16/08/2011

Hak Kepemilikan: Soko Guru Kebebasan

Hak yang terpenting dalam masyarakat manapun adalah hak kepemilikan. Ia membedakan mana milik saya dan mana milik anda. Ia berisi keistimewaan dan kewajiban yang lahir karena adanya kepemilikan sekaligus hak sang pemilik. Dengan adanya hak kepemilikan, berarti:

1. Pemilik harta berhak menggunakan hartanya sekehendak hatinya selama ia tidak melanggar hak kepemilikan orang lain.
2. Pemilik harta berhak mengizinkan orang lain menggunakan hartanya baik secara gratis atau dengan bayaran dan berhak pula melarang orang lain menggunakannya.
3. Pemilik harta berhak mengalihkan hak kepemilikannya atas sebuah harta kepada orang lain secara gratis atau dengan bayaran.
4. Pemilik harta berhak atas penghasilan yang didapatnya dari menggunakan atau menjual hartanya.

Ada tiga alasan mengapa hak kepemilikan adalah sebuah keniscyaan bagi kemakmuran. Pertama, dengan hak kepemilikan, seseorang dapat menemukan informasi yang mereka butuhkan untuk menggunakan hartanya secara produktif. Hak kepemilikan memungkinkan adanya pertukaran barang dan pertukaran barang memungkinkan adanya harga pasar. Harga pasar, seperti menurut ekonom Austria terkemuka dan peraih Nobel F. A Hayek, adalah lampu yang mengatur lalu lintas ekonomi. Saya berikan contoh. Jika badai di kawasan Prairie (tiga provinsi di Kanada: Alberta, Manitoba dan Saskatchewan) merusak tanaman gandum di Saskatchewan, harga gandum di provinsi ini akan naik. Ini akan mendorong petani gandum di provinsi lain di Kanada untuk mengirim sebagian gandum mereka ke pasar Saskatchewan dan membuat pembeli di provinsi itu mengurangi konsumsi gandum mereka. Harga lahir karena hak kepemilikan wujud. Perubahan harga membuat penyedia barang dan pembeli merubah pola konsumsi mereka.

Bayangkan jika hak kepemilikan tidak ada. Orang tidak dapat menjual apa yang bukan milik mereka. Tanpa hak kepemilikan tidak akan ada pertukaran barang di pasar. Tanpa pertukaran barang tidak akan ada harga pasar. Dan tanpa harga pasar, informasi yang semestinya ada mengenai bagaimana hak milik mesti digunakan menjadi tidak tersedia. Jika ada badai yang merusak sebagian tanaman gandum di Saskatchewan, gandum dari provinsi lain tidak akan masuk ke pasar Saskatchewan dan konsumen di Saskatchewan tidak akan mengurangi konsumsi mereka. Jika begini skenarionya, kekacauan ekonomi bisa terjadi. Tanpa hak kepemilikan, aktor ekonomi hanya bisa meraba-raba dalam gelap.

Alasan kedua mengapa hak kepemilikan merupakan keniscayaan bagi kemakmuran adalah karena hak kepemilikan mendorong individu untuk menggunakan informasi yang ia dapat untuk menggunakan hartanya secara produktif. Karena hak kepemilikannya aman, seseorang dapat menghasilkan keuntungan dari menggunakan hartanya secara produktif. Contohnya, setelah mengetahui tingginya harga gandum di Saskatchewan karena badai, petani gandum di Alberta mengirim gandum mereka ke provinsi tetangganya itu. Mereka pun mendapat keuntungan berlebih karena menggunakan informasi yang mereka terima.

Sebaliknya, bila seseorang tidak menggunakan harta mereka secara produktif mereka bisa rugi. Petani gandum di Alberta yang tidak mengirim gandum ke Saskatchewan setelah mengetahui harga gandum di provinsi tersebut naik akan merugi karena mereka tidak menggunakan informasi yang mereka dapat dengan tepat. Hak kepemilikan mendorong pemilik harta untuk menggunakan harta mereka dengan cara yang dapat menghasilkan nilai berlebih dan menghindari cara yang menghancurkan nilai harta mereka.

Alasan terakhir mengapa hak kepemilikan merupakan keniscayaan bagi kemakmuran adalah karena hak kepemilikan memungkinkan adanya kebebasan. Selain pada harta benda, kemakmuran juga tergantung pada kebebasan. Milton Friedman, ekonom yang juga meraih Nobel, mengatakan bahwa untuk dapat menikmati kebebasan sipil, kita harus memiliki hak kepemilikan. Konstitusi Uni Soviet secara resmi menjamin kebebasan berbicara dan berkumpul warga negaranya. Tapi jaminan ini tidak ada artinya karena ekonomi sosialis Uni Soviet menghapus hak kepemilikan warganya. Warga negara Soviet tak boleh memiliki perusahaan percetakan, tidak pula ruang pertemuan. Bagaimana mungkin mereka bisa menikmati kebebasan yang menjadi hak mereka itu?

Hak kepemilikan juga tak bisa dipisahkan dengan kebebasan yang lain. Bagaimana bisa ada kebebasan beragama jika warga negara tidak boleh memiliki rumah ibadah sendiri? Bagaimana bisa ada hak atas privasi bila warga negara tidak boleh memiliki rumah sendiri? Dan bagaimana bisa ada kebebasan untuk berfikir bila warga negara tak boleh memiliki perusahaan penerbitan sendiri? Tak mungkin bisa. Jika warga negara tak memiliki hak kepemilikan, mereka takkan bisa menikmati kebebasan sipil yang paling dasar sekalipun.

Ada dua aktor yang dapat mengancam hak kepemilikan individu: pencuri dan pemerintah. Sebenarnya aktor yang kedua semestinya melindungi kita yang dari aktor yang pertama. Undang-undang, polisi dan pengadilan seharusnya melindungi hak kepemilikan kita dari pihak yang tidak menghormatinya. Tetapi di sebagian besar negara, justru politisi/pemerintah yang bertingkah seperti pencuri. Mereka bahkan menjarah lebih banyak. Pemerintah yang seperti itu menggunakan pajak, inflasi, dan, dalam beberapa kasus, menyita hak milik warga negara secara sewenang-wenang.

Alat yang digunakan pencuri dan pemerintah penghisap untuk melanggar hak kepemilikan individu memang berbeda, tetapi akibatnya sama saja. Jika kita tahu bahwa kita akan kehilangan sebagian pendapatan kita pada perampok, hak kita atas pendapatan kita–dan dengan demikian kemampuan dan motivasi kita untuk menghasilkan pendapatan–menjadi berkurang. Begitupula jika kita tahu bahwa pemerintah akan mengambil sebagian besar pendapatan kita setiap tahun melalui pajak atau cara lain, hak kita atas pendapatan kita–termasuk kemampuan dan motivasi kita untuk menghasilkan pendapatan–menjadi berkurang.

Sebuah masyarakat yang diatur oleh pemerintah penghisap akan berada dalam situasi yang sama dengan masyarakat yang diganggu oleh pencuri, karena alasan yang sama. Dalam kedua masyarakat itu, hak kepemilikan warganya tidak lagi aman, hingga melemahkan kemampuan dan motivasi mereka untuk mendapatkan kekayaaan. Karena itu, pentinglah kiranya menghalangi pencuri dan pemerintah dari melemahkan hak kepemilikan individu.

Meski banyak cara untuk hidup, hanya ada satu cara untuk hidup bebas dan makmur yaitu melalui sistem yang melindungi hak kepemilikan dengan sungguh-sungguh. Hak kepemilikan adalah landasan bagi masyarakat yang bebas. Hak kepemilikan memungkinkan adanya sistem harga, memberi insentif kepada individu untuk meraih kemakmuran, dan merupakan sokoguru kemerdekaan dan kebebasan. Dengan melindungi hak kepemilikan individu, kita berarti memastikan tumbuhnya peradaban. Jika tidak, kita berarti mendorong musnahnya peradaban.

Bacaan Lanjutan:

Friedman, Milton (1962). Capitalism and Freedom. University of Chicago Press.
Rosenberg, Nathan, and L.E. Bridzell, Jr. (1986). How the West Grew Rich: The Economic Transformation of the Industrial World. Basic Books.
von Mises, Ludwig (1996). Liberalism: The Classical Tradition. Foundation for Economic Education.

- – -
Peter Leeson adalah BB&T Professor untuk kajian Kapitalisme di Mercatus Center, George Mason University, dan pengarang buku berjudul “The Invisible Hook: The Hidden Economics of Pirates”.

Artikel ini diterjemah dari Majalah Fraser Forum, The Fraser Institute dan pertama kali diterbitkan pada 1 April, 2010.

Tag .

Kenali AkademiMerdeka.org

AkademiMerdeka.org ialah satu projek pendidikan ide-ide libertarianisme dalam Bahasa yang dijalankan oleh Atlas Global Initiative for Free Trade, Peace and Prosperity.

Langgan feed RSS

Ikuti melalui Twitter

Sertai kami di Facebook

Kenali kami sepenuhnya »

© 2012 AkademiMerdeka.org