis, dan “satu-satunya cara untuk merubah total mode produksi,” atau dengan kata lain untuk mewujudkan sosialisme.

Tapi beda halnya jika cara-cara yang dianggap oleh Marx dan Engels sebagai “riskan secara ekonomi” ini direkomendasikan oleh orang yang berpura-pura ingin mempertahankan ekonomi pasar dan kebebasan ekonomi. Politisi setengah-setengah ini, jika tidak orang munafik yang ingin mewujudkan sosialisme dengan menyembunyikan tujuan ril mereka dari orang lain, adalah orang pandir yang tak tahu apa yang mereka bicarakan. Pajak progresif terhadap penghasilan dan tanah tidak sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi pasar.

Politisi setengah-setengah akan berargumen seperti ini: “Tak ada alasan bagi pengusaha untuk mengendurkan usahanya hanya karena ia tahu bahwa keuntungan yang didapatnya tidak akan memperkaya dirinya tapi akan menguntungkan semua orang. Bahkan meski jika ia bukan dermawan yang tak peduli dengan uang dan bekerja untuk kebaikan semua orang secara sukarela, ia takkan punya motif untuk mengganti kinerjanya yang efektif dengan yang kurang efektif. Tak benar bahwa satu-satunya insentif yang menggerakan roda industri adalah ketamakan. Mereka mesti terdorong oleh ambisi untuk membuat produk mereka sempurna.”

Konsumen adalah Raja

Argumen yang diajukan oleh politisi setengah-setengah di atas jelas-jelas tak tepat. Yang paling penting bukan perilaku pengusaha tetapi supremasi konsumen. Katakanlah pengusaha berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkan konsumen meski mereka tak mendapatkan keuntungan dari usaha itu. Mereka akan melakukan apa yang menurut mereka terbaik untuk konsumen. Tapi jika demikian, bukan konsumen yang menentukan apa yang mereka dapat, konsumen harus mengambil apa yang pengusaha percaya merupakan yang terbaik bagi mereka. Jika demikian, bukan konsumen yang jadi raja, tetapi pengusaha. Konsumen tak lagi mempunyai kekuasaan untuk mempercayakan kontrol terhadap produksi kepada pengusaha yang produknya paling mereka sukai dan untuk menempatkan pengusaha yang produknya tidak begitu mereka sukai pada posisi yang lebih rendah dalam sistem.

Jika undang-undang mengenai pajak laba perusahaan, pajak penghasilan individu dan pajak warisan di Amerika sekarang diberlakukan enam puluh tahun lalu, semua produk baru yang penggunaannya menyebabkan peningkatan standar hidup “orang biasa” takkan dapat diproduksi, atau hanya diproduksi dalam jumlah kecil untuk kepentingan segelintir orang saja. Perusahaan Ford tidak akan ada, jika laba yang baru diraih Henry Ford langsung dikenakan pajak. Struktur bisnis kita dari tahun 1895 pun masih akan bertahan. Akumulasi modal mungkin akan berhenti atau paling tidak benar-benar melambat. Perluasan produksi akan tertinggal jauh dari penambahan jumlah penduduk. Tak perlu kita berpanjang-panjang bicara soal akibat dari kondisi seperti itu.

Laba dan rugi memberitahu pengusaha apa yang paling dibutuhkan oleh konsumen. Dan hanya dengan laba, pengusaha dapat menyesuaikan aktivitas usahanya dengan permintaan konsumen. Jika laba ini disita, pengusaha terhambat untuk menuruti keinginan konsumen. Ekonomi pasar pun kehilangan roda pemutarnya, ia hanya menjadi gundukan yang tak berguna.

Orang hanya bisa mengkonsumsi apa yang sudah diproduksi. Masalah besar zaman kita sekarang ini adalah: Siapa yang harus menentukan apa yang diproduksi dan apa yang harus dikonsumsi, rakyat atau negara, konsumen sendiri atau pemerintah? Jika anda memilih konsumen, berarti anda memilih ekonomi pasar. Jika anda memilih pemerintah, berarti anda memilih sosialisme. Tak ada jalan ketiga. Tetapnya tujuan yang akan dicapai oleh masing-masing faktor produksi tak bisa dipisah-pisah.

Tuntunan untuk menyamaratakan

Sebagai raja, konsumen berkuasa untuk menyerahkan kendali atas faktor material produksi dan juga aktivitas produksi kepada mereka yang dapat melayani mereka dengan cara yang paling efisien. Ini berarti ada ketidaksetaraan kekayaan dan pendapatan. Jika seseorang ingin bebas dari ketidaksetaraan, ia harus mengabaikan kapitalisme dan memilih sosialisme. (Masalah apakah sistem sosialis akan benar-benar memberikan kesamarataan pendapatan mesti diserahkan kepada analisis sosialisme.)
Tapi, katakanlah ada orang yang ingin mengambil jalan tengah, yang tak mau menghapuskan ketidaksetaraan seluruhnya, “kami hanya ingin mengurangi tingkat ketidaksetaraan, dari tinggi menjadi rendah.”

Orang-orang ini melihat ketidaksetaraan sebagai sesuatu yang buruk. Mereka tak mengakui bahwa ketidaksetaraan, yang dapat ditentukan oleh penilaian yang bebas dari kesewenang-wenangan dan evaluasi pribadi, adalah sesuatu yang baik dan mesti dipertahankan. Sebaliknya, mereka malah menyatakan bahwa ketidaksetaraan itu buruk dan cukup puas dengan menyatakan bahwa sedikit tak setara lebih baik daripada benar-benar tidak setara. Itu sama dengan mengatakan sedikit racun dalam tubuh manusia tak seberbahaya racun yang banyak.

Jika memang demikian, upaya-upaya menuju penyamarataan, logisnya, takkan pernah berhenti. Penentuan bahwa seseorang sudah mencapai tahap ketidaksetaraan yang cukup rendah hingga upaya penyamarataaan tak perlu lagi dilakukan hanya bisa ditentukan oleh penilaian pribadi yang cukup sewenang-wenang, bisa berbeda-beda satu sama lain, dan dapat berubah seiring waktu. Pendukung penyamarataan memuji tindakan mengambil dari yang kaya dan mendistribusikannya sebagai kebijakan yang hanya melukai sedikit orang (dalam hal ini orang yang dianggap oleh mereka sebagai orang “yang terlalu” kaya) dan bermanfaat bagi mayoritas. Pada saat yang sama, mereka tak dapat menolak argumen orang yang meminta lebih banyak dari kebijakan yang katanya bermanfaat ini. Selama masih ada ketidaksetaraan, akan selalu ada orang yang kedengkiannya mendorong pemberlakuan kebijakan penyamarataan. Tak ada yang bisa dilakukan untuk menghentikan mereka. Jika ketidaksetaraan kekayaan dan pendapatan adalah hal yang buruk, tak ada alasan untuk menerima seberapa rendah tingkatnya; penyamarataan tak boleh berhenti hingga kekayaan dan pendapatan semua orang setara.

Sejarah pengenaan pajak terhadap laba, penghasilan dan tanah di semua negara jelas menunjukkan bahwa ketika tujuan menyamaratakan diadopsi, sulit memeriksa kemajuan kebijakan penyamarataan ini. Jika saja pada saat Amandemen Keenam Belas diberlakukan seseorang sudah meramalkan bahwa beberapa tahun kemudian tingkat progresivitas pajak akan mencapai tingkat yang kita capai pada hari ini, para pendukung Amandemen tentulah akan menyebut orang itu gila. Jelas bahwa hanya sedikit saja anggota Congress (dewan perwakilan rakyat) yang akan sungguh-sungguh menentang semakin naiknya tingkat pajak progresif jika kenaikan itu diusulkan oleh Pemerintah atau oleh anggota Congress yang ingin terpilih kembali. Karena di bawah pengaruh doktrin yang diajarkan oleh para ekonom palsu kontemporer, semua orang, kecuali kelompok kecil saja, percaya bahwa mereka dirugikan hanya karena pendapatan mereka lebih rendah dari orang lain dan menghilangkan perbedaan ini bukanlah kebijakan yang buruk.

Tak ada gunanya membohongi diri sendiri. Kebijakan pajak kita sekarang sedang menuju penyamarataan kekayaan dan pendapatan, dan dengan demikian sedang menuju sosialisme. Kecendrungan ini hanya dapat dihentikan dengan memahami peran laba dan rugi serta bagaimana ketidaksetaraan kekayaan dan pendapatan yang disebabkannya berperan dalam ekonomi pasar. Orang harus memahami bahwa akumulasi kekayaan melalui kegiatan usaha yang sukses akan berimbas pada meningkatnya standar kehidupan mereka, dan sebaliknya. Mereka harus menyadari bahwa menjadi besar dalam bisnis itu tidak buruk, justru karena bisnis besarlah orang Amerika dapat menikmati apa yang disebut sebagai “cara hidup Amerika.”

—————-

i] Artikel ini ditulis pada 1955 ketika tarif pajak tertinggi mencapai 51.2% dari pendapatan
ii] Amandemen Keenam Belas terhadap Konstitusi Amerika memberikan hak kepada Congress untuk memberlakukan pajak pendapatan tanpa membagikannya kepada negara bagian atau mendasarkannya pada hasil sensus.

Tag .

Kenali AkademiMerdeka.org

AkademiMerdeka.org ialah satu projek pendidikan ide-ide libertarianisme dalam Bahasa yang dijalankan oleh Atlas Global Initiative for Free Trade, Peace and Prosperity.

Langgan feed RSS

Ikuti melalui Twitter

Sertai kami di Facebook

Kenali kami sepenuhnya »

© 2012 AkademiMerdeka.org