Oleh: Rofi Uddarojat

Perubahan iklim merupakan isu hangat yang dibicarakan di seluruh dunia. Memanasnya suhu bumi, cuaca yang tidak menentu, kenaikan permukaan air laut adalah beberapa  dampak negatif perubahan iklim yang ditakutkan oleh beberapa pihak. Karena itu, menurut beberapa kelompok tadi, manusia harus mengurangi aktivitas-aktivis manusia, terutama aktivitas ekonomi. Kegiatan ekonomi seperti industrialisasi dan eksplorasi sumber daya alam dianggap oleh kelompok ini menjadi penyebab utama dampak perubahan iklim yang mengancam bumi.

Asumsi-asumsi penyebab perubahan iklim sering disampaikan oleh kelompok-kelompok lingkungan (environmentalist). Kelompok ini getol menyuarakan pengurangan aktivitas ekonomi agar mengurangi dampak perubahan iklim. Saking getolnya, mereka kerap menakut-nakuti publik tentang dampak perubahan iklim yang tidak berdasarkan ilmu pengetahuan, seperti anti-kritik dan anti-perdebatan yang sehat. Mereka menganggap kelompok yang mengkritik wacana perubahan iklim sebagai bentuk penolakan aksi penyelamatan bumi. Vaclav Klaus, mantan Presiden Ceko yang sering mengkritik para kelompok lingkungan, menyebut mereka “The Alarmist”.

“The Alarmist” secara sederhana berarti kelompok yang suka menakut-menakuti, sehingga orang-orang kehilangan nalar dan akal sehatnya, lalu membuat kebijakan yang cenderung tidak rasional. Yang dalam kasus ini adalah perubahan iklim.

Lalu bagaimana seorang liberal menyikapi isu perubahan iklim?

Vaclav Klaus, menulis buku yang mengkritik pandangan kelompok lingkungan ini, yang dalam edisi bahasa inggris berjudul “Blue Planet In The Green Shackless”. Perubahan iklim dengan segala asumsinya, masih diperdebatkan ilmuwan di seluruh dunia. Gejala-gejalanya memang telah nampak, namun kesimpulan yang dihasilkan masih diteliti dan belum menghasilkan suatu kesepakatan ilmiah.

Oleh karena itu, Vaclav Klaus menilai bahwa ada hal yang jauh lebih penting dibandingkan memperdebatkan perubahan iklim, yaitu kebebasan dan kesejahteraan manusia. Keduanya sudah jelas ada dan penting untuk diperjuangkan manusia. Maka ketika ditanya apa yang harus dilakukan mencegah perubahan iklm, maka jawaban Vaclav sangat jelas: tidak ada. Menurutnya, dengan kita menjaga kebebasan dan kesejahteraan manusia, dengan sendirinya masalah-masalah perubahan iklim akan bisa ditanggulangi. Karena manusia mempunyai akal cerdas yang terbukti sepanjang sejarah peradaban manusia bisa mengatasi segala masalah yang melanda.

Rainer Erkens dalam epilog buku Vaclav edisi berbahasa Indonesia membagi beberapa sikap seorang liberal dalam menanggapi isu perubahan iklim. Pertama, kelompok liberal arus utama yang banyak bekerja di beberapa lembaga pemerintahan baik nasional maupun internasional. Kelompok liberal ini percaya dengan adanya perubahan iklim seperti layaknya kelompok lingkungan atau kelompok kiri, namun berbeda dalam melakukan pendekatan atas solusi permasalah perubahan iklim.

Misalnya, untuk mengurangi masalah polusi kendaraan bermotor, maka pendekatan yang dilakukan adalah dengan pendekatan pasar atau pemberlakuan insentif bagi kendaraan yang ramah lingkungan. Berbeda dengan kelompok kiri dan kelompok lingkungan yang cenderung melarang.

Kedua, adalah kelompok liberal radikal. Kelompok liberal tipe ini adalah yang menolak pendapat tentang perubahan iklim dan segala usaha untuk mencegahnya. Tipe ini selalu mencurigai agenda-agenda lingkungan sebagai ancaman terhadap kebebasan. Bagi mereka agenda kebebasan dan kesejahteraan individu harus diutamakan. Kelompok ini dianggap sebagai kelompok yang berperan atas penolakan Amerika Serikat terhadap ratifikasi Protokol Kyoto.

Ketiga, adalah kelompok liberal yang berada di tengah-tengah dua kelompok sebelumnya. Kelompok ini adalah liberal yang skeptis terhadap fenomena perubahan iklim dan usaha-usaha untuk mencegahnya. Kelompok ini lebih moderat. Mau mendengar beberapa argumen kelompok lingkungan, serta mendebat dan terus berusha kritis.

Misalnya dengan terus mengingatkan negara bahwa prioritas atas kemiskinan, lebih penting dibandingkan menghamburkan banyak dana untuk perubahan iklim yang belum terbukti terjadi.

Walaupun terdapat perbedaan pendekatan antara kelompok liberal, di dalamnya terdapat satu kesamaan yang tegas: bahwa kaum liberal menolak segala bentuk kebijakan tersentral yang mengancam kebebasan. Negara bisa saja bertindak, namun dalam batas mendorong masyarakat bergerak mengentaskan permasalahan lingkungan. Negara memberi kail, masyarakat sendiri yang akan menjaring ikan.

Tidak jarang terjadi, dengan mengatasnamakan penyelamatan bumi, para politisi membuat kebijakan yang ternyata cenderung menguntungkan beberapa kelompok saja. Proyek-proyek dibuat dengan dana rakyat hanya demi kelangsungan beberapa kelompok saja. Tidak hanya itu, kebijakan yang terpusat ini seringkali mengabaikan kebebasan manusia.

Kita tidak menginginkan itu. Kebebasan adalah hal paling nyata, jauh lebih nyata dibandingkan perubahan iklim itu sendiri. Seperti kata Vaclav Klaus, “What is endangered: climate or freedom? What is stake is not environment. It is our freedom…”

 

*Penulis adalah Project Leader Akademi Merdeka Indonesia

FacebookTwitterGoogle+Share