<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AkademiMerdeka.org &#187; Country: Indonesia</title>
	<atom:link href="http://akademimerdeka.org/i/id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akademimerdeka.org</link>
	<description>Libertarianisme di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei</description>
	<lastBuildDate>Wed, 19 Oct 2011 02:42:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Manfaat perdagangan bebas: Belajar dari sejarah</title>
		<link>http://akademimerdeka.org/2011/09/06/manfaat-perdagangan-bebas-belajar-dari-sejarah/</link>
		<comments>http://akademimerdeka.org/2011/09/06/manfaat-perdagangan-bebas-belajar-dari-sejarah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Sep 2011 06:51:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>munirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Country: Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Country: Semua Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Front page: Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Front page: Today's Highlight]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi pasar]]></category>
		<category><![CDATA[pasaran bebas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademimerdeka.org/?p=327</guid>
		<description><![CDATA[Perdagangan telah menjadi topik kebijakan publik yang paling hangat diperdebatkan berabad-abad lamanya. Salah satu debat yang paling hangat adalah debat antara pendukung perdagangan bebas dan pendukung proteksionisme.  Debat mengenai subjek ini selalu melahirkan  pandangan yang saling bertentangan dan menarik perhatian ekonom, politisi, aktivis juga serikat buruh.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perdagangan telah menjadi topik kebijakan publik yang paling hangat diperdebatkan berabad-abad lamanya. Salah satu debat yang paling hangat adalah debat antara pendukung perdagangan bebas dan pendukung proteksionisme.  Debat mengenai subjek ini selalu melahirkan  pandangan yang saling bertentangan dan menarik perhatian ekonom, politisi, aktivis juga serikat buruh. </p>
<p>Perdagangan bebas semakin meningkat dalam beberapa dekade terakhir ini utamanya karena ada upaya-upaya serius untuk mengkoordinasikannya secara internasional melalui perjanjian seperti Perjanjian Bea-Masuk dan Perdagangan (GATT) dan lembaga seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) (Stiglitz and Charlton, 2005). </p>
<p>Tetapi perdagangan bebas masih perlu ditingkatkan terutama bagi negara-negara berkembang karena mereka tidak mempunyai kekuasaan politik dan ekonomi sebesar negara-negara maju untuk mencapai tujuan kebijakan perdagangan. Kepentingan beberapa kelompok di negara-negara maju, terutama sektor pertanian, menghambat kemajuan perdagangan bebas seperti yang terlihat dalam gagalnya WTO memajukan proses negosiasi dalam Perundingan Doha (Stiglitz and Charlton, 2005). </p>
<p>Kita tidak bisa mengabaikan pelajaran penting dari sejarah mengenai manfaat perdagangan bebas. Para ekonom klasik, yang menulis pada abad ke-18 dan 19, memberi kita sejumlah teori penting mengenai manfaat perdagangan bebas, dan teori-teori ini hingga kini terbukti benar. Tulisan ini akan memaparkan teori-teori yang dikemukakan oleh para ekonom klasik seperti Adam Smith, David Ricardo dan John Stuart Mill. </p>
<p>Douglas Irwin, seorang ekonom terkemuka yang banyak menulis mengenai kebijakan perdagangan, menyatakan bahwa manfaat perdagangan bebas–seperti yang telah dikemukakan oleh John Stuart Mill–dapat dikelompokkan menjadi tiga: manfaat langsung, manfaat tidak langsung, serta manfaat moral dan intelektual (Irwin, 2009). Argumen yang mendukung perdagangan, yang dikembangkan pertama-tama oleh Adam Smith dan kemudian diperluas oleh David Ricardo, menjelaskan manfaat langsung dari perdagangan.  </p>
<p>Adam Smith yang disebut-sebut sebagai bapak ekonomi modern menyatakan bahwa perdagangan luar negeri memainkan peranan penting dalam ekonomi sebuah negara karena perdagangan ini menciptakan pasar, yang permintaannya terhadap barang jauh lebih besar daripada permintaan dalam negeri. Adam Smith menekankan prinsip keunggulan mutlak (absolute advantage)  dalam teori perdagangan bebasnya. Ia menjelaskan bahwa perdagangan memungkinkan penggunaan sumber daya secara efisien karena setiap negara akan memproduksi barang yang menjadi spesialisasinya dan memberinya keunggulan mutlak. Pendapatan nasionalnya akan meningkat. Kenaikan pendapatan semacam ini tidak akan didapat jika perdagangan antar negara dibatasi  (Spiegel, 1991).</p>
<p>Bagi Adam Smith, pemerintah tidak perlu mengatur impor karena aturan seperti itu akan menghalangi pasar dalam negeri dari kompetisi. Kebijakan seperti itu pada dasarnya berusaha “mengarahkan orang untuk menggunakan modalnya dengan cara tertentu, dan karenanya aturan seperti tidak berguna dan merusak” (Smith, 1776: 366).</p>
<p>David Ricardo, yang lahir di London pada akhir abad ke-18 dan telah memberikan kontribusi yang luar biasa dalam pemikiran ekonomi yang mempengaruhi para ekonom hingga hari ini,  memusatkan teorinya pada perdagangan (Spiegel, 1991). Penjelasannya mengenai perdagangan tidak lagi berkisar mengenai keunggulan mutlak,  tetapi keunggulan komparatif (comparative advantage). Keunggulan komparatif menjadi teori yang luar biasa dan sangat berguna untuk menjelaskan manfaat perdagangan bebas. </p>
<p>David Ricardo menjelaskan teori keunggulan komparatif dengan menggunakan model sederhana dimana ia membayangkan dunia hanya berisi dua negara yaitu Inggris dan Portugal. Kedua negara ini memproduksi dan mengkonsumsi dua barang yaitu anggur dan pakaian. Katakanlah Inggris dapat memproduksi satu unit pakaian dalam satu tahun dengan tenaga 100 orang buruh dan satu unit anggur dengan tenaga 120 buruh. Sementara Portugal hanya memerlukan 90 orang buruh untuk memproduksi satu unit pakaian dan 80 orang buruh untuk memproduksi satu unit anggur (Ricardo, 2004).</p>
<p>Meski Portugal jelas memiliki keunggulan mutlak dalam dua barang tersebut, Ricardo menunjukkan pada kita bahwa kedua negara masih akan mendapatkan manfaat bila mereka memiliki hubungan perdagangan. Bagaimana bisa? Jawabannya adalah spesialisasi. Portugal lebih beruntung jika memproduksi anggur sementara Inggris tak terlalu merugi jika memproduksi pakaian. </p>
<p>Dengan memproduksi barang yang memberi mereka keunggulan komparatif, dua negara itu dapat meraih manfaat dari menjalin hubungan dagang. Dengan menekankan keuntungan spesialisasi dan pertukaran, David Ricardo menunjukkan bahwa perdagangan internasional meningkatkan efisiensi, meningkatkan perolehan laba dan standar hidup, serta meningkatkan jumlah komoditi yang tersedia (Spiegel, 1991). </p>
<p>Teori keunggulan komparatif masih menjadi peninggalan David Ricardo yang paling berharga sebagai ekonom. Sungguh peninggalan yang sangat berharga karena dapat menjelaskan  bagaimana negara berkembang sekali pun dapat memiliki kesempatan untuk  meraih manfaat dari perdagangan di pasar internasional.    </p>
<p>Manfaat langsung lain dari perdagangan bebas adalah tersedianya barang yang lebih beragam. Kesejahteraan sebuah masyarakat akan meningkat bila mereka memiliki beragam jenis barang untuk dipilih. Selain itu, keragaman jenis barang juga menguntungkan produsen karena ia membuka kesempatan bagi tumbuhnya produksi barang-barang yang dibutuhkan untuk memproduksi jenis barang yang lebih beragam dan lebih murah ongkos produksinya (Irwin, 2009).   </p>
<p>Kawan karib David Ricardo, John Stuart Mill yang juga dikenal sebagai tokoh penting dalam filsafat, politik dan ekonomi memberikan kontribusi dengan memaparkan manfaat tak langsung dari perdagangan bebas (Spiegel, 1991). Mill menyatakan bahwa perdagangan bebas memperbesar dan memperluas cakupan pasar, dan karena itu produktivitas pun meningkat (Irwin, 2009). Dengan meningkatnya produktivitas, meningkat pula standar hidup warga sebuah negara. Inilah manfaat tak langsung dari perdagangan. </p>
<p>Irwin menekankan dua cara penting bagaimana perdagangan internasional menumbuhkan produktivitas:  dengan memudahkan proses pengalihan teknologi yang meningkatkan produktivitas, dan dengan meningkatkan tingkat kompetisi. </p>
<p>Kemajuan teknologi dapat dialihkan dengan mengimpor barang modal yang merupakan hasil dari upaya riset dan pengembangan (Irwin, 2009). Penting untuk dicatat di sini bahwa ada beberapa pengetahuan yang merupakan barang publik (public good).* Dengan membuka diri terhadap perdagangan internasional sebuah negara mendapatkan kesempatan yang lebih banyak untuk meningkatkan produktivitas melalui alih pengetahuan.    </p>
<p>Kompetisi dalam perdagangan internasional dapat meningkatkan produktivitas karena dapat mengurangi kekuatan pasar sejumlah perusahaan dalam ekonomi. Dengan adanya kompetisi dari negara yang menjadi mitra dagang dan kompetisi dalam pasar dalam negeri, perusahaan didorong untuk menjadi semakin efisien dalam proses produksi mereka. </p>
<p>Selain itu, perusahaan yang berrencana memasuki pasar harus siap menghadapi resiko kompetisi internasional. Karenanya, hanya perusahaan yang sangat produktif yang biasanya berani memasuki pasar ini. </p>
<p>Tak seperti manfaat langsung, produktivitas yang merupakan manfaat tak langsung perdagangan tak mudah diukur. Meski demikian, manfaat tak langsung ini sangat penting karena mereka menunjukkan bahwa perdagangan bebas memberikan sumbangan yang tak terkira bagi pertumbuhan ekonomi dan perbaikan standar hidup. </p>
<p>Manfaat ketiga dari perdagangan adalah manfaat intelektual dan moral. Paparan John Stuart Mill mengenai hal ini tak begitu jelas. Tetapi Irwin menyebutkan sejumlah manfaat tersebut, diantaranya  potensi perdagangan bebas untuk membawa perdamaian dengan menciptakan kesalingtergantungan antar negara, dan juga kesalingpemahaman dan kerjasama. Bagi negara berkembang, perdagangan internasional nampaknya bisa mendorong tumbuhnya rezim dan lembaga negara yang demokratis. Meski manfaat-manfaat ini sulit untuk diukur secara kuantitatif, semakin banyak kajian kreatif yang menunjukkan manfaat non-materil dari perdagangan bebas (Irwin, 2009). </p>
<p>Para ekonom terkemuka di zaman kita, orang-orang yang memiliki visi seperti Adam Smith, David Ricardo dan John Stuart Mill telah mengemukakan argumen luar biasa yang mendukung perdagangan bebas. Argumen mereka masih berpengaruh hingga hari ini. Saya tak mengatakan bahwa perdagangan bebas adalah satu-satunya cara untuk menumbuhkan ekonomi, tetapi ia adalah bagian krusial dalam ekonomi kita dan merupakan alat yang penting dalam membantu negara-negara miskin untuk berkembang. Joseph Stiglitz, Pemenang Nobel Ekonomi, dan Andrew Charlton, yang bersama dengan Stiglitz menulis buku Fair Trade For All: How Trade Can Promote Development (2005), menyatakan bahwa perdagangan internasional memang tidak memadai, tapi penting, bagi pertumbuhan ekonomi negara berkembang.   </p>
<p>Perbalahan antara pendukung perdagangan bebas dan pendukung proteksionisme semestinya sudah selesai sejak lama karena fakta yang mendukung manfaat perdagangan bebas sudah sedemikian jelasnya. Manfaat yang dapat diraih dari perdagangan bebas adalah luar biasa. Lagipula zaman kita ini zaman globalisasi, kerjasama dan kesalingtergantungan. Negara-negara terkemuka semestinya tak membiarkan diri mereka didikte oleh kebijakan peraturan perdagangan yang tak berwawasan jangka panjang. Penentang perdagangan bebas harus mulai mendengar pendapat yang rasional supaya kita bisa mendebatkan kebijakan publik dan isu pembangunan lain yang lebih penting. </p>
<p>Catatan<br />
* Barang publik adalah barang yang penggunaannya tidak menimbulkan permusuhan karena penggunaan barang tersebut oleh satu orang tidak membatasi penggunannya oleh orang lain. Barang publik juga barang yang tidak membuat orang tersisihkan karena setiap orang pasti menggunakan barang itu dan mereka tak mungkin bisa dicegah sepenuhnya dari menggunakannya. Lihat Veldhuis and Mackenzie, 2010.</p>
<p>- &#8211; -</p>
<p>Alecsandra Dragne pernah magang di bagian Pembangunan Fraser Institute pada tahun 2010.  Artikel ini diterjemah dari Majalah Fraser Forum, <a href="http://www.fraserinstitute.org/research-news/research/display.aspx?id=17299">The Fraser Institute</a> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademimerdeka.org/2011/09/06/manfaat-perdagangan-bebas-belajar-dari-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hak Kepemilikan: Soko Guru Kebebasan</title>
		<link>http://akademimerdeka.org/2011/08/16/hak-kepemilikan-soko-guru-kebebasan/</link>
		<comments>http://akademimerdeka.org/2011/08/16/hak-kepemilikan-soko-guru-kebebasan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Aug 2011 04:54:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>munirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Country: Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Country: Semua Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Front page: Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Front page: Today's Highlight]]></category>
		<category><![CDATA[hak asasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademimerdeka.org/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[Hak kepemilikan juga tak bisa dipisahkan dengan kebebasan yang lain. Bagaimana bisa ada kebebasan beragama jika warga negara tidak boleh memiliki rumah ibadah sendiri? Bagaimana bisa ada hak atas privasi bila warga negara tidak boleh memiliki rumah sendiri? Dan bagaimana bisa ada kebebasan untuk berfikir bila warga negara tak boleh memiliki perusahaan penerbitan sendiri?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hak yang terpenting dalam masyarakat manapun adalah hak kepemilikan. Ia membedakan mana milik saya dan mana milik anda.  Ia berisi keistimewaan dan kewajiban yang lahir karena adanya kepemilikan sekaligus hak sang pemilik.  Dengan adanya hak kepemilikan, berarti:</p>
<p>1.	Pemilik harta berhak menggunakan hartanya sekehendak hatinya selama ia tidak melanggar hak kepemilikan orang lain.<br />
2.	 Pemilik harta berhak mengizinkan orang lain menggunakan hartanya baik secara gratis  atau dengan bayaran dan berhak pula melarang orang lain menggunakannya.<br />
3.	Pemilik harta berhak mengalihkan hak kepemilikannya atas sebuah harta kepada orang lain secara gratis atau dengan bayaran.<br />
4.	Pemilik harta berhak atas penghasilan yang didapatnya dari menggunakan atau menjual hartanya. </p>
<p>Ada tiga alasan mengapa hak kepemilikan adalah sebuah keniscyaan bagi kemakmuran. Pertama, dengan hak kepemilikan, seseorang dapat menemukan informasi yang mereka butuhkan untuk menggunakan hartanya secara produktif. Hak kepemilikan memungkinkan adanya pertukaran barang dan pertukaran barang memungkinkan adanya harga pasar. Harga pasar, seperti menurut ekonom Austria terkemuka dan peraih Nobel F. A Hayek, adalah lampu yang mengatur lalu lintas ekonomi. Saya berikan contoh. Jika badai di kawasan Prairie (tiga provinsi di Kanada: Alberta, Manitoba dan Saskatchewan) merusak tanaman gandum di Saskatchewan, harga gandum di provinsi ini akan naik. Ini akan mendorong petani gandum di provinsi lain di Kanada untuk mengirim sebagian gandum mereka ke pasar Saskatchewan dan membuat pembeli di provinsi itu mengurangi konsumsi gandum mereka. Harga lahir karena hak kepemilikan wujud. Perubahan harga membuat penyedia barang dan pembeli merubah pola konsumsi mereka. </p>
<p>Bayangkan jika hak kepemilikan tidak ada. Orang tidak dapat menjual apa yang bukan milik mereka. Tanpa hak kepemilikan tidak akan ada pertukaran barang di pasar. Tanpa pertukaran barang tidak akan ada harga pasar. Dan tanpa harga pasar, informasi yang semestinya ada mengenai bagaimana hak milik mesti digunakan menjadi tidak tersedia. Jika ada badai yang merusak sebagian tanaman gandum di Saskatchewan, gandum dari provinsi lain tidak akan masuk ke pasar Saskatchewan dan konsumen di Saskatchewan tidak akan mengurangi konsumsi mereka. Jika begini skenarionya, kekacauan ekonomi bisa terjadi. Tanpa hak kepemilikan, aktor ekonomi  hanya bisa meraba-raba dalam gelap.  </p>
<p>Alasan kedua mengapa hak kepemilikan merupakan keniscayaan bagi kemakmuran adalah karena hak kepemilikan mendorong individu untuk menggunakan informasi yang ia dapat   untuk menggunakan hartanya secara produktif.  Karena hak kepemilikannya aman, seseorang dapat menghasilkan keuntungan dari menggunakan hartanya secara produktif. Contohnya, setelah mengetahui tingginya harga gandum di Saskatchewan karena badai, petani gandum di Alberta mengirim gandum mereka ke provinsi tetangganya itu. Mereka pun mendapat keuntungan berlebih karena menggunakan informasi yang mereka terima. </p>
<p>Sebaliknya, bila seseorang tidak menggunakan harta mereka secara produktif mereka bisa rugi. Petani gandum di Alberta yang tidak mengirim gandum ke Saskatchewan setelah mengetahui harga gandum di provinsi tersebut naik akan merugi karena mereka tidak menggunakan informasi yang mereka dapat dengan tepat. Hak kepemilikan mendorong pemilik harta untuk menggunakan harta mereka dengan cara yang dapat menghasilkan nilai berlebih dan menghindari cara yang menghancurkan nilai harta mereka. </p>
<p>Alasan terakhir mengapa hak kepemilikan merupakan keniscayaan bagi kemakmuran adalah karena hak kepemilikan memungkinkan adanya kebebasan. Selain pada harta benda, kemakmuran juga tergantung pada kebebasan. Milton Friedman, ekonom yang juga meraih Nobel, mengatakan bahwa untuk dapat menikmati kebebasan sipil, kita harus memiliki hak kepemilikan. Konstitusi Uni Soviet secara resmi menjamin kebebasan berbicara dan berkumpul warga negaranya. Tapi jaminan ini tidak ada artinya karena ekonomi sosialis Uni Soviet menghapus hak kepemilikan warganya. Warga negara Soviet tak boleh memiliki perusahaan percetakan, tidak pula ruang pertemuan. Bagaimana mungkin mereka bisa menikmati kebebasan yang menjadi hak mereka itu? </p>
<p>Hak kepemilikan juga tak bisa dipisahkan dengan kebebasan yang lain. Bagaimana bisa ada kebebasan beragama jika warga negara tidak boleh memiliki rumah ibadah sendiri? Bagaimana bisa ada hak atas privasi bila warga negara tidak boleh memiliki rumah sendiri? Dan bagaimana bisa ada kebebasan untuk berfikir bila warga negara tak boleh memiliki perusahaan penerbitan sendiri? Tak mungkin bisa. Jika warga negara tak memiliki hak kepemilikan, mereka takkan bisa menikmati kebebasan sipil yang paling dasar sekalipun. </p>
<p>Ada dua aktor yang dapat mengancam hak kepemilikan individu: pencuri dan pemerintah. Sebenarnya aktor yang kedua semestinya melindungi kita yang dari aktor yang pertama. Undang-undang, polisi dan pengadilan seharusnya melindungi hak kepemilikan kita dari pihak yang tidak menghormatinya. Tetapi di sebagian besar negara, justru politisi/pemerintah yang bertingkah seperti pencuri. Mereka bahkan menjarah lebih banyak. Pemerintah yang seperti itu menggunakan pajak, inflasi, dan, dalam beberapa kasus, menyita hak milik warga negara secara sewenang-wenang. </p>
<p>Alat yang digunakan pencuri dan pemerintah penghisap untuk melanggar hak kepemilikan individu memang berbeda, tetapi akibatnya sama saja. Jika kita tahu bahwa kita akan kehilangan sebagian pendapatan kita pada perampok, hak kita atas pendapatan kita–dan dengan demikian kemampuan dan motivasi kita untuk menghasilkan pendapatan–menjadi berkurang. Begitupula jika kita tahu bahwa pemerintah akan mengambil sebagian besar pendapatan kita setiap tahun melalui pajak atau cara lain, hak kita atas pendapatan kita–termasuk kemampuan dan motivasi kita untuk menghasilkan pendapatan–menjadi berkurang.   </p>
<p>Sebuah masyarakat yang diatur oleh pemerintah penghisap akan berada dalam situasi yang sama dengan masyarakat yang diganggu oleh pencuri, karena alasan yang sama. Dalam kedua masyarakat itu, hak kepemilikan warganya tidak lagi aman, hingga melemahkan kemampuan dan motivasi mereka untuk mendapatkan kekayaaan. Karena itu, pentinglah kiranya menghalangi pencuri dan pemerintah dari melemahkan hak kepemilikan individu. </p>
<p>Meski banyak cara untuk hidup, hanya ada satu cara untuk hidup bebas dan makmur yaitu melalui sistem yang melindungi hak kepemilikan dengan sungguh-sungguh. Hak kepemilikan adalah landasan bagi masyarakat yang bebas. Hak kepemilikan memungkinkan adanya sistem harga, memberi insentif kepada individu untuk meraih kemakmuran, dan merupakan sokoguru kemerdekaan dan kebebasan. Dengan melindungi hak kepemilikan individu, kita berarti memastikan tumbuhnya peradaban. Jika tidak, kita berarti mendorong musnahnya peradaban. </p>
<p><strong>Bacaan Lanjutan:</strong></p>
<p>Friedman, Milton (1962). <em>Capitalism and Freedom. University of Chicago Press.</em><br />
Rosenberg, Nathan, and L.E. Bridzell, Jr. (1986). <em>How the West Grew Rich: The Economic Transformation of the Industrial World. Basic Books.</em><br />
von Mises, Ludwig (1996). <em>Liberalism: The Classical Tradition. Foundation for Economic Education.</em></p>
<p>- &#8211; -<br />
Peter Leeson adalah BB&#038;T Professor untuk kajian Kapitalisme di Mercatus Center, George Mason University, dan pengarang buku berjudul <em>&#8220;The Invisible Hook: The Hidden Economics of Pirates&#8221;.</em></p>
<p>Artikel ini diterjemah dari Majalah Fraser Forum, <a href="http://www.fraserinstitute.org/research-news/research/display.aspx?id=15830">The Fraser Institute</a> dan pertama kali diterbitkan pada 1 April, 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademimerdeka.org/2011/08/16/hak-kepemilikan-soko-guru-kebebasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Promo Akademi Merdeka Indonesia</title>
		<link>http://akademimerdeka.org/2011/07/12/promo-akademi-merdeka-indonesia/</link>
		<comments>http://akademimerdeka.org/2011/07/12/promo-akademi-merdeka-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jul 2011 09:05:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>munirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Country: Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Country: Semua Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Front page: Featured]]></category>
		<category><![CDATA[video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademimerdeka.org/?p=321</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><iframe width="425" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/Uug-4BMg2sI" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademimerdeka.org/2011/07/12/promo-akademi-merdeka-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahasia Kemakmuran Amerika</title>
		<link>http://akademimerdeka.org/2011/06/22/rahasia-kemakmuran-amerika/</link>
		<comments>http://akademimerdeka.org/2011/06/22/rahasia-kemakmuran-amerika/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2011 09:03:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>munirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Country: Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Country: Semua Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Front page: Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Front page: Today's Highlight]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademimerdeka.org/?p=316</guid>
		<description><![CDATA[Amerika adalah bangsa yang paling makmur di dunia. Tak perlu kita berpanjang lebar mengenai hal ini. Tak ada yang akan menentangnya. Tapi dalam iklim politik dan ideologi hari ini, yang kaya dianggap jahat. Orang umumnya melihat mereka yang lebih makmur dengan benci dan iri. Dan program New Deal (program ekonomi yang diluncurkan di Amerika antara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Amerika adalah bangsa yang paling makmur di dunia. Tak perlu kita berpanjang lebar mengenai hal ini. Tak ada yang akan menentangnya. </p>
<p>Tapi dalam iklim politik dan ideologi hari ini, yang kaya dianggap jahat. Orang umumnya melihat mereka yang lebih makmur dengan benci dan iri. Dan program New Deal (program ekonomi yang diluncurkan di Amerika antara 1933-1936 untuk mengurangi dampak Depresi Besar tahun 30an, pen.) mengukuhkan keburukan orang yang memiliki kekayaan melebihi orang kebanyakan dan memastikan pemerintah untuk menyamaratakan kekayaan dan pendapatan dengan sistem pajak yang menjerat. </p>
<p><strong>Kemakmuran Amerika dalam Pandangan orang Non-Amerika </strong><br />
Kebanyakan orang Amerika gagal menyadari bahwa gagasan yang membentuk bias anti-kapitalis dalam kebijakan dalam negeri mereka juga menentukan sikap bangsa lain terhadap Amerika Serikat. Seperti cara kalangan progresif di Amerika memandang kalangan pengusaha di negaranya, rata-rata orang Eropa–apalagi orang Asia dan Afrika– memandang Amerika dengan penuh rasa iri dan benci. Mereka menjelek-jelekkan Amerika karena ia lebih makmur dari negara mereka.  Menurut mereka, semua orang Amerika itu jahat karena menikmati standar hidup yang lebih tinggi daripada mereka. Kelompok “progresif” di Eropa mengecam politisi dan penulis yang mendukung kebijakan pemerintah mereka yang pro-Amerika dalam Perang Dingin. Sama halnya  dengan kalangan “progresif” di Amerika yang mengecam ekonom yang berani menentang program New Deal sebagai penjilat kelompok borjuis pemeras. </p>
<p>Milyaran dolar yang dibagi-bagikan Pemerintah Amerika Serikat di seluruh dunia belum bisa mengurangi sentimen anti-Amerika ini. Bantuan yang diberikan Amerika, kata orang sosialis, tak ada apa-apanya, tak setara dengan jumlah hutang Amerika kepada manusia lain. Dalam pandangan mereka, kemakmuran Amerika Serikat semestinya dibagi-bagikan secara merata pada semua bangsa. </p>
<p>Orang non-Amerika yang radikal menggangap kenyataan orang Amerika tinggal di rumah yang dilengkapi dengan peralatan canggih dan mengendarai mobil sementara jutaan orang non-Amerika hidup serba kekurangan sebagai pelanggaran terhadap hukum alam. Memalukan betul, ujar mereka, melihat keturunan orang yang menciptakan peradaban Barat hidup dalam kondisi serba terbatas, sementara orang Amerika yang hanya pencari uang menikmati hidup mewah. </p>
<p>Menurut intelektual dari kalangan ini, manusia terbagi menjadi dua kelompok: di satu sisi orang Amerika yang mengeksploitasi dan di sisi lain orang miskin yang dieksploitasi. </p>
<p>Intelektual komunis menyandarkan harapan pembebasan mereka pada Uni Soviet. Sementara kalangan moderat berharap agar PBB suatu hari akan menjadi pemerintahan dunia yang efektif yang akan menyamaratakan pembagian pendapatan di seluruh dunia dengan pajak progresif, seperti halnya aturan pajak di negara mereka. Kedua kelompok ini sepakat menolak apa yang mereka namakan kebijakan pro-Amerika di negara mereka dan memilih sikap netral sebagai langkah awal menuju berdirinya tatanan sosial yang adil. </p>
<p>Bercampurnya sentimen anti-Amerika dan anti-kapitalis memainkan peranan penting dalam masalah-masalah dunia saat ini. Sentimen ini mendorong tumbuhnya simpati kepada Uni Soviet dan menggagalkan upaya-upaya terencana untuk membatasi membesarnya pengaruh kekuasaan Rusia. Simpati ini bisa jadi menghancurkan peradaban Eropa dari dalam. </p>
<p><strong>Pandangan Rappard terhadap Kemakmuran Amerika</strong><br />
Orang-orang Eropa, yang patriotik dan masih berakal sehat, khawatir. Mereka sadar akan bahaya yang ditimbulkan oleh ideologi netral yang diikuti oleh dua kelompok di atas. Mereka ingin membongkar kekeliruan ini. Tapi mereka terhambat oleh kenyataan bahwa doktrin anti-Amerika ini didukung oleh teori ekonomi–atau lebih tepatnya teori ekonomi semu– yang diajarkan di universitas negara-negara mereka dan diterima oleh semua partai politik. </p>
<p>Berdasarkan ide-ide yang mempengaruhi kebijakan dalam negeri negara-negara Eropa, dan juga kebijakan dalam negeri Amerika Serikat, kesengsaraan seseorang adalah akibat dari adanya sebagian orang yang memiliki harta terlalu banyak untuk diri mereka sendiri. Karenanya cara yang paling mujarab untuk mengentaskan kemiskinan adalah dengan menggunakan campur tangan pemerintah untuk membagi-bagikan secara merata apa yang disebut sebagai pendapatan nasional. Sayangnya tak ada yang menjelaskan bahwa doktrin ini dan kesimpulan praktis yang digali darinya terbatas pada kondisi di dalam negara itu dan tidak boleh diterapkan dalam hubungan internasional untuk menyamaratakan pembagian pendapatan dunia. </p>
<p>Hambatan ideologis yang mencegah orang Eropa, yang mau menyerang mentalitas anti-Amerika, nampaknya hampir tak dapat diatasi. Tetapi, ada saja penulis terkemuka yang menghadapi segala kesulitan ini dan menerbitkan sebuah esei yang membicarakan inti persoalannya. </p>
<p>Ia adalah Profesor William E. Rappard [1883-1958]. Namanya tak begitu dikenal di Amerika. Sejarawan dan ekonom luar biasa yang lahir di New York ini, lulusan sebuah universitas di Amerika dan mengajar di Harvard. Ia adalah salah satu ahli terkemuka di bidang hubungan ekonomi dan politik internasional. Bukunya dalam Filsafat Politik, The Crisis of Democracy, yang terbit pada 1938 akan diingat dalam bidang sejarah gagasan sebagai sangkalan yang paling mantap terhadap Komunisme dan Nazisme. Hanya sedikit pengarang yang penilaian, kemahiran dan kenetralannya sehebat Rappard. </p>
<p>Dalam bukunya, The Secret of American Prosperity, Profesor Rappard tidak pro-Amerika dan tidak juga anti-Amerika. Tanpa terikat mana-mana pihak, ia berusaha mengidentifikasi faktor-faktor yang melahirkan keunggulan ekonomi Amerika. Ia memulai bukunya dengan menyajikan data-data statistik, kemudian menguji dengan kritis penjelasan yang diberikan oleh pengarang-pengarang yang lebih lama dan yang lebih baru darinya. Kemudian ia menyajikan analisisnya tentang sebab-sebab kemakmuran Amerika. Dalam pengamatan Rappard, sebab-sebab itu dapat dikelompokkan dalam empat tema, yaitu produksi massal, penerapan ilmu pengetahuan dalam produksi, gairah produktivitas, dan semangat kompetisi. </p>
<p>Kesimpulan Profesor Rappard ini penting secara politik karena ia menunjukkan bahwa kemakmuran Amerika dicapai karena faktor-faktor dalam Amerika Serikat sendiri. Keunggulan Ekonomi Amerika adalah fenomena Amerika. Ia adalah hasil pencapaian orang Amerika. Kemakmuran ini tidak lahir atau berkembang di atas penderitaan bangsa lain. Tak ada eksploitasi terhadap “negara miskin”. Tak ada orang non-Amerika yang menjadi miskin karena Amerika sejahtera. </p>
<p>Profesor Rappard dengan hati-hati menghindari perbincangan tentang kontroversi mengenai sikap bangsa-bangsa Eropa terhadap Amerika Serikat. Ia bahkan tidak menyebut doktrin eksploitasi dan keluhan yang disampaikan orang yang mengaku-aku miskin. Tapi buku ini menghancurkan doktrin palsu itu sekaligus program politik yang dilahirkan darinya. </p>
<p>Tak dapat diragukan lagi, menurut Profesor Rappard, bahwa “kemakmuran sebuah negara sangat tergantung pada kehendak negara itu.  Dengan demikian, sebuah negara akan menjadi lebih kaya dan ekonominya lebih produktif karena penduduknya menginginkan demikian.” Amerika makmur karena rakyatnya menginginkan kemakmuran dan memilih kebijakan yang sesuai dengan tujuan itu. </p>
<p><strong>Kemakmuran dan Modal </strong><br />
Empat faktor yang dianggap oleh Profesor Rappad sebagai sebab-sebab yang mendorong produktivitas tenaga kerja di Amerika Serikat tentu tak terbatas hanya untuk Amerika Serikat saja. Faktor-faktor itu adalah ciri utama mode produksi kapitalis yang berasal dari Eropa Barat dan kemudian menyebar ke Amerika Serikat. Produksi massal adalah inovasi penting Revolusi Industri. Dulu, pengrajin menghasilkan produknya dengan menggunakan alat-alat primitif di bengkel-bengkel kecil hanya untuk memenuhi kebutuhan orang-orang kaya yang terbatas jumlahnya. Sistem pabrik melahirkan metode produksi dan pemasaran yang baru. Tujuannya adalah untuk menghasilkan barang yang murah untuk orang banyak. Prinsip ini, dengan prinsip kompetisi, menyebabkan berkembangnya perusahaan-perusahaan yang efisien dan hilangnya perusahaan-perusahaan yang tidak efisien. </p>
<p>Kecendrungan ini kini lebih kuat dirasakan di Amerika Serikat daripada di negara-negara Eropa. Tapi ini terjadi karena penolakan terhadap bisnis besar dan    kemampuan kompetitifnya yang lebih unggul muncul lebih awal di Eropa daripada di Amerika Serikat dan jauh lebih kuat dalam mengekang individualisme bisnis. Jadi perbedaan antara Eropa dan Amerika Serikat bukan terletak pada jenis tetapi pada tingkat permusuhan.</p>
<p>Terkait faktor penerapan ilmu pengetahuan dalam produksi dan gairah produktivitas, tak banyak perbedaan antara Amerika dan Eropa. Setiap pengusaha, di mana pun, mesti memiliki tekad yang kuat untuk membuat usahanya seproduktif mungkin. Mengenai faktor penerapan ilmu pengetahuan dalam produksi, Profesor Rappard menyatakan bahwa para penulis Amerika yang paling bijak dan jujur mengakui bahwa “penelitian yang berhasil lebih banyak dilakukan oleh orang Eropa, yang bekerja baik di negara mereka atau di labolatorium-labolatorium di Amerika.”  Jadi menurut Rappard, keunggulan industri Amerika bukan karena menemukan kebenaran teoritis baru tetapi dengan segera menerapkan dan terus meningkatkan kualitas penemuan yang ada dari mana pun datangnya.</p>
<p>Dengan menyatakan ini, Profesor Rappard memberi kita jawaban tegas atas masalah yang ia teliti. Industri Amerika dapat menjadi unggul karena pabrik, bengkel, kebun, dan pertambangan mereka dilengkapi dengan alat dan mesin yang lebih baik dan efisien. Karenanya, produktivitas marjinal tenaga kerja dan rata-rata upah di Amerika lebih tinggi daripada di tempat lain. Karena rata-rata jumlah dan kualitas barang yang dihasilkan dalam waktu yang sama oleh jumlah tenaga yang sama lebih banyak dan lebih baik, maka lebih banyak barang yang lebih baik tersedia untuk dikonsumsi. Inilah rahasia kemakmuran Amerika. </p>
<p>Sebetulnya metode produksi modern yang paling baik bukanlah rahasia lagi. Semua ini diajarkan di berbagai universitas dan dijelaskan dalam buku ajar dan majalah teknologi. Ribuan anak-anak muda berbakat dari negara-negara yang ekonominya terbelakang memiliki pengetahuan mengenai metode-metode ini dari lembaga pendidikan dan bengkel-bengkel di Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman dan negara-negara barat lainnya. Lagipula banyak insinyur, ahli kimia, dan ahli pertanian Amerika yang siap menawarkan keahlian mereka kepada pengusaha negara-negara berkembang. </p>
<p>Setiap pengusaha cerdas–tak hanya di Eropa Barat, tapi hampir di seluruh dunia–terobsesi untuk melengkapi pabrik mereka dengan alat modern yang paling efisien. Tapi meski demikian, mengapa hanya perusahaan-perusahaan Amerika (dan Kanada) yang memanfaatkan pencapaian teknologi modern dan kemudian melesat jauh meninggalkan negara-negara lain? </p>
<p>Adalah ketidakmemadaian persediaan modal yang menghambat negara-negara lain meningkatkan efisiensi sistem produksi industri mereka. Pengetahun teknologi dan gairah produktivitas tidak akan ada gunanya jika modal yang dibutuhkan untuk mendapatkan peralatan baru dan penerapan metode baru tidak memadai. </p>
<p>Yang membuat kapitalisme modern memungkinkan negara-negara Eropa Barat, Eropa Tengah dan kemudian Amerika Utara memimpin dalam tingkat produktivitas adalah karena karena negara-negara itu menciptakan suasana politik, hukum dan kelembagaan yang melindungi akumulasi modal. Yang menghambat India menggantikan pembuat sepatu yang tak efisien dengan pabrik sepatu yang efisien adalah ketidakcukupan modal. Sayangnya, karena pemerintah India malah merebut aset kapitalis asing dan menghambat pengumpulan modal warga negaranya sendiri, jalan keluar untuk masalah ini jadi tertutup. Akhirnya, jutaan orang India mesti berjalan tanpa alas kaki, sementara orang Amerika dapat membeli beberapa pasang sepatu setiap tahunnya. </p>
<p>Keunggulan ekonomi Amerika adalah karena adanya persediaan modal yang banyak. Kebijakan-kebijakan yang katanya progresif, yang menghambat orang untuk menabung dan mengakumulasi modal, atau malah mendorong mereka untuk tidak menabung dan tidak mengakumulasi modal, diterapkan lebih awal di Eropa daripada di Amerika. Sementara Eropa menjadi semakin miskin karena persenjataan yang berlebihan, menjajah, kebijakan-kebijakan anti kapitalis, dan akhirnya karena perang dan revolusi, Amerika Serikat menerapkan kebijakan yang pro-bisnis. Saat itu, orang Eropa melihat kebijakan ekonomi Amerika sebagai kebijakan yang terbelakang. Tapi justru karena “keterbelakangan” ini, akumulasi modal di Amerika jauh melebihi jumlah modal yang tersedia di negara-negara lain. Ketika Amerika menerapkan program New Deal yang meniru kebijakan Eropa yang anti-kapitalis, ia sudah mendapatkan kelebihan yang masih dimilikinya hingga kini. </p>
<p>Kekayaan, kata Marx, bukan berasal dari pengumpulan komoditi, tapi pengumpulan modal. Pengumpulan ini adalah hasil dari tabungan. Doktrin yang anti-tabungan, yang anehnya disebut Ekonomi Baru yang pertama-tama dikembangkan oleh Foster dan Cathcing dan kemudian dibentuk oleh Keynes, tak dapat dipertahankan.</p>
<p>Jika kita ingin meningkatkan kondisi ekonomi, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, standar upah dan standar hidup, kita mesti mengumpulkan lebih banyak modal supaya bisa terus berinvestasi. Tak ada cara lain untuk meningkatkan jumlah modal yang tersedia kecuali dengan memperbesar tabungan, dengan menghilangkan faktor ideologi dan kelembagaan yang membatasi tabungan atau mendorong orang untuk berhenti menabung dan mengumpulkan modal. Ini yang negara-negara berkembang mesti pelajari. </p>
<p>Artikel ini terbit dalam The Freeman, November 1955</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademimerdeka.org/2011/06/22/rahasia-kemakmuran-amerika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akademi Merdeka (Indonesia) V</title>
		<link>http://akademimerdeka.org/2011/06/02/akademi-merdeka-indonesia-v/</link>
		<comments>http://akademimerdeka.org/2011/06/02/akademi-merdeka-indonesia-v/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2011 07:28:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>munirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Country: Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Country: Semua Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Front page: Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Front page: Today's Highlight]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademimerdeka.org/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[AkademiMerdeka.org dan Freedom Institute mengundang mahasiswa-mahasiswi untuk mengikuti Akademi Merdeka Indonesia angkatan ke-5 yang akan diselenggarakan di Jakarta pada hari Jumat-Minggu, 24-26 Juni.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Freedom Institute mengundang mahasiswa-mahasiswi untuk mengikuti Akademi Merdeka Indonesia angkatan ke-5 yang akan diselenggarakan di Jakarta pada hari Jumat-Minggu, 24-26 Juni.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Apakah Akademi Merdeka?</strong></p>
<p>Akademi Merdeka adalah kursus pendek yang dirancang untuk membantu mahasiswa mengenal ide-ide emansipasi manusia, khususnya sejarah dan filsafat individualisme, hak kepemilikan, pasar, pemerintahan minimal, hak asasi manusia, dan kedaulatan hukum. Forum belajar ini menghadirkan para pakar pemikiran dan fasilitator berpengalaman sebagai mitra belajar bagi mahasiswa. Penyelenggara menyediakan materi bacaan serta akomodasi penginapan dan makan-minum bagi peserta.</p>
<p><strong>Silabus</strong></p>
<p>Akademi Merdeka kali ini bertemakan “Mengenal Ide-Ide Politik dan Ekonomi Modern”.</p>
<p>Freedom Institute bekerjasama dengan Atlas Global Initiative for Free Trade, Peace, and Prosperity dan IDEAS Malaysia mengundang mahasiswa S-1 Indonesia untuk mengikuti workshop terbatas mengenal ide-ide kebebasan individu dalam ekonomi dan politik yang akan diadakan pada hari <strong>Jumat-Minggu, 24-26 Juni, di Green Sentul Indah Hotel &#038; Resort, Bogor, Jawa Barat.</strong></p>
<p>Kami akan memilih 24 peserta berdasarkan kualitas isian Formulir Pendaftaran berikut ini, namun sambil juga pertimbangan ketersebaran asal kampus pendaftar. Deadline pendaftaran adalah Rabu, 15 Juni, pukul 15.00. Jika terpilih, calon peserta akan kami hubungi per email pada hari Kamis esoknya.</p>
<p>Silakan mendaftar via email dengan mengisi formulir pendaftaran berikut ini (<a href="http://akademimerdeka.org/files/media/2011/06/FORMULIR_AM-V.doc" target="blank">formulir pendaftaran </a>) dan mengirimkannya kembali ke standra@freedom-institute.org (cc: aan.tandra@gmail.com) </p>
<p>Peserta terpilih yang konfirmasi akan berhak mengikuti program dengan fasilitas transpor ke dan dari tempat acara-kantor Freedom Institute, akomodasi penginapan (twin-sharing), makan dan minum selama acara, materi program, kaos dan tas Akademi Merdeka, dan sertifikat setelah acara usai. Panitia tidak menyediakan ongkos pengganti transpor maupun per diem bagi peserta, baik yang berangkat/pulang sendiri ke/dari tampat acara maupun dari/pulang ke tempat asal peserta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademimerdeka.org/2011/06/02/akademi-merdeka-indonesia-v/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pajak Progresif dan Ketidaksetaraan</title>
		<link>http://akademimerdeka.org/2011/05/18/pajak-progresif-dan-ketidaksetaraan/</link>
		<comments>http://akademimerdeka.org/2011/05/18/pajak-progresif-dan-ketidaksetaraan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 09:17:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>munirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Country: Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Country: Semua Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Front page: Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Front page: Today's Highlight]]></category>
		<category><![CDATA[inequality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademimerdeka.org/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[Dalam ekonomi pasar yang tidak dikotak-katik oleh pemerintah, pemilik properti adalah mandataris konsumen.  Di pasar setiap harinya ada pemungutan suara untuk menentukan siapa memiliki apa dan berapa banyak. Sekali lagi, konsumenlah yang membuat sebagian orang kaya dan sebagian lain miskin]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pajak Progresif dan Ketidaksetaraan [i] </strong></p>
<p>Ekonomi pasar atau kapitalisme adalah sistem yang berdasar pada kepemilikan swasta atas alat-alat produksi dan usaha swasta. Konsumen, dengan membeli atau tidak membeli, adalah yang menentukan apa yang harus diproduksi, seberapa banyak dan seberapa bagus. Pengusaha yang mengikuti keinginan konsumen akan beruntung, sementara yang tidak mengikuti keinginan utama konsumen tidak akan mendapat untung. Laba didapat oleh orang yang menggunakan faktor-faktor produksi untuk memuaskan kepentingan utama konsumen, sementara kerugian adalah bagi mereka yang tidak dapat melakukan itu. Dalam ekonomi pasar yang tidak dikotak-katik oleh pemerintah, pemilik properti adalah mandataris konsumen.  Di pasar setiap harinya ada pemungutan suara untuk menentukan siapa memiliki apa dan berapa banyak. Sekali lagi, konsumenlah yang membuat sebagian orang kaya dan sebagian lain miskin. </p>
<p>Ketidaksetaraan kekayaan dan pendapatan adalah ciri penting ekonomi pasar. Ia adalah alat yang membuat konsumen menjadi raja dengan memberi mereka kekuasaan untuk memaksa semua yang terlibat dalam produksi untuk memenuhi perintah mereka. Ia memaksa semua yang terlibat dalam produksi untuk memberikan yang terbaik bagi konsumen. Ini yang melahirkan kompetisi. Yang memberikan yang terbaik kepada konsumen mendapatkan keuntungan lebih banyak dan menjadi kaya. </p>
<p>Dalam tipe masyarakat yang disebut oleh Adam Ferguson, Saint-Simon dan Herbert Spencer (1820-1903) sebagai masyarakat militeristik atau yang kita sebut sekarang sebagai masyarakat feodal, tanah dapat dimiliki secara pribadi karena adanya pemberontakan berdarah atau karena ada derma dari panglima perang yang menang. Sebagian orang memiliki lebih, sebagian lain kurang, dan sebagian lain sama sekali tidak memiliki apa-apa karena pemimpin dalam masyarakat itu menentukan demikian. Dalam masyarakat seperti itu, benar mengatakan bahwa tuan tanah menjadi kaya karena ada orang miskin yang tak memiliki tanah. </p>
<p>Tapi beda halnya dengan ekonomi pasar. Usaha yang besar tidak merugikan, justru meningkatkan kondisi hidup yang lain. Para miliuner mendapatkan kekayaan mereka karena menyediakan benda-benda yang sebelumnya tidak dapat dimiliki oleh sebagian orang. Jika hukum melarang mereka untuk menjadi kaya, kita harus rela untuk hidup tanpa fasilitas dan alat-alat yang sekarang ini sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Orang Amerika menikmati standar hidup tertinggi dalam sejarah dunia karena selama bergenerasi-generasi kita tidak berusaha untuk “menyamaratakan” atau “mendistribusikan” kekayaan. Ketidaksetaraan kekayaan dan pendapatan melahirkan kesejahteraan, bukan penderitaan. Ketika ada tingkat kesetaraan yang lebih rendah, berarti ada juga standar hidup yang lebih rendah. </p>
<p><strong>Tuntutan untuk “Mendistribusikan”</strong></p>
<p>Dalam pendapat para demagog, ketidaksetaraan (kesenjangan) “distribusi” kekayaan dan pendapatan adalah keburukan yang paling terkeji. Keadilan mengharuskan adanya distribusi yang setara. Karenanya, adalah adil dan bijak mengambil harta berlebih orang kaya atau sebagiannya dan memberikannya kepada yang kurang berpunya. Filsafat ini mengandaikan kebijakan seperti ini takkan mengurangi jumlah barang yang diproduksi. Bahkan jika pun ya, jumlah yang ditambahkan pada kemampuan rata-rata untuk membeli jauh lebih kecil dari yang diasumsikan oleh anggapan umum. Kenyataannya, kemewahan orang kaya hanya bagian kecil saja dari keseluruhan konsumsi negara ini. Sebagian besar pendapatan orang kaya tidak dihabiskan untuk konsumsi, tetapi untuk disimpan dan diinvestasikan. Inilah yang justru menyebabkan orang semakin kaya. Jika dana yang semestinya digunakan oleh pengusaha untuk membiayai sektor-sektor produktif diambil oleh negara untuk kepentingannya atau untuk kepentingan konsumsi kelompok masyarakat lain, akumulasi kapital menjadi terhambat dan mungkin terhenti. Jika sudah demikian, tak akan ada peningkatan ekonomi, kemajuan teknologi, dan meningkatnya standar hidup rata-rata. </p>
<p>Ketika Marx dan Engels dalam Manifesto Komunitas merekomendasikan “pajak penghasilan progresif” dan “penghapusan hak waris” sebagai cara untuk “menyita semua modal dari tangan borjuis secara berangsur-angsur,” mereka konsisten dengan tujuan akhir yang ingin mereka capai yaitu menggantikan ekonomi pasar dengan sosialisme. Mereka sadar betul dengan akibat dari kebijakan-kebijakan ini. Mereka dengan terbuka menyatakan bahwa cara-cara itu “riskan secara ekonomi” dan mereka menganjurkannya karena “cara-cara ini akan membukakan jalan” bagi terciptanya tatanan sosialis, dan “satu-satunya cara untuk merubah total mode produksi,” atau dengan kata lain untuk mewujudkan sosialisme. </p>
<p>Tapi beda halnya jika cara-cara yang dianggap oleh Marx dan Engels sebagai “riskan secara ekonomi” ini direkomendasikan oleh orang yang berpura-pura ingin mempertahankan ekonomi pasar dan kebebasan ekonomi. Politisi setengah-setengah ini, jika tidak orang munafik yang ingin mewujudkan sosialisme dengan menyembunyikan tujuan ril mereka dari orang lain, adalah orang pandir yang tak tahu apa yang mereka bicarakan. Pajak progresif terhadap penghasilan dan tanah tidak sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi pasar. </p>
<p>Politisi setengah-setengah akan berargumen seperti ini: “Tak ada alasan bagi pengusaha untuk mengendurkan usahanya hanya karena ia tahu bahwa keuntungan yang didapatnya tidak akan memperkaya dirinya tapi akan menguntungkan semua orang. Bahkan meski jika ia bukan dermawan yang tak peduli dengan uang dan bekerja untuk kebaikan semua orang secara sukarela, ia takkan punya motif untuk mengganti kinerjanya yang efektif dengan yang kurang efektif. Tak benar bahwa satu-satunya insentif yang menggerakan roda industri adalah ketamakan. Mereka mesti terdorong oleh ambisi untuk membuat produk mereka sempurna.”</p>
<p><strong>Konsumen adalah Raja</strong></p>
<p>Argumen yang diajukan oleh politisi setengah-setengah di atas jelas-jelas tak tepat. Yang paling penting bukan perilaku pengusaha tetapi supremasi konsumen. Katakanlah pengusaha berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkan konsumen meski mereka tak mendapatkan keuntungan dari usaha itu. Mereka akan melakukan apa yang menurut mereka terbaik untuk konsumen. Tapi jika demikian, bukan konsumen yang menentukan apa yang mereka dapat, konsumen harus mengambil apa yang pengusaha percaya merupakan yang terbaik bagi mereka. Jika demikian, bukan konsumen yang jadi raja, tetapi pengusaha.  Konsumen tak lagi mempunyai kekuasaan untuk mempercayakan kontrol terhadap produksi kepada pengusaha yang produknya paling mereka sukai dan untuk menempatkan pengusaha yang produknya tidak begitu mereka sukai pada posisi yang lebih rendah dalam sistem. </p>
<p>Jika undang-undang mengenai pajak laba perusahaan, pajak penghasilan individu dan pajak warisan di Amerika sekarang diberlakukan enam puluh tahun lalu, semua produk baru yang penggunaannya menyebabkan peningkatan standar hidup “orang biasa” takkan dapat diproduksi, atau hanya diproduksi dalam jumlah kecil untuk kepentingan segelintir orang saja. Perusahaan Ford tidak akan ada, jika laba yang baru diraih Henry Ford langsung dikenakan pajak. Struktur bisnis kita dari tahun 1895 pun masih akan bertahan. Akumulasi modal mungkin akan berhenti atau paling tidak benar-benar melambat. Perluasan produksi akan tertinggal jauh dari penambahan jumlah penduduk. Tak perlu kita berpanjang-panjang bicara soal akibat dari kondisi seperti itu. </p>
<p>Laba dan rugi memberitahu pengusaha apa yang paling dibutuhkan oleh konsumen. Dan hanya dengan laba, pengusaha dapat menyesuaikan aktivitas usahanya dengan permintaan konsumen. Jika laba ini disita, pengusaha terhambat untuk menuruti keinginan konsumen. Ekonomi pasar pun kehilangan roda pemutarnya, ia hanya menjadi gundukan yang tak berguna. </p>
<p>Orang hanya bisa mengkonsumsi apa yang sudah diproduksi. Masalah besar zaman kita sekarang ini adalah: Siapa yang harus menentukan apa yang diproduksi dan apa yang harus dikonsumsi, rakyat atau negara, konsumen sendiri atau pemerintah? Jika anda memilih konsumen, berarti anda memilih ekonomi pasar. Jika anda memilih pemerintah, berarti anda memilih sosialisme. Tak ada jalan ketiga. Tetapnya tujuan yang akan dicapai oleh masing-masing faktor produksi tak bisa dipisah-pisah. </p>
<p><strong>Tuntunan untuk menyamaratakan</strong></p>
<p>Sebagai raja, konsumen berkuasa untuk menyerahkan kendali atas faktor material produksi dan juga aktivitas produksi kepada mereka yang dapat melayani mereka dengan cara yang paling efisien. Ini berarti ada ketidaksetaraan kekayaan dan pendapatan. Jika seseorang ingin bebas dari ketidaksetaraan, ia harus mengabaikan kapitalisme dan memilih sosialisme. (Masalah apakah sistem sosialis akan benar-benar memberikan kesamarataan pendapatan mesti diserahkan kepada analisis sosialisme.)<br />
Tapi, katakanlah ada orang yang ingin mengambil jalan tengah, yang tak mau menghapuskan ketidaksetaraan seluruhnya, “kami hanya ingin mengurangi tingkat ketidaksetaraan, dari tinggi menjadi rendah.”</p>
<p>Orang-orang ini melihat ketidaksetaraan sebagai sesuatu yang buruk. Mereka tak mengakui bahwa ketidaksetaraan, yang dapat ditentukan oleh penilaian yang bebas dari kesewenang-wenangan dan evaluasi pribadi, adalah sesuatu yang baik dan mesti dipertahankan. Sebaliknya, mereka malah menyatakan bahwa ketidaksetaraan itu buruk dan cukup puas dengan menyatakan bahwa sedikit tak setara lebih baik daripada benar-benar tidak setara. Itu sama dengan mengatakan sedikit racun dalam tubuh manusia tak seberbahaya racun yang banyak. </p>
<p>Jika memang demikian, upaya-upaya menuju penyamarataan, logisnya, takkan pernah berhenti. Penentuan bahwa seseorang sudah mencapai tahap ketidaksetaraan yang cukup rendah hingga upaya penyamarataaan tak perlu lagi dilakukan hanya bisa ditentukan oleh penilaian pribadi yang cukup sewenang-wenang, bisa berbeda-beda satu sama lain, dan dapat berubah seiring waktu. Pendukung penyamarataan memuji tindakan mengambil dari yang kaya dan mendistribusikannya sebagai kebijakan yang hanya melukai sedikit orang (dalam hal ini orang yang dianggap oleh mereka sebagai orang “yang terlalu” kaya) dan bermanfaat bagi mayoritas. Pada saat yang sama, mereka tak dapat menolak argumen orang yang meminta lebih banyak dari kebijakan yang katanya bermanfaat ini. Selama masih ada ketidaksetaraan, akan selalu ada orang yang kedengkiannya mendorong pemberlakuan kebijakan penyamarataan. Tak ada yang bisa dilakukan untuk menghentikan mereka. Jika ketidaksetaraan kekayaan dan pendapatan adalah hal yang buruk, tak ada alasan untuk menerima seberapa rendah tingkatnya; penyamarataan tak boleh berhenti hingga kekayaan dan pendapatan semua orang setara. </p>
<p>Sejarah pengenaan pajak terhadap laba, penghasilan dan tanah di semua negara jelas menunjukkan bahwa ketika tujuan menyamaratakan diadopsi, sulit memeriksa kemajuan kebijakan penyamarataan ini. Jika saja pada saat Amandemen Keenam Belas  diberlakukan seseorang sudah meramalkan bahwa beberapa tahun kemudian tingkat progresivitas pajak akan mencapai tingkat yang kita capai pada hari ini, para pendukung Amandemen tentulah akan menyebut orang itu gila. Jelas bahwa hanya sedikit saja anggota Congress (dewan perwakilan rakyat) yang akan sungguh-sungguh menentang semakin naiknya tingkat pajak progresif jika kenaikan itu diusulkan oleh Pemerintah atau oleh anggota Congress yang ingin terpilih kembali. Karena di bawah pengaruh doktrin yang diajarkan oleh para ekonom palsu kontemporer, semua orang, kecuali kelompok kecil saja, percaya bahwa mereka dirugikan hanya karena pendapatan mereka lebih rendah dari orang lain dan  menghilangkan perbedaan ini bukanlah kebijakan yang buruk. </p>
<p>Tak ada gunanya membohongi diri sendiri. Kebijakan pajak kita sekarang sedang menuju penyamarataan kekayaan dan pendapatan, dan dengan demikian sedang menuju sosialisme. Kecendrungan ini hanya dapat dihentikan dengan memahami peran laba dan rugi serta bagaimana ketidaksetaraan kekayaan dan pendapatan yang disebabkannya berperan dalam ekonomi pasar. Orang harus memahami bahwa akumulasi kekayaan melalui kegiatan usaha yang sukses akan berimbas pada meningkatnya standar kehidupan mereka, dan sebaliknya.  Mereka harus menyadari bahwa menjadi besar dalam bisnis itu tidak buruk, justru karena bisnis besarlah orang Amerika dapat menikmati apa yang disebut sebagai “cara hidup Amerika.”</p>
<p>  &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>i] Artikel ini ditulis pada 1955 ketika tarif pajak tertinggi mencapai 51.2% dari pendapatan<br />
 ii] Amandemen Keenam Belas terhadap Konstitusi Amerika memberikan hak kepada Congress untuk memberlakukan pajak pendapatan tanpa membagikannya kepada negara bagian atau mendasarkannya pada hasil sensus. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademimerdeka.org/2011/05/18/pajak-progresif-dan-ketidaksetaraan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Akademi Merdeka IV Indonesia, 8 – 10 April 2011</title>
		<link>http://akademimerdeka.org/2011/04/14/video-akademi-merdeka-iv-indonesia-8-%e2%80%93-10-april-2011/</link>
		<comments>http://akademimerdeka.org/2011/04/14/video-akademi-merdeka-iv-indonesia-8-%e2%80%93-10-april-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 11:06:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>munirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Country: Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Country: Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Country: Semua Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Akademi Merdeka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademimerdeka.org/?p=301</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><iframe title="YouTube video player" width="480" height="390" src="http://www.youtube.com/embed/GXW99E_EQSk" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p><iframe title="YouTube video player" width="640" height="390" src="http://www.youtube.com/embed/DWuFqRebleY" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p><iframe title="YouTube video player" width="480" height="390" src="http://www.youtube.com/embed/rezQcglinF4" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p><iframe title="YouTube video player" width="480" height="390" src="http://www.youtube.com/embed/KKT_XNJ0uAM" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p><iframe title="YouTube video player" width="480" height="390" src="http://www.youtube.com/embed/MbldfUJhHRY" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p><iframe title="YouTube video player" width="480" height="390" src="http://www.youtube.com/embed/mN5wX4jikVU" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademimerdeka.org/2011/04/14/video-akademi-merdeka-iv-indonesia-8-%e2%80%93-10-april-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mitos Pengundi yang Rasional (Bahagian 1)</title>
		<link>http://akademimerdeka.org/2011/04/14/mitos-pengundi-yang-rasional-bahagian-1/</link>
		<comments>http://akademimerdeka.org/2011/04/14/mitos-pengundi-yang-rasional-bahagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 06:53:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>munirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[-]]></category>
		<category><![CDATA[--]]></category>
		<category><![CDATA[Country: Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Country: Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Country: Semua Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Front page: Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Front page: Today's Highlight]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademimerdeka.org/?p=299</guid>
		<description><![CDATA[Esok ada pilihanraya. Adakah pengundi-pengundi tahu apa yang mereka akan lakukan? Menurut ahli-ahli ekonomi tipikal dan ramai pengamat sains politik – jawapannya adalah “Tidak, tapi ia tidak penting”.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Esok ada pilihanraya. Adakah pengundi-pengundi tahu apa yang mereka akan lakukan? Menurut ahli-ahli ekonomi tipikal dan ramai pengamat sains politik – jawapannya adalah “Tidak, tapi ia tidak penting”.  Bagaimana pula ia jadi tidak penting? Hujah utama ialah kesilapan pilihan orang ramai akan saling membatalkan.[1] Sebagai contoh, sebilangan orang akan menyangka faedah proses penghijrahan adalah kecil, dan yang lain pula akan menyangka faedahnya adalah terlalu besar.  Tetapi asalkan kepercayaan purata para pengundi adalah benar, ahli politik akan menang dengan mempromosikan polisi-polisi penghijrahan berdasarkan kepada fakta. </p>
<p>Contoh ini sangat menenangkan hati, tetapi adakah ia betul? Adakah purata kepercayaan para pengundi adalah benar? Dalam buku saya yang bertajuk serupa (Mitos Pengundi yang Rasional) terbitan Princeton University Press, saya mengkaji banyak bukti dan membuat kesimpulan bahawa jawapannya seterang-terangnya adalah tidak.  Seperti kelkatu yang terbang menuju cahaya panas, pengundi-pengundi selalu tergravitasi kearah kesilapan-kesilapan yang sama. Mereka tidak saling membatalkan kesilapan, tetapi menyebabkannya menjadi lebih besar. </p>
<p>Di dalam esei ini, saya memfokuskan kepada salahfaham orang ramai tentang pengetahuan ekonomi.  Kerana saya memang seorang ahli ekonomi, tetapi sebab yang lebih utama adalah ekonomi merupakan contoh jelas sebuah subjek yang penting dari segi politik (“It’s the economy, stupid,”) tetapi sangat kurang difahami.  Saya merasakan kesilapan orang ramai ini menjangkau lebih jauh dari ruang ekonomi. Terdapat bukti meyakinkan yang mana pendapat masyarakat awam terhadap isu seperti toksikologi dan penyakit barah adalah ‘biased’(berat sebelah)[2].  Dalam dasar luar negeri, juga serupa, kita mempunyai kesan “rally around the flag”, kecenderungan rakyat untuk menyokong peperangan demi peperangan sebaik sahaja ia diumumkan.  Tetapi walaupun jika seorang pengundi biasa boleh faham secara sempurna setiap isu-isu yang bukan berkaitan ekonomi, salah tanggapan tentang ekonomi itu sendiri akan membawa masalah yang serius untuk demokrasi.</p>
<p><strong>MENGENALI TANGGAPAN-TANGGAPAN YANG SALAH INI</strong></p>
<p>Misalkan bahawa salah seorang sarjana mempertahankan pendapat bahawa keyakinan pengundi purata tentang perkara ‘X’ adalah benar, dan seorang yang lain menyangkal hal itu. Untuk perdebatan mereka masuk akal, kedua belah pihak harus mempunyai pengetahuan tentang (a) apa yang pengundi-pengundi biasa percayai, dan (b) kepercayaan mana adalah benar. Bagaimana kita boleh ke dasar perbezaan pendapat semacam ini?</p>
<p> Agak mudah untuk mendapat tahu apa yang pengundi kebanyakan percayai.  Terdapat banyak hasil kajian bermutu tinggi boleh didapati. Perkara yang sukarnya adalah mencari cara untuk meng’gred’kan kepercayaan-kepercayaan atau pendapat-pendapat pengundi umum ini – untuk mencari kayu pengukur di mana pendapat-pendapat ini boleh dibandingkan.</p>
<p>Cara paling mudah dan jelas ialah dengan membandingkan kepercayaan pengundi dengan fakta yang boleh dicari.  Kita boleh Tanya pengundi-pengundi untuk beritahu kita berapa peratuskah dari belanjawan persekutuan digunakan untuk bantuan antarabangsa, dan kemudian kita boleh bandingkan jawapan mereka dengan angka sebenar.  Kajian-kajian yang menggunakan pendekatan ini mendapati pengundi-pengundi biasa sememangnya mempunyai kepercayaan yang aneh. Contohnya, Kajian Nasional tentang Pengetahuan Awam Mengenai Reformasi Kebajikan dan Belanjawan Persekutuan (<a href="http://www.kff.org/kaiserpolls/1001-welftbl.cfm">The National Survey of Public Knowledge of Welfare Reform and the Federal Budget</a>) mendapati bahawa 41% dari warga Amerika mempercayai bantuan antarabangsa adalah satu dari dua perkara terbesar dalam belanjawan persekutuan – dan 14% untuk Keselamatan Sosial  (Social Security).</p>
<p>Kekurangan terbesar pendekatan ini adalah banyak persoalan menarik yang lain menjadi terlalu kompleks untuk diselesaikan dengan sebuah almanac.  Tetapi terdapat satu cermin lain untuk membandingkan pendapat orang ramai ini.  Kita boleh mencari orang-orang yang biasanya akan tahu jawapan sebenar, lalu bandingkan apa yang mereka fikirkan, kemudian periksa jika orang ramai bersetuju.  Siapakah orang-orang yang sebegini? Calon yang paling jelas ialah pakar-pakar.[3]</p>
<p>Untuk lihat sekiranya pendapat umum tentang kesan-kesan ekonomi penghijrahan (immigration) adalah betul, contohnya, anda boleh tanya orang awam dan ahli ekonomi professional, dan perhatikan sekiranya secara purata, mereka bersetuju.  Adakah ini ujian yang tidak akan gagal? Tidak; bahkan pakar-pakar pun pernah salah sebelum ini.  Tetapi ianya sukar untuk menolak anggapan kuat bahawa jika para ahli dan orang awam tidak bersetuju, para ahlilah yang mungkin benar, dan orang awam mungkin salah. Lebih penting lagi, jika anda mempunyai sebab khusus untuk meragui objektiviti para ahli atau pakar, anda boleh mengawalnya.  Kalau anda fikir yang gaji besar para ahli ekonomi membuatkan pendapat mereka jadi berat sebelah, misalnya, anda boleh periksa samada orang-orang biasa dan pakar-pakar berkongsi pendapat setelah membuat penyesuaian secara statistik untuk gaji mereka.  </p>
<p>Inilah pendekatan saya gunakan untuk menganalisa set data terbaik yang tersedia tentang pendapat-pendapat ekonomi, iaitu Kajian tentang pendapat rakyat Amerika dan para ekonomis tentang Ekonomi (<a href="http://www.kff.org/kaiserpolls/1199-econgen.cfm">the Survey of Americans and Economists on the Economy</a>). Penemuan menyeluruh: ahli-ahli ekonomi dan orang awam mempunyai kepercayaan yang berbeza secara radikal terhadap isu-isu ekonomi.[4] Jika dibandingkan dengan para pakar, orang-orang kebanyakan adalah lebih sangsi dan skeptikal terhadap pasaran, terutamanya pasaran antarabangsa dan pasaran buruh, dan adalah lebih pesimis tentang sejarah masa lalu, masa sekarang dan masa depan ekonomi.   </p>
<p>Ketika orang awam melihat konspirasi perniagaan, para ahli ekonomi melihat tawaran dan permintaan. Ketika orang awam melihat persaingan dari orang asing itu menghancurkan orang tempatan, para ahli ekonomi melihat keajaiban kelebihan komparatif. Ketika orang awam melihat pembuangan pekerja atau ‘downsizing’ yang berbahaya, para ahli ekonomi melihat pembahagian semula kekayaan yang meningkatkan tenagakerja. Ketika orang awam melihat kemerosotan, para ahli ekonomi melihat kemajuan. [5]. </p>
<p>Sementara pengkritik terhadap profesyen ekonomi suka meletakkan perkara-perkara ini berpunca daripada kesenangan hidup ahli ekonomi, keselamatan pekerjaannya dan/atau ideologi sayap kanan, fakta-fakta tidak menyebelahi mereka. Membuat data kawalan untuk pendapatan, pertumbuhan pendapatan, keselamatan pekerjaan, jantina, dan bangsa hanya mengurangkan sedikit saja jurang antara pendapat awam-pakar.  Dan, kerana kebiasaannya para ahli ekonomi adalah ahli moderat Parti Demokrat, membuat data kawalan untuk pengenalan parti dan ideology menjadikan jurang pendapat awam-pakar sedikit bertambah. Ahli ekonomi memikirkan yang pasaran-pasaran beroperasi dengan baik bukan kerana ideologi sayap kanan ekstrim mereka, tetapi tanpa dikesankan oleh pendirian lemah sayap kiri mereka.<br />
Dari satu perspektif, kita harusnya sudah dapat menduga penemuan ini dari awal lagi. Daripada zaman Adam Smith, jika tidak lebih awal lagi, ahli ekonomi telah mengeluh bahawa dasar ekonomi dibuat atas kefahaman yang salah, dan cuba untuk membuat kelainan dengan membetulkan prejudis-prejudis anak-anak murid mereka tentang pasaran, perdagangan antarabangsa dan sebagainya.  Para ahli ekonomi mengekalkan tradisi ini hingga ke hari ini bila mereka mengajar siswa-siswa, menulis untuk bacaan audiens popular, atau bila berbual-bual sesama sendiri.  Dalam dekad-dekad kebelakangan ini,  bagaimanapun, kajian ekonomi telah didasarkan pada andaian sebaliknya iaitu bahawa kepercayaan pengundi kebanyakan adalah benar. Apa yang mengejutkan tentang hasil penyelidikan saya adalah bahawa saya bandingkan ekonomi tradisional yang lama dengan penyelidikan ekonomi baru ini, dan yang menangnya adalah pandangan tradisional. [6]</p>
<p>-bersambung</p>
<p>Diterjemah dari:</p>
<p>http://www.cato-unbound.org/2006/11/06/bryan-caplan/the-myth-of-the-rational-voter/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademimerdeka.org/2011/04/14/mitos-pengundi-yang-rasional-bahagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Betulkah dunia lebih aman?</title>
		<link>http://akademimerdeka.org/2011/03/23/betulkah-dunia-lebih-aman/</link>
		<comments>http://akademimerdeka.org/2011/03/23/betulkah-dunia-lebih-aman/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Mar 2011 08:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>munirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Country: Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Country: Semua Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Front page: Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Front page: Today's Highlight]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademimerdeka.org/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[Teori akademisi liberal yang paling terkenal adalah “perdamaian melalui demokrasi”, yang isinya, yang paling utama dan belum terbantahkan, adalah bahwa negara-negara demokratis tidak pernah, atau lebih tepatnya, hampir tidak pernah, akan menyerang satu sama lain. 
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak akhir Perang Dunia II, keadaan keamanan global telah menjalani sejumlah perubahan besar yang penyebabnya baru sedikit diteliti&#8211;bahkan oleh analis keamanan. </p>
<p>Jumlah perang keseluruhan&#8211;baik perang antar bangsa maupun perang saudara&#8211;yang terjadi di dunia naik tiga kali lipat selama tahun-tahun Perang Dingin, kemudian turun drastis. Sayangnya, penurunan ini tidak dirayakan-bahkan oleh PBB.</p>
<p>Faktor-faktor yang menyebabkan penurunan ini mungkin bisa dipertahankan atau bahkan ditingkatkan di tahun-tahun ke depan, hingga kita bisa lebih sedikit optimis, meski tetap hati-hati, mengenai kondisi keamanan dunia di masa yang akan datang.  </p>
<p>Sebagian besar peningkatan jumlah konflik sejak akhir Perang Dunia II hingga akhir Perang Dingin disebabkan oleh merebaknya konflik di dalam negeri (perang saudara). Tetapi Perang Dingin, jumlah perang&#8211;yang hampir kesemuanya merupakan perang dalam negeri&#8211;turun drastis. Pada 2008, jumlah perang yang terjadi hanya satu pertiga dari perang yang terjadi pada 1992. </p>
<p>Sejak 2003 hingga 2008, jumlah konflik secara keseluruhan naik sekitar 25 persen. Ini bisa dijelaskan oleh meningkatnya jumlah konflik kecil yang membunuh hanya sedikit orang. Tetapi jumlah perang berskala besar, yang korbannya bisa mencapai 1000 orang atau lebih dalam setahun, terus menurun. Pada 2008, jumlah perang seperti ini 78 persen lebih sedikit daripada di tahun 1980an. </p>
<p>Sayangnya, tidak ada kajian panjang untuk menjelaskan mengapa penurunan jumlah perang yang luar biasa ini&#8211;yang sebagian besarnya adalah perang saudara&#8211;bisa terjadi. </p>
<p><strong>Kenapa perang semakin tidak terlalu mematikan?</strong><br />
Perang yang terjadi pada 1950an rata-rata membunuh 10.000 orang dalam satu tahun; pada milenium baru ini, perang hanya membunuh rata-rata kurang dari seribu orang.</p>
<p>Penurunan yang luar biasa, namun tak merata, jumlah korban meninggal dalam perang disebabkan salah satunya oleh penurunan jumlah perang antar bangsa yang panjang jangka waktunya. Perang antar bangsa sementara ini membunuh lebih banyak orang daripada perang saudara. Penurunan ini juga disebabkan oleh menurunnya campur tangan militer negara-negara adidaya, baik langsung maupun tidak langsung, dalam perang yang dialami negara lain, padahal campur tangan seperti ini menjadi ciri perang besar yang terjadi pada masa Perang Dingin. Perang-perang tersebut&#8211;baik Perang Saudara di Cina, Perang Korea, Perang Vietnam, serta invasi dan pendudukan Soviet di Afghanistan&#8211;mempertemukan dua tentara yang berjumlah besar, dengan salah satunya, paling tidak, dilengkapi dengan persenjataan berat&#8211;pesawat terbang penyerang, tank, alat penembak jarak jauh dan yang sejenisnya. Korban mati bisa mencapai lebih dari satu juta orang. </p>
<p>Pada masa paska Perang Dingin, perang lebih banyak terjadi di dalam negara, bukan antarnegara, dan terjadi antara tentara yang jumlahnya kecil, yang sebagian besarnya hanya dilengkapi dengan persenjataan kecil dan ringan. Meski banyak tindakan brutal dilakukan terhadap warga sipil, perang-perang ini tidak membunuh orang sebanyak perang besar yang terjadi pada masa Perang Dingin. </p>
<p>Bukan hanya jumlah kematian dalam pertempuran yang menurun, kematian akibat memburuknya penyakit dan kekurangan nutrisi dalam perang juga menurun dengan adanya kemajuan dalam pelayanan kesehatan masyarakat, terutama imunisasi yang berhasil menurunkan tingkat kematian orang tua dan anak-anak di negara-negara berkembang secara drastis pada 30 tahun terakhir ini. Peningkatan ini tidak hanya mengurangi tingkat kematian pada masa damai dengan stabil, tetapi juga menyelamatkan banyak nyawa pada masa perang. </p>
<p>Selain itu, bantuan kemanusiaan bagi penduduk yang negaranya terlibat perang semakin meningkat baik dari segi jumlah, jangkauan maupun efektivitasnya. Bantuan ini semakin menurunkan jumlah korban mati dalam peperangan. </p>
<p><strong>Bisakah kita optimis dengan kecendrungan baru ini? </strong><br />
Penemuan ini mengetengahkan gambar yang berbeda dengan gambaran umum&#8211;utamanya dari media&#8211;bahwa dunia ini yang kita tinggali ini semakin dipenuhi kekerasan. Tetapi penemuan ini juga memunculkan pertanyaan lain: bisakah data ini diandalkan? Ada jawaban pendek untuk pertanyaan ini: kita bisa percaya dengan jumlah konflik, tetapi jumlah korban dalam peperangan memang kurang bisa diandalkan. Klaim jumlah korban kadang dilebih-lebihkan karena alasan politik, tetapi bisa juga tidak terhitung dengan selayaknya&#8211;terutama di negara-negara miskin. Tetapi, tak ragu lagi bahwa dalam 50 tahun ini kematian dalam peperangan kecendrungannya semakin menurun&#8211;tak ada akademisi yang bisa menolak bahwa rata-rata perang masa kini tidak semematikan perang pada masa Perang Dingin. </p>
<p>Memperkirakan tren keamanan masa depan memang cukup berbahaya, kita bisa ingat kegagalan komunitas pengkaji keamanan hampir di seluruh dunia dalam memperkirakan akhir Perang Dingin. Tetapi, meski data-data statistik tak cukup untuk memperkirakan secara pasti kapan dan dimana perang akan bermula, sudah ada kemajuan besar dalam memahami kondisi, dinamika dan kebijakan yang meningkatkan&#8211;dan menurunkan&#8211;resiko sebuah negara terjerumus dalam perang.  </p>
<p>Kajian untuk memahami faktor-faktor yang bisa mencegah atau menghentikan perang lebih sedikit daripada kajian untuk memahami penyebab perang. Ironis memang. Tapi begitulah. Begitu banyak perhatian, kadang berlebihan, diberikan untuk memahami resiko perang dan terorisme, tetapi tak ada seorang pun yang berbicara soal uang sebesar kira-kira 1.5 triliun dolar yang dibelanjakan untuk keperluan militer di seluruh dunia. Sejarawan Australia dengan tepat menyatakan, “Dari setiap seribu halaman mengenai penyebab perang hanya kurang dari satu halaman yang menjelaskan langsung penyebab perdamaian.” </p>
<p>Untuk memahami penyebab perdamaian paska Perang Dunia II, paling tidak, kita mesti menjelaskan penyebab turunnya konflik internasional sejak tahun 1950-an dan menurunnya jumlah perang saudara sejak akhir Perang Dingin. </p>
<p><strong>Menjelaskan penurunan insiden konflik internasional dalam 60 tahun</strong><br />
Pada 1950-an, rata-rata ada lebih dari enam konflik internasional terjadi di dunia setiap tahun, termasuk perang anti-penjajahan. Pada milenium baru ini, rata-rata kurang dari satu konflik internasional terjadi setiap tahunnya, seperti yang terlihat dalam Grafik 3.</p>
<p>Lagipula, tak pernah ada lagi perang antara negara-negara adidaya dalam 60 tahun terakhir ini. Ini tidak berarti bahwa negara-negara ini anti-perang. Tidak sama sekali. Malah Perancis, Inggris, Amerika Serikat, dan Rusia menduduki peringkat paling atas di antara negara- negara yang terlibat dalam perang sejak 1946, meski sebagian besar dari perang itu dilakukan di negara-negara miskin dan bukan untuk melawan negara adidaya lainnya.    </p>
<p>Konflik internasional tidak hanya menurun dalam jumlah, tetapi juga menjadi kurang mematikan. Pada 1950-an, konflik internasional membunuh rata-rata 20.000 orang dalam pertempuran per tahun. Pada periode paska Perang Dingin di tahun 1990an, rata-rata tingkat kematian akibat pertempuran per tahun menjadi kurang dari 6.000 orang; sementara pada milenium baru ini, jumlah tersebut menurun menjadi 3.000.  </p>
<p>Sarjana-sarjana hubungan internasional sudah memberikan sejumlah penjelasan-yang saling berlainan-mengenai penyebab perang dan perdamaian pada zaman nuklir ini. Meski banyak debat terjadi antara pendukung teori yang berlainan ini, teori-teori tersebut sebetulnya saling melengkapi. </p>
<p><strong>Perdamaian karena nuklir?</strong><br />
Bagi akademisi mazhab “realis”, tiadanya perang antara negara-negara adidaya selama Perang Dingin bisa dijelaskan dengan adanya kekuasaan yang seimbang dan stabil antara Timur dan Barat&#8211; terutama karena efek pencegah yang dihasilkan dari kepemilikan senjata nuklir dengan kapasitas serangan balasan yang setara kuatnya atau lebih (second strike capability). </p>
<p>Kenneth Waltz, pendukung utama teori dampak pendamai dari senjata nuklir, menyatakan, ”Perdamaian telah menjadi hak istimewa negara-negara yang memiliki senjata nuklir, sementara perang diderita oleh mereka yang tidak memilikinya.” </p>
<p>Sementara senjata nuklir tak ragu lagi membuat negara-negara adidaya dan sekutunya saling mengawasi perilaku mereka, pernyataan Waltz tadi tak sepenuhnya benar karena dua alasan. </p>
<p>Pertama, tak sedikit negara-negara yang memiliki senjata nuklir terlibat dalam perang. Keempat negara yang terlibat dalam perang internasional sejak akhir Perang Dunia II (Perancis, Inggris, Amerika dan Rusia) adalah negara-negara yang memiliki senjata nuklir. </p>
<p>Kedua, sejak akhir Perang Dunia II, negara-negara yang tidak memiliki senjata nuklir telah berulangkali menyerang negara-negara yang memiliki nuklir. Senjata nuklir Amerika Serikat tidak mencegah Cina untuk menyerang tentara Amerika dalam Perang Korea, pun tak mencegah Vietnam Utara untuk menyerang Vietnam Selatan dan tentara AS pada tahun 1960an. Senjata nuklir Israel tidak mencegah Mesir untuk menyerang negara itu pada 1973. Senjata nuklir Inggris tidak mencegah Argentina untuk menginvasi Kepulauan Falkland pada 1982, dan persenjataan nuklir Soviet tidak mencegah kelompok Mujahidin untuk mengobarkan perang melawan tentara mereka di Afghanistan pada 1980an&#8211;pun tak menghindarkan Soviet dari kekalahan.   </p>
<p><strong>Perdamaian melalui demokratisasi dan kesalingtergantungan</strong><br />
Para akademisi “Liberal”, yang punya pandangan yang kurang pesimistik tentang fitrah dan lembaga manusia dibanding “realis”, percaya bahwa terjadinya perang antarnegara semakin berkurang sejak akhir Perang Dunia II karena semakin meningkatnya jumlah negara demokrasi di dunia dan kesalingtergantungan dalam bidang ekonomi. </p>
<p>Teori akademisi liberal yang paling terkenal adalah “perdamaian melalui demokrasi”, yang isinya, yang paling utama dan belum terbantahkan, adalah bahwa negara-negara demokratis tidak pernah, atau lebih tepatnya, hampir tidak pernah, akan menyerang satu sama lain. </p>
<p>Pendukung teori ini tidak mengatakan bahwa negara-negara demokrasi itu cinta damai&#8211;karena negara-negara ini bisa berperang dengan negara-negara yang tidak demokratis, teori ini hanya menyatakan bahwa negara-negara demokratis tidak saling berperang. Jika teori ini benar, peningkatan drastis jumlah negara demokratis di dunia ini dalam tiga dekade terakhir akan mengurangi jumlah negara di dunia yang berpotensi untuk saling berperang. </p>
<p>Akademisi liberal lainnya kurang menekankan dampak demokrasi dalam mengurangi konflik dan lebih menekankan dampak dari semakin meningkatnya kesalingtergantungan dalam ekonomi yang menglobal sekarang ini terhadap keamanan.</p>
<p>Kesalingtergantungan membuat biaya perang menjadi mahal, dan mengurangi keuntungannya. Sebuah kajian yang dilakukan Cato Institute menyatakan bahwa ketika variabel demokratisasi dan liberalisasi ekonomi diperhitungkan dalam analisis statistik, “kebebasan ekonomi 50 kali lebih efektif daripada demokrasi dalam mengurangi konflik berat.” </p>
<p>Debat para ahli penelitian kuantitatif, mengenai dampak relatif dari demokrasi dan kesalingtergantungan ekonomi terhadap perang, tak terselesaikan dan terlalu teknis. Meski demikian, tak banyak yang menolak asumi bahwa naiknya jumlah perdagangan internasional dan penanaman modal luar negeri berkait kelindan dengan turunnya resiko perang. </p>
<p>Tetapi, meningkatnya kesalingtergantungan bukan satu-satunya dampak kegiatan ekonomi yang bisa mengurangi resiko perang. Di era modern ini keuntungan ekonomi dari menyulut peperangan tak sebesar pada masa penjajahan. Sekarang ini, membeli bahan baku mentah dari negara lain lebih murah&#8211;secara politik dan ekonomi&#8211;daripada melakukan invasi untuk menguasai negara tersebut. </p>
<p><strong>Perdamaian melalui Ide: Perubahan sikap terhadap perang</strong><br />
Pada abad ke 21 manfaat ekonomi dari penaklukan tak sepenuhnya hilang, tetapi menyulut perang telah menjadi alat kenegaraan yang secara hukum dan normatif hanya boleh dilakukan untuk mempertahankan diri, atau dengan izin dari Dewan Keamanan PBB. </p>
<p>Perubahan dalam norma global ini terlihat jelas dalam pengakuan universal terhadap ketidaksahan penaklukan untuk tujuan penjajahan dan tiadanya pemerintahan di dunia ini yang hiper-nasionalisme dan agresif seperti pemerintah Jerman dan Pemerintah Fasis Jepang sebelum Perang Dunia II. Apa yang disebut bellicisme&#8211;pengagungan peperangan&#8211;telah menghilang sepenuhnya dari negara maju dan sangat jarang ditemukan di bagian dunia lain&#8211;meski sekarang ini menjadi ciri sejumlah organisasi radikal Islam seperti al-Qaeda. </p>
<p>Pentingnya norma anti-perang tak menegasikan fakta bahwa kadang-kadang norma itu dilanggar. Semua norma pada tahap tertentu bisa dilanggar, tetapi itu tak berarti norma tersebut tak berguna. </p>
<p>&#8212;</p>
<p>Andrew Mack adalah Direktur Human Security Report Project di Universitas Simon Fraser sekaligus dosen di Jurusan Hubungan Internasional di universitas tersebut. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Perencanaan Strategis di Kantor Sekertaris Jenderal PBB pada 1998-2001 ketika Kofi Annan sedang menjabat.     </p>
<p>Diterjemahkan dari <a href="http://www.cato-unbound.org/2011/02/07/andrew-mack/a-more-secure-world/">http://www.cato-unbound.org/2011/02/07/andrew-mack/a-more-secure-world/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademimerdeka.org/2011/03/23/betulkah-dunia-lebih-aman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akademi Merdeka (Indonesia) IV</title>
		<link>http://akademimerdeka.org/2011/03/05/akademi-merdeka-indonesia-iv/</link>
		<comments>http://akademimerdeka.org/2011/03/05/akademi-merdeka-indonesia-iv/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Mar 2011 12:33:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>munirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Country: Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Country: Semua Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Front page: Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Front page: Today's Highlight]]></category>
		<category><![CDATA[Akademi Merdeka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademimerdeka.org/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[Freedom Institute mengundang mahasiswa-mahasiswi untuk mengikuti Akademi Merdeka Indonesia angkatan ke-4 yang akan diselenggarakan di Jakarta pada hari Jumat-Minggu, 8-10 April.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Freedom Institute mengundang mahasiswa-mahasiswi untuk mengikuti Akademi Merdeka Indonesia angkatan ke-4 yang akan diselenggarakan di Jakarta pada hari Jumat-Minggu, 8-10 April.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Apakah Akademi Merdeka?</strong></p>
<p>Akademi Merdeka adalah kursus pendek yang dirancang untuk membantu mahasiswa mengenal ide-ide emansipasi manusia, khususnya sejarah dan filsafat individualisme, hak kepemilikan, pasar, pemerintahan minimal, hak asasi manusia, dan kedaulatan hukum. Forum belajar ini menghadirkan para pakar pemikiran dan fasilitator berpengalaman sebagai mitra belajar bagi mahasiswa. Penyelenggara menyediakan materi bacaan serta akomodasi penginapan dan makan-minum bagi peserta.</p>
<p><strong>Silabus</strong></p>
<p>Akademi Merdeka kali ini bertemakan “Mengenal Ide-Ide Politik dan Ekonomi Modern”.</p>
<p>Freedom Institute kembali mengundang mahasiswa S1 dan/atau yang sederajat untuk mendaftar menjadi peserta program studi tiga hari ini.</p>
<p>Tersedia tempat bagi 24 peserta yang akan diseleksi berdasarkan kualitas isian mereka atas formulir berikut ini (di bawah). Para peserta terpilih akan berhak mengikuti acara yang diadakan di sekitar Sentul, Bogor, pada 8-10 April, dengan fasilitas kamar twin-sharing dan makan dan minum selama acara. Panitia tidak memberikan uang saku maupun pengganti ongkos transpor, selain bus  yang diadakan di kantor Freedom Institute untuk berangkat ke dan pulang dari tempat acara.</p>
<p>Selama program kali ini, peserta akan dapat belajar, berdiskusi dan bekerja kelompok bersama narasumber Arianto A. Patunru (Direktur LPEM FEUI) dan Luthfi Assyaukanie (Freedom Institute) serta fasiltator M. Husni Thamrin (Friedrich Naumann Stiftung) dan Nirwan A. Arsuka (Freedom Institute).  </p>
<p>Akademi Merdeka Indonesia adalah sebuah program Freedom Institute yang dibuat berdasarkan kerjasama dengan mitra internasional lembaga ini, khususnya Atlas Global Initiative for Free Trade, Peace and Prosperity yang bermarkas di Amerika Serikat, Institute for Democracy Economic Affairs (IDEAS) dari Malaysia, dan Friedrich Naumann Stiftung dari Jerman.</p>
<p>Kegiatan ini sudah diselenggarakan empat kali, sekali diadakan di Malaysia dan tiga kali di Indonesia, semuanya pada 2010 (26-28 Februari di Sukabumi, 27-30 Mei di Bogor, 1-3 Oktober di Jakarta). Website AkademiMerdeka.org.</p>
<p>Tujuan workshop ini adalah untuk menyemai ide-ide kebebasan, kemerdekaan individu, kebebasan berkumpul, kebebasan beragama, kebebasan berdagang, pembatasan kekuasaan negara, kedaulatan hukum, dan perdamaian.</p>
<p>Bentuk workshop Akademi Merdeka sendiri adalah kursus pendek yang dirancang untuk membantu mahasiswa mengenal ide-ide emansipasi manusia, khususnya sejarah dan filsafat individualisme, hak kepemilikan, pasar, pemerintahan minimal, hak asasi manusia, dan kedaulatan hukum. </p>
<p><strong><br />
Penyelenggara</strong></p>
<p>Program Akademi Merdeka – Indonesia terselenggarakan atas kerjasama dari Atlas Global Initiative for Freedom, Peace and Prosperity, Amerika, Freedom Institute dan Institute for Democracy and Economic Affairs (IDEAS), yang telah terlebih dahulu memulai platform program ini di Malaysia.</p>
<p>Silakan mendaftar via email dengan mengisi formulir pendaftaran berikut ini (<a href="http://akademimerdeka.org/files/media/2011/03/Formulir-Pendaftaran-Akademi-Merdeka-Indonesia-IV.doc" target="blank">formulir pendaftaran </a>) dan mengirimkannya kembali ke standra@freedom-institute.org (cc: aan.tandra@gmail.com) sebelum 24 Mac 2011.</p>
<p style="text-align: left;">Peserta terseleksi akan diberitahukan per telepon dan email. Panitia akan menanggung biaya penginapan dan makan-minum selama acara (tidak tersedia uang saku maupun uang transpor), menyediakan materi, dan sertifikat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademimerdeka.org/2011/03/05/akademi-merdeka-indonesia-iv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

