Oleh: Andi Tri Haryono*

Yes, how many years can a mountain exist, Before it’s washed to the sea ?

Yes, how many years can some people exist, Before they’re allowed to be free ?

Yes, how many times can a man turn his head, Pretending he just doesn’t see ?

The answer my friend is blowin’ in the wind, The answer is blowin’ in the wind.

Bob Dylan lyrics “Blowin’ in The Wind”.

 

Penggalan lirik pada bait kedua yang ditulis oleh Bob Dylan tidak sekedar lirik dangkal tanpa makna serta misi, lirik tersebut menitipkan pesan yang cukup mulia, yaitu sebentuk protes terhadap diskiriminasi kelas di Amarika pada tahun 1960an.Konon lagu tersebut banyak menginsiprasi para musisi kulit hitam, salah satunya adalah Sam Cooke (1931-1964) yang meninggal pada usia 33 secara mengenaskan, di salah satu hotel (Hacienda Motel) di kawasan Los Angeles, California. Sam Cooke merasa terdayuh setelah mendengar mendengar “Blowin in the Wind”, ia mengungkapkan bahwa lagu tersebut sepertilaguyang berusaha mengirimkan kabar tentangkepedihanrasismedi Amerika pada tahun 1960an,ia juga merasa bahwa kepedihan tersebut bisa dirasakan tidak hanya oleh kulit hitam semata, akan tetapi kepedihan juga bisa dirasakan oleh seseorang kulit putih seperti Bob Dylan.Blowind in the Wind digambarkan sebagai salah satu anthem bagi civil-right movement pada tahun 1960an[1].Saat itu mulailah kepedulian masyarakat di Amerika untuk menyudahi berbagai macam bentuk pertikaian, kekerasan dan diskriminasi yang berujung pada penderitaan keduannya.Sebuah pesan moral yang tersirat dalam beberapa bait lirik lagu, ternyata menjadi magnet menghidupkan kembali semangat liberalisme yang tumbang di Amerika, sebagai salah satu negara yang menyuarakan arti penting liberalisme.Diskriminasi yang dilatar belakangi perbedaan etnis pada tahuan 1960an di Amerika Serikat hanya contoh kecil, bahwa sebetulnya kebebasan adalah salah satu hal yang paling mendasar—nilai-nilai kebebasan, persamaan dan persaudaraan inilah yang kemudian melatar belakangi spirit liberalisme dalam penggalan sejarahnya, uraian ini menjadi pengantar penulis untuk sedikit bercerita tentang konteks sosio historis, dan filosofis dari liberalisme.

 

Liberalisme dalam Lanskap Sosio-Historis:

  1. Para Perintis Liberalisme Klasik

Kalau kita coba untuk mengulurkan benang merah jauh ke belakang, untuk mencari jawaban atas lahirnya gerakan politik liberalisme menjadi penting dalam catatan ini.Karena tema seminar publik yang diadakan juga sangat relevan,menimbang liberalisme melalui berbagai macam perspektif—menimbang liberalisme di Indonesia pasca reformasi secara tidak langsung harus melucuti jubah-jubah liberalisme secara keseluruhan, mulai dari konteks filosofis, sosio historis hingga liberalisme kekinian atau ragam cerita mutakhir saat ini yang selalu menyeret liberalisme kedalam kubangan persoalan geopolitik.

Sebelum melangkah pada distingsi antara liberalisme klasik dan liberalisme moderen, tentu akan lebih tepat kalau kita merunut pada sisi filsafat dari liberalisme tersebut. Hal tersebut menjadi penting karena, sebuah pandangan atau gerakan politik tidak dapat tercerabut begitu saja dari konsep filsafat dan legitimasi ilmiah.Bahkan lanskap sosio-historis juga tidak lantas dinafikan oleh aspek-aspek berkembangnya jalanfikir atau alur pemikiran, dalam hal ini adalah upaya untuk menjadikan liberalisme sebagai sebuah pandangan teoritis dan pandangan politik.Suatu pandangan teoritis atau pemikiran pasti memiliki pertalian dengan lingkungan dimana pemikiran tersebut lahir. Lahirnya sebuah pemikiran tidak seperti debu yang terbawa oleh angin kemudian melayang-layang di udara—tidak satupun orang tahu dimana debu itu berasal?, kenapa debu tersebut tiba-tiba muncul? Karena liberalisme bukan merupakan salah satu hadiah dari tuhan yang diberikan begitu saja atau turun dari lagit, akan tetapi liberalisme adalah sebuah perjuangan yang tidak luput dari lanskap sosio-historis dan filsafat.

Secara mendasar liberalisme klasikadalahfilsafat politikdan ideologimilikliberalismedi manapenekanan utamaditempatkan padamengamankankebebasanindividudengan membatasikekuasaan pemerintah.Filsafatliberalisme muncul sebagairespon terhadapRevolusi Industridan urbanisasipada abad 19di Eropadan Amerika Serikat. Akan tetapi gerakan liberalisme juga merupakan sebuah proses gradual yang terbangun melalui kesadaran kritis para filsuf sebelum abad 19 terutama filsuf yang besar pada masa pencerahan.

Dari aspek historis liberalismekali pertama menjadi salah satu gerakan politik di abad pencerahan di bumi kelahirannya yaitu Inggris—liberalisme mulai membahana pada awalnya karena rempuhan dari berbagai macam problematika yang dilatarbelakangi oleh upaya penolakan terhadap gagasan umum yang berlaku pada abad 17. Desakan tersebut dilatarbelakangi oleh:pertamaupaya untuk menghilangkan atau menolak hak istimewa yang diberikan secara turun-temurun (hereditary privilege) terutama di dalam lingkaran kekuasaan kerajaan Inggris.Keduamenolak adanya persekongkolan antara agama dengan kerajaan (negara), kemudian yang ketiga penolakan terhadapmonarki absolut, danyang keempat menolak kuasa tuhan yang termanifestasi dalam otoritas raja, yaitu insan menganggap dirinya sebagai wakil tuhan di muka bumi ini.

Adalah John Locke (1632-1704) ia dikenal sebagai bapak liberalisme klasik[2]seorang filsuf yang lahir pada abad pencerahan, dan sering disebut sebagai pendiri liberalisme. Lockemenyatakan bahwasetiap orangmemiliki hakalami untukhidup (kesehatan), kebebasan danpengakuan hak atas kepemilikan pribadi (property right). Dalam sebuah magnum opusnyaTheSecond Treatise of Government ([1689] 2010 : 5) John Locke mengungkapkan bahwa:“Alam semesta memiliki hukum alam untuk mengatur (kebebasan) itu, yang mewajibkan setiap orang; dan alasan yang merupakan dasar dari hukum alam tersebut (adalah) mengajarkan semua manusia pada dasarnya memiliki hak untuk bebas, tidak ada yang harus menyakiti satu sama lain dalam hidupnya, (bebas untuk) mendapatkan kesehatan, kebebasan, atau kebebasan kepemilikan harta”.[3]

Karya tersebut menjadi salah satu landasan ideologi dari gagasan liberalisme,ia mencoba melakukan ihtiar untuk membungkam suara-suara bising penebar teror yang mengatasnamakan agama sebagai lembaga dan hantu-hantu kekuasaan kala itu. Locke hendak memisahkan antara kekuasaan negara dan gereja.Atas dasar persamaan hak untuk mendapatkan akses politik dan ekonomi, liberalisme menjadi salah satu ideologi primadona bagi para penyeru kebebasan pada masa pencerahan.

Selain John Locke, ada salah satu filsuf yang tidak dapat dilupakan dalam catatan sejarah pergulatan liberalisme yaitu Baron deMontesquieu(1689-1755). Montesquieumenulisserangkaian risalah sangatberpengaruh diawal abad 18, termasukdiantara karyanya yang berpengaruh untuk gerakan liberalisme di Perancis adalah Persian Letters(1717) dan TheSpirit of theLaws(1748). Ia telah memberikan pengaruh yangluar biasa bagi perkembangan gagasan liberalisme sebagai gerakan politik, pengaruh dan gagasannya tersebut lahir laksana godam yang mampu memecahkan kebuntuan masyarakat sipil dan memberikan banyak pengaruh baik di dalam maupundi luar Prancis. Montesquieumengakumendukungsistemkonstitusionalpemerintahan, preserfasi kebebasan sipildanhukum, ia juga menyuarakan gagasan bahwalembaga-lembaga politikharusmencerminkanaspek sosial dangeografismasing-masing komunitas. Secara khusus, ia berpendapat bahwadalam liberalismekebebasan politikdibutuhkanpemisahankekuasaan pemerintah.

Tokoh penting lainnyadarimasa pencerahanPerancisadalah seorang sastrawan sekaligus filsuf ternama yaitu Voltaire (1694-1779). Awalnyaia percaya padaperan konstruktifmonarkiyang tercerahkanmemainkan peran penting dalam meningkatkankesejahteraan rakyat, ia akhirnyasampai pada kesimpulan bahwa: Terserah kita untukmengolah kebunkami”. Seranganpalingganasdanpolemik-polemikmelalui karyanya kemudian berdampak pada intoleransidanpenganiayaan agamamemangmulai munculbeberapa tahun kemudian.

Gerakan liberalisme mulai menancapkan cakarnya-cakarnya kedalam aspek ekonomi, salah satu tokohnya adalah Adam Smith, ia dikenal sebagai salah satu pioner ekonon aliran klasik yang bergerak pada aras sistem produksi, Adam Smith banyak mengkritik kebijakan merkantilisme, ia menggagas prinsip liberalisme dalam perekonomian melalui tiga senyawa—terkait bagaimana sumber kekayaan dan kemakmuran dapat diperoleh melalui kapitalisme dan pasar bebas, ketiga senyawa itu adalah: pertama dia membicarakan kebebasan (freedom), kedua kepentingan diri (self-interest), ketiga persaingan (competition).

Pertama istilah kebebasan (freedom) yang dimaksud oleh Adam Smith adalah kebebasan dalam porsinya untuk mendapatkan hak untuk memproduksi, menukar (memperdagangkan) produk, tenaga kerja dan kapital.Analisis situasi ketika itu adalah Smith semakin gusar dengan kebijakan merkantilisme yang membatasi perdagangan, membatasi produksi, bahkan negara melarang warganya untuk bekerja mempekerjakan para buruh di sektor swasta baik jasa dan idustri.Ide-idenya selalu menekankan kebebasan pada individu—setiap orang untuk berproduksi dan memenuhi kebutuhannya.Smith menekan pada prinsip agar para borjouis memiliki kesadaran bahwa tidak semata-mata memprioritaskan keuntungan dari laba produksi mereka, itulah yang Smith maksud sebagai pemerataan sumber kemakmuran. Dalam magnum opusnya The Wealth of Nations Adam Smith mengungkapkan:

“Untukmelarangorang-orang kelas kaya (kelas borjouis), darisemuayangmereka dapatdari setiapproduksimereka, atau darisaham merekadan industri (yang mereka bangun) dalamcara merekamenilaipaling menguntungkan untukdiri mereka sendiri, adalah pelanggarannyataterhadap hak-hakmanusia yang palingsuci”[4]

Namun sejarah telah menorehkan cerita yang berbeda, ketika pada perkembangannya pemikiran-pemikiran Adam Smith dijadikan sebagai legitimasi untuk kaum burjuis dalam rangka mengokohkan faktor-faktor produksi yang mereka miliki, demi mendapatkan kekayaan yang melimpah dan berlindung dibawah rindangnya sumber-sumber kapitalisme yang mereka miliki kemudian terus melakukan penindasan.

KeduaAdam Smith juga memberikan penekanan pada pentingnya (self-interest) adalah dihembuskanya nafas terhadap pengakuan hak seseorang untuk melakukan usaha sendiri dan membantu kepentingan orang lain. Dalam konteks ini Adam Smith menyadari bahwa manusia pada dasarnya secara alamiah memiliki tingkat kesadaran akan pemenuhan kebutuhan idividunya, dan ia bebas untuk mengejar dan memenuhi setiap kebutuhan dan keinginan yang ingin dicapai. Pada kesempatan tersebuat ia mengungkapkan bahwa:

[Tanpa pembatasan perdagangan] sistemyang jelasdan sederhanadarikebebasan alamiah(adalah) menetapkansegala sesuatunya sendiri(atau) dengan sendirinya.Setiap orang[...] yang tersisabenar-benar bebasuntuk mengejar kepentingansendiridan dengan caranya sendiri [....](serta) berdaulat,inibenar-benar tugasdari(setiap orang yang)karena tidak adahikmat manusiaatau pengetahuanbisacukup; tugasyang besar (adalah) berniatmembuat industriswasta, danmengarahkanke arahkerjayang paling sesuaidengan kepentinganmasyarakat[5]

Kemudian yang ketiga Persaingan yang dimaksud Adam Smith adalah pada dasarnya negara harus memberikan hak atas kebebasan setiap warganya untuk bersaing dalam produksi barang dan jasa yang mereka hasilkan. Persenyawaan dari ketiga hal yang ajukan oleh adam Smith dalam hal ini berpuncak pada adanya kebabasan untuk bersaing secara sehat dan terbuka. Dia menyulam benang-benang kegelisahannya dengan melontarkan kritik terhadap adanya monopoli perdagangan yang dikokohkan oleh merkantilis kala itu. Bagaimanapun dengan kecamannya terhdapa aktivitas monopoli perdagangan tentunya akan merusak sendi-sendi perekonomian dan perdagangan dalam sebuah negara, smith menegaskan bahwa“Tanpa (adanya) sebuah monopoly, bagaimanapun sebuah sendi perdagangan pada perusahaan (dan didalam pasar/market) (yang digambarkan melalui pengadaan dan persediaan bahan baku perusahaan serta proses penjualannya) akan menandai tumbuhnya cabang-cabang (ranting-ranting) perdagangan (dalam) dan luar negeri”.[6]Melalui anasir-anasir pemikiran Adam Smit, kita dapat meliahat bahwa,ia hendak membongkar segala bentuk kebijakan yang dilakukan oleh merkantilisme atau negara yang berusaha membatasi perdagangan antar negara.

Kiprah Adam Smith dalam kritiknya terhadap sistem merkantilisme, banyak memberikan influence terhadap perkembangan pemikiran ilmu ekonomi.Jejaknya diikuti oleh pengikut-pengikutnya yang mendukung dogma tentang laissez faire dan ternyata banyak memberikan pengaruh yang sangat besar pemikir ekonom sesudahnya seperti Jean-Baptiste Say (1767-1832), David Ricardo (1772-1823), dan Thomas Robert Malthus (1766-1834).Dengan inilah kemudian gagasan dari para pemikir ekonomi klasik sering disebut-sebut sebagai faham liberalisme klasik. Jean-Baptiste Say memfokuskan pada kritiknya terhadap pemerintahan Napoleon yang melalui taratatnya yang berjudul Treatise on Political Economy (1803), Kritik tajam yang JB-Say terhadap pemeritahan Napoleon terkait kebijakan pemberian kredit kepada publik yang berimplikasi kepada pemborosan negara. Dalam Treatise on Political Economyia mengungkapkan bahwa:

“Pembemberian fasilitas kredit publik tersebut (berimplikasi) kepada pemborosan publik, bahwa banyak penulis buku ekonomi politik memberikan saran fatal terkait kemakmuran nasional (melalui pemberian kredit tersebut). Karena, ketika pemerintah merasa dirinya kuat dalam kemampuan untuk memberi pinjaman, mereka terlalu cenderung ikut campur dalam setiap kebujakan politik, untuk menyusun proyek-proyek raksasa mereka, yang kadang-kadang menyebabkan sebuah hal (yang) mencelakakan, juga kadang-kadang untuk kemuliaan, tapi (pada dasarnya) selalu membiarkan mereka (masyarakat) pada keadaan kelelahan keuangan, membiarkan mereka untuk berperang (dengan dirinya) sendiri, dan membangkitkan orang-orang (masyarakat) untuk melakukan tindakan seperti; mensubsidi setiap agen tentara bayaran, dan kesepakatan dalam darah dan hati nurani manusia; membuat modal, yang harus menjadi buah industri dan kebajikan, hadiah dari ambisi, kebanggaan, dan kejahatan. Ini tidak berarti kasus-kasus hipotesis, tetapi pembaca dibiarkan untuk membuat pilihan sendiri”(Say 1880: 483; 1803, II:528-9)[7]

Dalam sebuah buku sejarah pemikiran ekonomi yang ditulis oleh Gianni Vaggi dan Peter Groenewegen, yang mengulas singkat biografi  dari JB-Say, dalam buku tersebut dikatakan bahwa JB-Say juga pernah menjadi salah satu pendukung revolusi Perancis, yaitu dengan bergabung dalam barisan atau volunteer pasukan sukarelawan pendukung revolusi di Perancis pada tahun 1792[8]. Pada tahun 1799, Say telah menjadi anggota Consulate, tetapi ketidak setujuannya terhadap sistem pemerintahan Napoleon, yang membuat karirnya berakhir pada tahun 1803. Kemudian dia hijrah ke sebuah kota kecil Northern, Perancis, di kota kecil tersebut Say mempersiapkan proyek pribadinya yang terkait rencananya untuk membangun usaha pemintalan kain (cotton-spinning), proyek pribadi tersebutlah yang mengasah dan membangun mental JB-Say menjadi seorang entrepreneur. Kemudian pada tahun 1813 setelah tumbangnya rezim pemerintahan Napoleon, ia memutuskan kembali lagi ke Paris[9]. Pada tahun 1815 ia mulai menjadi seorang dosen ekonomi politik[10] kemudian Say dikukuhkan menjadi profesor ekonomi industrial di Universitas De Frace, Paris pada tahun 1830[11]. Aliran ekonomi klasik yang sudah penulis bahas diatas, kemudian menjadi legitimasi bagi para demagog liberalisme klasik untuk menyuarakan ide dan pandangan mereka yang berputat pada kebebasan untuk membangun basis kekuatan ekonomi melalui kekuatan bisnis dan industri. Dengan kata lain filsafat ekonomi yang dibangun oleh tokoh-tokoh ekonomi klasik menjadi landasan ideologis bagi pendukung kaum liberalisme klasik membangun kekuatan politik mereka.

Pada perkembangannya terutama pada awal abad ke-20 khususnya di Amerika, kaum pendukung liberal melalui beberapa isu, perbedaan tumbuh antara liberal klasik dan liberal sosial.Liberal klasik mendukung hak-hak individu untuk mengelola faktor-faktor produksi yang dimiliki termasuk hak atas pengelolaan lahan dan properti, kalangan libealisme klasik umumnya ada dibalik layar para pemilik industri, yang mereka lihat sebagai pemimpin alami masyarakat dan sumber dari kemajuan industri. Liberal klasik sering mendukung apa yang mereka sebut “pemerintah-terbatas atau pemerintah-kecil (limited government or small government)[12].Sedangkan kaum liberal sosial mendukung hak-hak buruh untuk berorganisasi dan serikat, selain itu mereka juga mendukung hak-hak minoritas[13].

Dari masa-kemasa liberalisme mejadi jalan dan untuk lahirnya kapitalisme global yang ter integral melalui perdagangan bebas. Liberalisme dan demokrasi seolah-olah menjadi salah satu motor bagi negara-negara barat dalam membangun tatanan politik dan ekonomi dan hasilnya negara-negara barat dinobatkan menjadi panglima peradaban dunia, terutama pasca perang dunia kedua. Amareika dianggap sebagai salah satu negara yang getol mempromosikan nilai-nilai demokrasi di negara-negara di belahan dunia, meskipan terdengar adanya desas-desus tentang konspirasi politik dunia.Meskipun banyak cacat terdapat dalam kapitalisme yang disebabkan oleh liberalisme, sehingga menyeretnya kedalam premis umum bahwa kapitalisme yang didukung oleh ideologi liberalisme dan ekonomi pasar bebas telah menciptakan format atau bentuk imperialisme baru. Seperti apa yang diungkapkan oleh Mohammad Hatta dalam memoar catatannyaDaulat Rakyat, No. 37/38, tgl. 20/30-9-1932“…kapitalisme itu memajukan imperialisme.Bertambah besar kapitalisme, bertambah kuat pula sepak terjang imperialisme”.

 

 

  1. Lahirnya gagasan Neo Liberalisme

Adanya depresi besar yang melanda perekonomian dunia sebelum perang dunia ke II, menjadi salah satu kilas balik dari sejarah kelam dunia. Peristiwa berdasarkan waktudepresi besarsangat bervariasi di seluruhnegara, tetapidi sebagian besar negaraitu dimulaipada tahun 1930danberlangsung sampaiakhir 1930-anataupertengahan 1940-an[14].Depresi ini adalahmerupakan depresi terpanjang, paling terasa, dan depresi yang penyebarannya paling luasdariabad ke-20[15].

Depresi tahun 1930an tersebut juga menjadi salah satu momen atau ajang pertarungan ide-ide antra para pengukut leissez faire dari Austria dan pertarungan gagasan John Meynard Keynes. Dalam salah satu magnum opusnya yang merupakan juga hasil renungan perdebatan idenya dengan Hayek, Keynes dalam The General Theory of Employment, Interest and Money (1936) menyimpulkan penyebab depresi besar pada tahun 1930. Dalam karya tersebut ia menewarkan beberapa alternatif atau prinsip-prinsip: yang pertama adalah kenaikan tabungan dapat menyusutkan pendapatan dan mengurangi pertumbuhan ekonomi, konsumsi dianggap lebih penting untuk mendorong investasi, lihat The General Theory of Employment, Interest and Money [1936] (1973a: 18-21, 111).

Kedua anggaran pemerintah federal harus dijaga dalam keadaan tidak seimbang pada masa resesi. Kebijakan fiskal dan moneter harus ekspansif sampai kemakmuran pulih kembali dan suku bunga harus dibuat tetap rendah, lihat The General Theory of Employment, Interest and Money [1936] (1973a: 128-31, 322). Ketiga pemerintah harus meninggalkan kebijakan eissez faire dan pemerintah harus melakukan campur tangan, ketika memang diperlukan. Menurut Keynes, pada masa susah akan diperlukan kebijakan merkantilis, termasuk tindakan proteksionis [1936] (1973a: 333-71). Kemudian yang keempat adalah standar emas adalah cacat kerena inelastisitasnya menjadikan tidak mampu merespon kebutuhan bisnis yang semakin meningkat.Lebih baik menggunakan kebijakan pengendalian uang (fiat money).lihatThe General Theory of Employment, Interest and Money [1936] (1973a: 235-56). Keynes memang tidak menjadikan atau tidak menyukai emas sebagai salah satu standar moneter internasional, hal tersebut didasari oelh asumsi, emas merupakan salah satu komoditas yang tidak fleksibel untuk mengukur kekuatan finansial, ia lebih menyukai uang sebagai salah satu standar moneter, karena dengan mengunakan uang secara tidak langsung akan mempermudah pertukaran atau investasi kedalam sektor riil serta kberadaan uang juga mempermudah dalam pemenuhan prefensi masyarakat.

Kembali lagi pada gagasan neo-liberal bahwa ide tentang Neoliberalisme merupakan filosofi ekonomi yang muncul di kalangan integensia atau sarjana liberal Eropa di tahun 1930-an yang berusaha untuk melacak apa yang disebut Jalan Ketiga’ atau ‘Jalan Tengah’ antara filsafat bertentangan liberalisme klasik dan perencanaan pusat kolektivis[16]. Jadi atas dasar peristiwa 1930 maka banyak para ekonom berusaha memperdebatkan dan mencari jawaban atas permasalahan depresi tersebut dengan didukung dengan data-data dan argumen-argumen yang paling mutakhir kala itu.

Kilas balik tentang gagasan Neoliberalisme merupakan gagasan yang dilatarbelakangi oleh adanya sentimen yang tinggi dari kaum intelegensia yang menentang keras liberalisme.Pada 1930 , sangat tinggi sekali mood itu anti-liberal. Sekelompok 25 ekonom dan intelegensia yang mendukung liberalisme menyelenggarakan Walter Lippman Kolokium—sebuah pertemuan internasional yang berlangsung di Paris pada bulan Agustus 1938. Diantara mereka adalah Louis Rougier, Walter Lippmann, Friedrich von Hayek, Ludwig von Mises, Wilhelm Röpke dan Alexander Rüstow. Setelah memahami isi pesan dalam buku yang ditulis oelh Lippmann The Good Society(1937) peserta seperti Rüstow, Lippmann dan Rougier sepakat bahwa liberalisme laissez-faire lama dianggap telah gagal dandunia membutuhkan liberalisme baru yang untuk mengambil tempatnya. Sementara ada beberapa pandangan yang dari mereka (Rüstow, Lippmann dan Rougier)yang mengikuti forum tersebut itu adalah harus ada perpisahan untuk liberalisme klasik, yang mereka pikir anggap telah gagal untuk menjawab persoalan-persoalan ekonomi yang muncul, terutama saat depresi 1930. Sementara itu peserta lain, seperti Mises dan Hayek tidak yakin untuk mengutuk liberalisme laissez-faire lama.

Akan tetapi endingnya semua peserta bersatu dalam panggilan mereka untuk proyek liberal baru. Mengikuti rekomendasi asli Rüstow, mereka disebut neoliberalisme sebagia nama yang tepat social proyek ini. The neoliberalisme yang keluar dari Colloque Walter Lippmann pada umumnya sejalan dengan teori-teori Rüstow tentang upaya untuk berpaling dari konsepsi laissez-faire menuju ekonomi pasar bebas di bawah bimbingan dan aturan negara yang kuat. Ini merupakan upaya untuk merumuskan anti-kapitalis, anti-komunis Jalan Ketiga. Neoliberalisme pada awalnya didirikan sebagai sesuatu yang sangat berbeda dari radikalisme pasar bebas dengan yang biasanya dikaitkan hari ini[17]. Sosiolog terkenal David Harvey dalam bukunya A Brief History of Neoliberalism (2005), mengungkapkan banyak hal tentang neoliberalisme.Harvey menerangkan bahwa, diawal kemunculannya sejatinya neoliberalisme merupakan landasan teori bagi praktik ekonomi politikyang mengatakan bahwa kesejahteraan manusia dapat ditingkatkan sebaik-baiknya melalui pembebasan kewirausahaan dan ketrampilan individu yang merdeka dalam rangka kelembagaan yang dicirikan oleh hak milik yang kuat, dengan disuport oleh adanya pasar bebas dan perdagangan bebas.

Dalam konteks ekonomi hari ini perdebatan antara neoliberalisme dan liberalisme ekonomi klasik yang beroperasi pada aras produksi dan dokrin tentang laissez-faire memang menjadi sangat kabur, kadang kita dapat melihat bahwa kebijakan negara yang cenderung menekankan adanya konservatisme bahwa aharapan akan ekonomi pasar bebas dapat dibarengi dengan adanya pemerintahan yang berwibawa. Akan tetapi persoalan yang selalu menghantui adalah bagaimana negara-negara yang mengikuti dokrin noeliberalisme cenderung abai terhadap segala persoalan yang terkait dengan elemen-elemen negara sebagai indikator dari pemerintahan yang berwibawa tersebut.demokrasi yang seharusnya menjadi simbol liberalisme juga berlahan digerogoti oleh persoalan-persoalan politik dan kekuasaan yang bobrok dan koruptif.

Selain itu juga yang menarik adalah aspek geopolitik yang harus kita cermati dan kita kritisi.Salah satunya adalah bagaiana posisi barat sebagai pencipta peradaban liberalisme yang agung tersebut kini dinodai oleh kepentingan imperialisme pasar dan ketidak berdayaannya menjadi pemimpin global.Dalam bahasan selanjutnya penulis hendak mengulas secara singkat ikhwal barat dan inkonsistensinya menjadi pemimpin peradaban.Barat USA dan sebagian negara Eropa sudah tergeser oleh kekuatan-kekuatan baru yang lahir dari timur, yang diharapkan mampu mengembalikan semangat liberalisme sesuai dengan landasan filsafatnya.

Inkonsistensi Barat Sebagai Arsitek Liberalisme

Kalau kita teropong dari aspek pandangan sejarah tentang lahirnya gagasan libaralisme, maka barat atau Eropa dan Amerika menjadi rujukan utamanya.Dalam paparan diatas semangat liberalisme lahir dari rahim kegelisahan bangsa barat terutama beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat.Tapi ada beberapa titik yang harus kita termati, agar kita tidak terjebak dalam persoalan geopoliti yang nampak seperti benang kusut.Ada salah satu buku yang menarik yang dutulis oleh Kishore Mahbubani yang berjudul “Asia Hamisfer Baru Dunia; Pergeseran Kekuatan Global ke timur yang Tak Terelakan” yang dtulis pada tahun 2011, manuskrip tersebut berusaha menggambar sketsa kekuatan global, sketsa kekuatan global tersebut dibagi dalam tiga skenario. Untaian pemikiran sang Professor tersebut bisa dianggap sebagai sebuah anti thesis dari buku Francis Fukuyama The End of History and The Last Man, yang banyak memuji konsistensi barat sebagai pemimpin dalam pemeritahan global (gobal government). Fukuyama memberikan pemahaman bahwa demokrasi liberal yang dikumandangkan oleh barat merupakan salah satu jalan yang bijak, dalam bukunya ia mengatakan:

 

In it, I argued that a remarkable consensus concerning the legitimacy of liberal democracy as a system of government had emerged throughout the world over the past few years, as it conquered rival ideologies like hereditary monarchy, fascism, and most recently communism. More than that, however, I argued that liberal democracy may constitute the “end point of mankind’s ideological evolution” and the “final form of human government,” and as such constituted the “end of history”[18].

 

Memang tidak dapat disangkal bahwa barat memegang peran yang sangat besar dalam mengawal dan menjaga stabilitas global, akan tetapi sekarang banyak hal kita anggap bahwa barat tidak lagi konsisten sebagai simbol penyuara kebebasan atau liberalisme dan pemiara serta pemimpin dunia, karena banyak cacat yang telah dilakukan oleh barat.

Krisis 2008 seharusnya menjadi renungan bagi barat untuk besikap lebih arif ketimbang mempertahan egonya untuk menjadi nomor wahid di pelataran kekuatan global.Didalam kebijakan ekonomi, negara barat AS dan Uni Eropa telah melakukan langkah-langkah yang justru dirasa merugikan warga negaranya sediri, diantaranya adalah dengan melakukan proteksionisme perdagangan yang tidak hanya membatasi eksport negara-negra berkembang terhadap barat.Padahal barat sendiri yang sedari awal mengkampanyekan perdagangan bebas. Ketika awal mula Jepang bergabung dalam perdagangan bebas dunia, Jepang pun awalnya sebagai bangsa Asia yang berhasil memberikan pengaruh terhadap negara-negara macan Asia lainnya, sebelum akhirnya Jepang mendeklarasikan ikut bergabung dalam barisan Negara-negara barat.

Tapi sungguh ironis manakala China, India, Korea Selatan, dan Taiwan berusaha mengikuti kesuksesan barat, justru baratlah yang enggan untuk menerima bangsa-bangsa Asia sebagai mitra dalam perdagangan internasional. Kebijakan-kebijakan barat kerap merugikan negara-negara yang sedang berkembang, khususnya Asia da Afrika, serta Amerika Selatan. Sebuah bayang-bayang ketakutan akan perubahan cerita imperium barat menjadi semacam elegi untuk mereka. Apakah barat merasa takut terkait beberapa capaian yang menimpa Asia, Afrika dan negara Eropa timur? Kita dapat menyaksikan bahwa selama 20 tahun terakhir China, India, Unisoviet, Eropa Timur dan Afrika bergabung dalam tataran ekonomi global. Masuknya negara-negara tersebut ternyata menciptakan ledakan energi dahsyat dan semangat entrepreneur yang memantapkan Negara-negara tersebut menjadi negara yang optimis mengembangkan perusahaan manufaktur.

 

Persoalan baru yang muncul di permukaan adalah para pembuat kebijakan di AS pelan-pelan mulai krisis harapan terhadap kemampuan dan keyakinan masyarakat mereka untuk siap siaga dalam menghadapi serta berkompetisi dengan kekuatan-kekuatan baru yang muncul dari daratan Asia terutama dari China dan India.

Derasnya aliran modernitas yang terjadi Asia sampai detik ini tidak begitu saja disambut dengan hangat oleh bangsa-bangsa barat, barat nampaknya masih bernafsu untuk menjadi pemimpin kerajaan dunia. Saya mencoba melihat realitas bahwa barat sebenarnya sah-sah saja ketika bersikukuh untuk mempertahankan jaring-jaring kekuasaannya atau imperiumnya, tapi pertanyaanya adalah apakah barat sampai detik ini masih konsisten dalam memegang amanah sebagai penjaga rumah atau pemerintahan global?.

 

Nampaknya barat sudah tidak kompeten lagi untuk memegang tampuk kekuasaannya, Negara barat (AS, Uni Eropa dan Jepang) sudah melenceng dari harapan 7,2 milyar umat dunia. Berbagai kebijakan-kebijakan barat acap kali tidak menguntungkan bagi negara-negara seperti Asia, Afrika, dan beberapa Negara di Amerika Utara.Invasi dan pendudukan atas irak cukup sudah menjadi cacat permanen yang telah barat lakukan, belum lagi Invasi terhadap Afganistan yang sampai sekarang masih menyisakan sakit yang berkepanjangan. Meskipun atas nama demokrasi Barat (AS) kini melakukan tindakan yang tidak proporsional, ikut mencampuri tatanan negara-negara lain, padahal negara tersebut memiliki mekanisme kebijakan sendiri selain demokrasi yang barat tawarkan.

 

Namun jika kita melihat dari kasus yang berbeda, ketidak konsistenan barat atau AS nampak sekali dalam kebijakan luar negarinya.Akan muncul pertanyaan mengapa demokrasi yang mereka puja-puja hingga mengorbankan banyak hal tidak mampu menembus dinding pemerintahan di Arab Saudi yang masih berisfat monarki? Demokrasi yang mereka promosikan masih tebang pilih, apakah Barat atau AS takut kelak tidak mendapatkan asupan minyak dari Negara Arab?, itu mungkin yang harus disadari barat sebagai salah satu indikator inkonsistensi mereka. Belum lagi kebijakan-kebijakan mereka yang sangat hegomonial di lembaga-lembaga fital dunia, baik itu dewan keamanan PBB, IMF, World Bank, dst. Sikap arogansi dan kecongkakan masih menyelimuti alam fikir barat.Dapatkah barat mengembalikan kepercayaan kita pada kesejatian liberalisme yang selalu menyuarakan; kebebasan, persamaan dan persaudaraan?


*Andi Tri Haryono adalah Pemuda Desa, Alumni Program Magister Management Universitas Diponegoro tahun 2012, Sekarang juga menjadi Pengajar di FE Universitas Pandanaran, Penulis juga aktif di Rumah Buku Simpul Semarang dan Democracy Wach Organization, Penulis sedang menyelesaikan bukunya tentang Genealogi Pemikiran Ekonomi. Untuk berdiskusi langsung dengan penulis bisa melalui email: triharyonoandi@gmail.com atau andi_triharyono@yahoo.com.

[1]Mengenai Blowind in the wind dan ulasannya tentang civil right movementpada tahun 1960an dapat dibaca lebih detai dalam artikel yang ditulis oleh Bob Cohen (2008-01-28).“How Blowin’ In The Wind came to be”. Dan dapat dilihat dalam tautan berikut  RightWingBob.com.

[2]Godwin, Kenneth et al. “School choice tradeoffs: liberty, equity, and diversity”  University of Texas Press, Austin, 2002. p. 12

[3]The state of nature has a law of nature to govern it, which obliges every one; and reason, which is that law, teaches all mankind who will but consult it that, being all equal and independent, no one ought to harm another in his life, health, liberty, or possession. Kata dalam kurung dalam kutipan diatas penulis tambahkan sendiri, untuk lebih detailnya dapat dilihat dalam, John Locke,(1689) Second Treatise of Government ([1689] 2010), hal 5.  

 

[4]To prohibit a great people, however, from making all that they can of every part of their own produce, or from employing their stock and industry in the way that they judge most advantageous to themselves, is a manifest violation of the most sacred rights of mankind”.  Pendapat Smith penulis kutip dari : Adam Smith [1776] 1937, “An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations”, volume I, Buku IV, chapter VII Edited by Edwin Cannan and George J. Stigler, Originally published: New York The Modern Library, 1937, pg. 769.

[5] [Without trade restrictions] the obvious and simple system of natural liberty establishes itself of its own accord. Every man…is left perfectly free to pursue his own interest in his own way…. The sovereign is completely discharged from a duty [for which] no human wisdom or knowledge could ever be sufficient; the duty of superintending the industry of private people, and of directing it towards the employments most suitable to the interest of the society. untuk kata dalam kurung pada kutipan diatas ditambahkan oleh penuis, lebih detailnya dapat dilihat dalam Ibid, Buku ke IV (System of Political Economy) pg. 914.

[6]Without a monopoly, however, a joint stock company, it would appear from experience, cannot long carry on any branch of foreign trade. Kalimat dan kata dalam kurung ditambahkan oleh penulis Dikutip dari opcit, pg. 1008.

[7]Public credit affords such facilities to public prodigality, that many political writers have regarded it as fatal to national prosperity. For, say they, when governments feel themselves strong in the ability to borrow, they are too apt to intermeddle in every political arrangement, and to conceive gigantic projects, that lead sometimes to disgrace, sometimes to glory, but always to a state of financial exhaustion; to make war themselves, and stir up others to do the like; to subsidise every mercenary agent, and  deal in the blood and the consciences of mankind; making capital, which should be the fruit of industry and virtue, the prize of ambition, pride, and wickedness. These are by no means hypothetical cases: but the reader is left to make the application himself. Dalam kutipan diatas(kata dalam kurung ditambahkan oleh penulis), bebih jelasnya, Lihat Jean-Baptiste Say, [1803] 1880,” A Treatise on Political Economy; or the Production, Distribution, and Consumption of Wealth”, buku tersebut dialih bahasakan dalam bahasa Inggris oleh  C. R. Prinsep, M. A, Batoche Books, Canada, 2001, p 254

[8]Gianni Vaggi and Peter Groenewegen, A concise history of economic thought: from mercantilism toMonetarism, Palgrave Macmillan, New York, 2006, p 119

[9]Gianni Vaggi and Peter Groenewegen, ibid p 119.

[10] Lihat Steven G. Medema dan Warren J. Samuels dalam “The History of Economic Thought: A Reader” Routledge, London, 2003, p 245

[11]Ibid.

[12]Classical Liberalism vs. Modern Liberalism and Modern Conservatism”.National Center for Policy Analysis.Retrieved 2013-11-20.

[13] ibid

[14] Lihat John A. Garraty, The Great Depression (1986)

[15]Charles Duhigg, “Depression, You Say? Check Those Safety Nets”, New York Times, March 23, 2008

[16] Pendapat tersebut diungkapkan oleh  Philip Mirowski, dan Dieter Plehwe, dalam The road from Mont Pèlerin: the making of the neoliberal thought collective, Harvard University Press, 2009, ISBN 0-674-03318-3, p. 14-15

[17] Untuk lebih jelasnya tentang sejarah gerakan neoliberalisme dapat dibaca dalam artikel yang ditulis oleh Oliver Marc Hartwich, Neoliberalism: The Genesis of a Political Swearword, Centre for Independent Studies, 2009, ISBN 1-86432-185-7, p. 18–19

[18] Lihat Francis Fukuyama, dalam The End History and The Last Man, New York: Macmillan inc, 1992, p xi.

FacebookTwitterGoogle+Share