Dr. Nouh El Harmouzi dan Dr. Ali Massoud

Apa yang membuat 17 juta rakyat Mesir pergi ke alun-alun di seluruh negeri dan mendorong 22 juta orang untuk menandatangani petisi pemecatan Presiden Mohammed Morsi? Mengapa website sebuah gerakan akar rumput Mesir, Tamarrod (pemberontak) “menuntut Presiden Morsi untuk meninggalkan kantornya mulai hari Selasa, 2 Juli, pukul 5 sore.” dan supaya mengizinkan pemilu yang lebih cepat, atau jika tidak maka akan menghadapi “pembangkangan publik secara penuh.”

Dan mengapa pula militer Mesir memberi Morsi sebuah ultimatum: selesaikan krisis dalam 48 jam atau mereka yang akan ambil alih?

Kekacauan ini mempunyai akarnya pada kegagalan ekonomi dan politik pemerintahan Morsi, kegagalan-kegagalan yang berkisar dari kurangnya penghargaan terhadap kebebasan individu, termasuk kebebasan ekonomi, sumber kemakmuran yang sangat dibutuhkan.

55 rakyat Mesir terbunuh dan 700 mengalami luka-luka selama protes akibat kekerasan. Hal ini barangkali diperburuk dengan minimnya minyak dan kebutuhan mendasar lainnya, menciptakan antrian panjang dan konsumen yang kesal. Kekurangan dan antrean merupakan bukti bahwa kebijakan-kebijakan Morsi bertentangan dengan pendekatan yang pro-kebebasan, pro-pasar yang meningkatkan standar kehidupan.

Ekonomi kian memburuk. Pertumbuhan ekonomi turun hingga 2,2 persen pada tahun fiskal 2012, turun dari 5.1 persen pada tahun 2009/2010, setelah revolusi yang menjatuhkan Presiden Hosni Mubarok terjadi. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan terus jatuh hingga 2 persen pada akhir Juni. Apalagi, mata uang pound Mesir telah kehilangan 12,5 persen nilainya terhadap dollar Amerika.

Penurunan pertumbuhan ekonomi telah memperburuk tingkat pengangguran dan kemiskinan di negeri dengan 82,5 juta orang ini. Lebih dari 3,3 juta orang, 13 persen dan masih meningkat, menganggur, dan 46,4 persen dari populasi yang berusia 20-24 tahun tidak dapat menemukan pekerjaan. Empat puluh tiga persen rakyat Mesir hidup di bawah garis kemiskinan dua dollar perhari.

Hal yang memperparah keadaan, defisit anggaran pemerintah membengkak, naik hingga 10,8 persen dari PDB. Defisit ini membuat pemerintah Mesir makin kesulitan untuk membantu mereka yang paling miskin dalam kondisi yang sulit ini.

Ekonomi yang melambat diperburuk dengan penurunan investasi asing, jumlah turis yang berkunjung, dan stabilitas politik secara umum.

Alasan di balik bencana ekonomi ini dapat dengan mudah dijelaskan dengan adanya akumulasi dari berbagai kebijakan ekonomi yang buruk, belum lagi korupsi yang terang-terangan serta kurangnya daya saing. The Global Competitiveness Report menempatkan Mesir pada peringkat 94 dari 142 negara. Subsidi yang besar, misalnya, telah menciptakan sistem yang tidak efisien untuk mengangkut roti dan minyak ke seluruh daerah, menciptakan kelangkaan keduanya dan membuat masyarakat makin marah pada pemerintah. Presiden Morsi telah berjanji akan menyelesaikan permasalahan tersebut dalam 100 hari pertamanya menjabat, namun ia gagal.

Namun, tidak semuanya adalah masalah ekonomi. Kegagalan-kegagalan politik pemerintah Morsi merupakan alasan lain di balik kacaunya kondisi Mesir saat ini. Hampir semua orang yang Morsi angkat sebagai menteri, gubernur, dan pejabat tingkat tinggi, berasal dari Ikhwanul Muslimin, mengasingkan mereka yang kritis terhadap pemerintahan Islamis. Morsi juga telah memperluas kekuasaannya sendiri, misalnya, dengan membatasi kebebasan berpendapat dan kebebasan pers.

Hal-hal ini dan berbagai kegagalan ekonomi dan politik lainnya telah menyebabkan pemerintahan Morsi kehilangan kepercayaan di antara masyarakat Mesir. Apa yang akan terjadi selanjutnya sulit untuk diterka. Akan tetapi jika pemerintah tidak mencabut berbagai batasan-batasan terhadap kebebasan individu dan pasar bebas, jika ia tidak melakukan deregulasi dan de-subsidi, ia akan gagal.

 

 

*Dr. Ali Masoud adalah profesor ekonomi di Sohag University di Mesir. Dr Nouh El Harmouzi adalah editor dari sebuah situs berita dan analisis MinbarAlHurriyya.org, yang disponsori oleh Atlas Network adan merupakan profesor ekonomi di Ibn Toufail University di Kenitra, Maroko.

FacebookTwitterGoogle+Share