Amerika adalah bangsa yang paling makmur di dunia. Tak perlu kita berpanjang lebar mengenai hal ini. Tak ada yang akan menentangnya.

Tapi dalam iklim politik dan ideologi hari ini, yang kaya dianggap jahat. Orang umumnya melihat mereka yang lebih makmur dengan benci dan iri. Dan program New Deal (program ekonomi yang diluncurkan di Amerika antara 1933-1936 untuk mengurangi dampak Depresi Besar tahun 30an, pen.) mengukuhkan keburukan orang yang memiliki kekayaan melebihi orang kebanyakan dan memastikan pemerintah untuk menyamaratakan kekayaan dan pendapatan dengan sistem pajak yang menjerat.

Kemakmuran Amerika dalam Pandangan orang Non-Amerika
Kebanyakan orang Amerika gagal menyadari bahwa gagasan yang membentuk bias anti-kapitalis dalam kebijakan dalam negeri mereka juga menentukan sikap bangsa lain terhadap Amerika Serikat. Seperti cara kalangan progresif di Amerika memandang kalangan pengusaha di negaranya, rata-rata orang Eropa–apalagi orang Asia dan Afrika– memandang Amerika dengan penuh rasa iri dan benci. Mereka menjelek-jelekkan Amerika karena ia lebih makmur dari negara mereka. Menurut mereka, semua orang Amerika itu jahat karena menikmati standar hidup yang lebih tinggi daripada mereka. Kelompok “progresif” di Eropa mengecam politisi dan penulis yang mendukung kebijakan pemerintah mereka yang pro-Amerika dalam Perang Dingin. Sama halnya dengan kalangan “progresif” di Amerika yang mengecam ekonom yang berani menentang program New Deal sebagai penjilat kelompok borjuis pemeras.

Milyaran dolar yang dibagi-bagikan Pemerintah Amerika Serikat di seluruh dunia belum bisa mengurangi sentimen anti-Amerika ini. Bantuan yang diberikan Amerika, kata orang sosialis, tak ada apa-apanya, tak setara dengan jumlah hutang Amerika kepada manusia lain. Dalam pandangan mereka, kemakmuran Amerika Serikat semestinya dibagi-bagikan secara merata pada semua bangsa.

Orang non-Amerika yang radikal menggangap kenyataan orang Amerika tinggal di rumah yang dilengkapi dengan peralatan canggih dan mengendarai mobil sementara jutaan orang non-Amerika hidup serba kekurangan sebagai pelanggaran terhadap hukum alam. Memalukan betul, ujar mereka, melihat keturunan orang yang menciptakan peradaban Barat hidup dalam kondisi serba terbatas, sementara orang Amerika yang hanya pencari uang menikmati hidup mewah.

Menurut intelektual dari kalangan ini, manusia terbagi menjadi dua kelompok: di satu sisi orang Amerika yang mengeksploitasi dan di sisi lain orang miskin yang dieksploitasi.

Intelektual komunis menyandarkan harapan pembebasan mereka pada Uni Soviet. Sementara kalangan moderat berharap agar PBB suatu hari akan menjadi pemerintahan dunia yang efektif yang akan menyamaratakan pembagian pendapatan di seluruh dunia dengan pajak progresif, seperti halnya aturan pajak di negara mereka. Kedua kelompok ini sepakat menolak apa yang mereka namakan kebijakan pro-Amerika di negara mereka dan memilih sikap netral sebagai langkah awal menuju berdirinya tatanan sosial yang adil.

Bercampurnya sentimen anti-Amerika dan anti-kapitalis memainkan peranan penting dalam masalah-masalah dunia saat ini. Sentimen ini mendorong tumbuhnya simpati kepada Uni Soviet dan menggagalkan upaya-upaya terencana untuk membatasi membesarnya pengaruh kekuasaan Rusia. Simpati ini bisa jadi menghancurkan peradaban Eropa dari dalam.

Pandangan Rappard terhadap Kemakmuran Amerika
Orang-orang Eropa, yang patriotik dan masih berakal sehat, khawatir. Mereka sadar akan bahaya yang ditimbulkan oleh ideologi netral yang diikuti oleh dua kelompok di atas. Mereka ingin membongkar kekeliruan ini. Tapi mereka terhambat oleh kenyataan bahwa doktrin anti-Amerika ini didukung oleh teori ekonomi–atau lebih tepatnya teori ekonomi semu– yang diajarkan di universitas negara-negara mereka dan diterima oleh semua partai politik.

Berdasarkan ide-ide yang mempengaruhi kebijakan dalam negeri negara-negara Eropa, dan juga kebijakan dalam negeri Amerika Serikat, kesengsaraan seseorang adalah akibat dari adanya sebagian orang yang memiliki harta terlalu banyak untuk diri mereka sendiri. Karenanya cara yang paling mujarab untuk mengentaskan kemiskinan adalah dengan menggunakan campur tangan pemerintah untuk membagi-bagikan secara merata apa yang disebut sebagai pendapatan nasional. Sayangnya tak ada yang menjelaskan bahwa doktrin ini dan kesimpulan praktis yang digali darinya terbatas pada kondisi di dalam negara itu dan tidak boleh diterapkan dalam hubungan internasional untuk menyamaratakan pembagian pendapatan dunia.

Hambatan ideologis yang mencegah orang Eropa, yang mau menyerang mentalitas anti-Amerika, nampaknya hampir tak dapat diatasi. Tetapi, ada saja penulis terkemuka yang menghadapi segala kesulitan ini dan menerbitkan sebuah esei yang membicarakan inti persoalannya.

Ia adalah Profesor William E. Rappard [1883-1958]. Namanya tak begitu dikenal di Amerika. Sejarawan dan ekonom luar biasa yang lahir di New York ini, lulusan sebuah universitas di Amerika dan mengajar di Harvard. Ia adalah salah satu ahli terkemuka di bidang hubungan ekonomi dan politik internasional. Bukunya dalam Filsafat Politik, The Crisis of Democracy, yang terbit pada 1938 akan diingat dalam bidang sejarah gagasan sebagai sangkalan yang paling mantap terhadap Komunisme dan Nazisme. Hanya sedikit pengarang yang penilaian, kemahiran dan kenetralannya sehebat Rappard.

Dalam bukunya, The Secret of American Prosperity, Profesor Rappard tidak pro-Amerika dan tidak juga anti-Amerika. Tanpa terikat mana-mana pihak, ia berusaha mengidentifikasi faktor-faktor yang melahirkan keunggulan ekonomi Amerika. Ia memulai bukunya dengan menyajikan data-data statistik, kemudian menguji dengan kritis penjelasan yang diberikan oleh pengarang-pengarang yang lebih lama dan yang lebih baru darinya. Kemudian ia menyajikan analisisnya tentang sebab-sebab kemakmuran Amerika. Dalam pengamatan Rappard, sebab-sebab itu dapat dikelompokkan dalam empat tema, yaitu produksi massal, penerapan ilmu pengetahuan dalam produksi, gairah produktivitas, dan semangat kompetisi.

Kesimpulan Profesor Rappard ini penting secara politik karena ia menunjukkan bahwa kemakmuran Amerika dicapai karena faktor-faktor dalam Amerika Serikat sendiri. Keunggulan Ekonomi Amerika adalah fenomena Amerika. Ia adalah hasil pencapaian orang Amerika. Kemakmuran ini tidak lahir atau berkembang di atas penderitaan bangsa lain. Tak ada eksploitasi terhadap “negara miskin”. Tak ada orang non-Amerika yang menjadi miskin karena Amerika sejahtera.

Profesor Rappard dengan hati-hati menghindari perbincangan tentang kontroversi mengenai sikap bangsa-bangsa Eropa terhadap Amerika Serikat. Ia bahkan tidak menyebut doktrin eksploitasi dan keluhan yang disampaikan orang yang mengaku-aku miskin. Tapi buku ini menghancurkan doktrin palsu itu sekaligus program politik yang dilahirkan darinya.

Tak dapat diragukan lagi, menurut Profesor Rappard, bahwa “kemakmuran sebuah negara sangat tergantung pada kehendak negara itu. Dengan demikian, sebuah negara akan menjadi lebih kaya dan ekonominya lebih produktif karena penduduknya menginginkan demikian.” Amerika makmur karena rakyatnya menginginkan kemakmuran dan memilih kebijakan yang sesuai dengan tujuan itu.

Kemakmuran dan Modal
Empat faktor yang dianggap oleh Profesor Rappad sebagai sebab-sebab yang mendorong produktivitas tenaga kerja di Amerika Serikat tentu tak terbatas hanya untuk Amerika Serikat saja. Faktor-faktor itu adalah ciri utama mode produksi kapitalis yang berasal dari Eropa Barat dan kemudian menyebar ke Amerika Serikat. Produksi massal adalah inovasi penting Revolusi Industri. Dulu, pengrajin menghasilkan produknya dengan menggunakan alat-alat primitif di bengkel-bengkel kecil hanya untuk memenuhi kebutuhan orang-orang kaya yang terbatas jumlahnya. Sistem pabrik melahirkan metode produksi dan pemasaran yang baru. Tujuannya adalah untuk menghasilkan barang yang murah untuk orang banyak. Prinsip ini, dengan prinsip kompetisi, menyebabkan berkembangnya perusahaan-perusahaan yang efisien dan hilangnya perusahaan-perusahaan yang tidak efisien.

Kecendrungan ini kini lebih kuat dirasakan di Amerika Serikat daripada di negara-negara Eropa. Tapi ini terjadi karena penolakan terhadap bisnis besar dan kemampuan kompetitifnya yang lebih unggul muncul lebih awal di Eropa daripada di Amerika Serikat dan jauh lebih kuat dalam mengekang individualisme bisnis. Jadi perbedaan antara Eropa dan Amerika Serikat bukan terletak pada jenis tetapi pada tingkat permusuhan.

Terkait faktor penerapan ilmu pengetahuan dalam produksi dan gairah produktivitas, tak banyak perbedaan antara Amerika dan Eropa. Setiap pengusaha, di mana pun, mesti memiliki tekad yang kuat untuk membuat usahanya seproduktif mungkin. Mengenai faktor penerapan ilmu pengetahuan dalam produksi, Profesor Rappard menyatakan bahwa para penulis Amerika yang paling bijak dan jujur mengakui bahwa “penelitian yang berhasil lebih banyak dilakukan oleh orang Eropa, yang bekerja baik di negara mereka atau di labolatorium-labolatorium di Amerika.” Jadi menurut Rappard, keunggulan industri Amerika bukan karena menemukan kebenaran teoritis baru tetapi dengan segera menerapkan dan terus meningkatkan kualitas penemuan yang ada dari mana pun datangnya.

Dengan menyatakan ini, Profesor Rappard memberi kita jawaban tegas atas masalah yang ia teliti. Industri Amerika dapat menjadi unggul karena pabrik, bengkel, kebun, dan pertambangan mereka dilengkapi dengan alat dan mesin yang lebih baik dan efisien. Karenanya, produktivitas marjinal tenaga kerja dan rata-rata upah di Amerika lebih tinggi daripada di tempat lain. Karena rata-rata jumlah dan kualitas barang yang dihasilkan dalam waktu yang sama oleh jumlah tenaga yang sama lebih banyak dan lebih baik, maka lebih banyak barang yang lebih baik tersedia untuk dikonsumsi. Inilah rahasia kemakmuran Amerika.

Sebetulnya metode produksi modern yang paling baik bukanlah rahasia lagi. Semua ini diajarkan di berbagai universitas dan dijelaskan dalam buku ajar dan majalah teknologi. Ribuan anak-anak muda berbakat dari negara-negara yang ekonominya terbelakang memiliki pengetahuan mengenai metode-metode ini dari lembaga pendidikan dan bengkel-bengkel di Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman dan negara-negara barat lainnya. Lagipula banyak insinyur, ahli kimia, dan ahli pertanian Amerika yang siap menawarkan keahlian mereka kepada pengusaha negara-negara berkembang.

Setiap pengusaha cerdas–tak hanya di Eropa Barat, tapi hampir di seluruh dunia–terobsesi untuk melengkapi pabrik mereka dengan alat modern yang paling efisien. Tapi meski demikian, mengapa hanya perusahaan-perusahaan Amerika (dan Kanada) yang memanfaatkan pencapaian teknologi modern dan kemudian melesat jauh meninggalkan negara-negara lain?

Adalah ketidakmemadaian persediaan modal yang menghambat negara-negara lain meningkatkan efisiensi sistem produksi industri mereka. Pengetahun teknologi dan gairah produktivitas tidak akan ada gunanya jika modal yang dibutuhkan untuk mendapatkan peralatan baru dan penerapan metode baru tidak memadai.

Yang membuat kapitalisme modern memungkinkan negara-negara Eropa Barat, Eropa Tengah dan kemudian Amerika Utara memimpin dalam tingkat produktivitas adalah karena karena negara-negara itu menciptakan suasana politik, hukum dan kelembagaan yang melindungi akumulasi modal. Yang menghambat India menggantikan pembuat sepatu yang tak efisien dengan pabrik sepatu yang efisien adalah ketidakcukupan modal. Sayangnya, karena pemerintah India malah merebut aset kapitalis asing dan menghambat pengumpulan modal warga negaranya sendiri, jalan keluar untuk masalah ini jadi tertutup. Akhirnya, jutaan orang India mesti berjalan tanpa alas kaki, sementara orang Amerika dapat membeli beberapa pasang sepatu setiap tahunnya.

Keunggulan ekonomi Amerika adalah karena adanya persediaan modal yang banyak. Kebijakan-kebijakan yang katanya progresif, yang menghambat orang untuk menabung dan mengakumulasi modal, atau malah mendorong mereka untuk tidak menabung dan tidak mengakumulasi modal, diterapkan lebih awal di Eropa daripada di Amerika. Sementara Eropa menjadi semakin miskin karena persenjataan yang berlebihan, menjajah, kebijakan-kebijakan anti kapitalis, dan akhirnya karena perang dan revolusi, Amerika Serikat menerapkan kebijakan yang pro-bisnis. Saat itu, orang Eropa melihat kebijakan ekonomi Amerika sebagai kebijakan yang terbelakang. Tapi justru karena “keterbelakangan” ini, akumulasi modal di Amerika jauh melebihi jumlah modal yang tersedia di negara-negara lain. Ketika Amerika menerapkan program New Deal yang meniru kebijakan Eropa yang anti-kapitalis, ia sudah mendapatkan kelebihan yang masih dimilikinya hingga kini.

Kekayaan, kata Marx, bukan berasal dari pengumpulan komoditi, tapi pengumpulan modal. Pengumpulan ini adalah hasil dari tabungan. Doktrin yang anti-tabungan, yang anehnya disebut Ekonomi Baru yang pertama-tama dikembangkan oleh Foster dan Cathcing dan kemudian dibentuk oleh Keynes, tak dapat dipertahankan.

Jika kita ingin meningkatkan kondisi ekonomi, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, standar upah dan standar hidup, kita mesti mengumpulkan lebih banyak modal supaya bisa terus berinvestasi. Tak ada cara lain untuk meningkatkan jumlah modal yang tersedia kecuali dengan memperbesar tabungan, dengan menghilangkan faktor ideologi dan kelembagaan yang membatasi tabungan atau mendorong orang untuk berhenti menabung dan mengumpulkan modal. Ini yang negara-negara berkembang mesti pelajari.

Artikel ini terbit dalam The Freeman, November 1955