<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AkademiMerdeka.org &#187; liberalisme</title>
	<atom:link href="http://akademimerdeka.org/t/liberalisme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akademimerdeka.org</link>
	<description>Libertarianisme di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei</description>
	<lastBuildDate>Wed, 19 Oct 2011 02:42:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Persatuan Bukit Tunku</title>
		<link>http://akademimerdeka.org/2010/07/22/persatuan-bukit-tunku/</link>
		<comments>http://akademimerdeka.org/2010/07/22/persatuan-bukit-tunku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 07:44:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wan Saiful Wan Jan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Country: Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Country: Semua Negara]]></category>
		<category><![CDATA[liberalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademimerdeka.org/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[Aktiviti Pertubuhan Bukit Tunku (Bukit Tunku Society)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Persatuan Bukit Tunku diusahakan oleh AkademiMerdeka.org dengan kerjasama Institute for Democracy and Economic Affairs, Malaysia. Usaha ini diinspirasikan oleh kejayaan dan pencapaian <a href="http://www.montpelerin.org/home.cfm">Persatuan Mont Pelerin</a>.</p>
<p>Matlamat Persatuan Bukit Tunku serupa dengan matlamat Persatuan Mont Pelerin, iaitu untuk membolehkan percambahan idea antara pemikir, pengkaji dan individu-individu di Malaysia yang mempunyai pemikiran sealiran mengenai cara-cara untuk memperkukuh masyrakat merdeka dan juga untuk mengkaji proses, kebaikan dan kelemahan sistem ekonomi berteraskan pasaran. </p>
<p>Maklumat lanjut mengenai aktiviti pertubuhan ini boleh diperolehi daripada <a href="http://ideas.org.my/projects/bukit-tunku-society/">laman web IDEAS di sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademimerdeka.org/2010/07/22/persatuan-bukit-tunku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendudukkan Pluralisme Agama</title>
		<link>http://akademimerdeka.org/2009/03/28/mendudukkan-pluralisme-agama/</link>
		<comments>http://akademimerdeka.org/2009/03/28/mendudukkan-pluralisme-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2009 15:22:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Country: Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Country: Semua Negara]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[liberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[pluralisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademimerdeka.org.1.poppacket.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu MUI mengeluarkan fatwa tentang haramnya pluralisme ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu MUI mengeluarkan fatwa tentang haramnya pluralisme agama di samping sekularisme, dan liberalisme. Fatwa itu telah memicu gelombang prokon (pro-kontra) dengan argument masing-masing, tetapi sejauh pengetahuan saya, belum ada kajian yang mendalam dan meluas tentang isme-isme itu jika dilihat dari pandangan Islam. Cendekiawan muda NU Abd. Moqsith Ghazali dengan karyanya yang berjudul <em>Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Al-Qur’an</em> (Jakarta: KataKita, 2009, 401 halaman) telah mengurai masalah pluralisme agama sebagai salah satu isu yang diharamkan itu melalui pendekatan akademik yang imbang. Terbukalah peluang sekarang bagi siapa saja yang ingin melihat masalah ini dengan kaca mata yang lebih jernih tanpa emosi untuk membedah tesis-tesis Moqsith ini. Para mufti MUI saya anjurkan agar tidak ketinggalan pula menelaah karya Moqsith ini dengan hati dan otak yang terbuka. Adapun hasil telaah itu nanti bisa saja menguatkan tingkat keharamannya atau bisa juga menjurus kepada pencabutan fatwa yang telah dikeluarkan itu.</p>
<p>Pada ranah pemikiran Islam kontemporer bagi Indonesia, iklimnya sudah semakin kondusif untuk bertukar pendapat, demi mencari kebenaran, bukan mencari yang lain. Gelombang kebangkitan kaum intelektual muda Muslim dengan berbagai latar belakang sub-kultur sedang semakin membesar. Fenomena ini sungguh sangat membesarkan hati. Peran pesantren plus IAIN/UIN bagi kelahiran anak-anak muda pemikir ini sangat sentral. Mereka tidak hanya sibuk dengan kitab kuning, tetapi sekaligus menguasai kitab putih, baik yang ditulis oleh Muslim atau non-Muslim. Dr. Abd. Moqsith Ghazali adalah salah seorang di antara mereka yang berani berfikir bebas secara bertanggung jawab, baik dilihat dari sisi iman, maupun dari sisi disiplin ilmu.</p>
<p>Adapun misalnya temuan mereka ini bercanggah dengan pendapat yang telah dinilai mapan jangan cepat-cepat dihukum dengan ekskomunikasi. Jalan terbaik adalah dengan mengikuti sumber bacaan mereka, baik yang ditulis dalam bahasa Arab atau bahasa asing lainnya. Dan akan lebih bijak lagi, jika penafsiran terhadap sumber-sumber itu saling berlawanan, solusinya mudah sekali, yaitu diadakan dialog yang serius dan jujur antara para pihak yang bersangkutan. Sikap menuduh dengan menggunakan kata-kata “sesat, agen zionis, agen Barat” bukanlah cara kaum yang beradab. Mari kita sama lepaskan prasangka lebih dulu, lalu kita adu argumen dengan menjadikan al-Qur’an sebagai rujukan utama dan pertama. Lalu kita gunakan sumber-sumber lain, baik yang ditulis oleh ulama klasik maupun yang kontemporer sebagai pelengkap rujukan. Karya-karya klasik umumnya ditulis dalam bahasa Arab, sedikit dalam bahasa Persi. Sedangkan bahasa yang digunakan dalam karya-karya modern jauh lebih kaya: Arab, Urdu, Turki, Persi, Indonesia, Inggris, Jerman, Perancis, Belanda, sedikit Itali, Spanyol, Rusia, dan lain-lain.</p>
<p>Karya Argumen Pluralisme Agama telah mencoba membongkar sumber-sumber klasik dan modern dalam berbagai bahasa: Arab, Inggris, dan Indonesia. Dalam endorsemennya K.H. A. Mustofa Bisri atas karya Moqsith ini, kita baca sebagai apresiasi sebagai berikut: Buku ini tak sekadar wacana dan pernyataan karena kobaran ghirah keberagamaan atau semangat pembaruan; tapi seperti yang akan segera pembaca ketahui, merupakan hasil kerja keras penelitian. Penelitian secara ilmiah tentang sesuatu yang sebenarnya atau seharusnya bukan menjadi masalah. Tapi bagi mereka yang menjadikan kamapanan sebagai mazhab, mungkin buku yang ditulis Muslim muda, Abd. Moqsith Ghazali, ini dianggap baru bahkan mengagetkan.</p>
<p>Bagi saya karya ini adalah sebuah kegigihan akademik yang bernilai tinggi dan pasti punya jangkauan jauh.</p>
<p>Akhirnya saya belum perlu mengupas kandungannya, tetapi ingin mengimbau para pembaca untuk mengikutinya sendiri, kemudian beri penilaian secara jujur, kritikal, dan obyektif. Jika ada pihak yang sangat keberatan dengan tesis-tesis utama pengarangnya, tulislah pula karya lain untuk membantahnya. Kemudian publik diberi kesempatan luas untuk membandingkannya. Saya merindukan lahirnya sebuah iklim intelektual kelas tinggi di kalangan umat Islam Indonesia, di mana peradaban otak dan hati dapat mengalahkan “peradaban” otot dan teriakan kasar!</p>
<p><em>Artikel ini pernah dimuat di Republika, 17 Maret 2009.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademimerdeka.org/2009/03/28/mendudukkan-pluralisme-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Globalisasi Memperkaya Budaya</title>
		<link>http://akademimerdeka.org/2009/03/17/globalisasi-memperkaya-budaya/</link>
		<comments>http://akademimerdeka.org/2009/03/17/globalisasi-memperkaya-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 11:07:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wan Saiful Wan Jan</dc:creator>
				<category><![CDATA[-]]></category>
		<category><![CDATA[--]]></category>
		<category><![CDATA[Country: Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Country: Semua Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Front page: Featured]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[globalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[liberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademimerdeka.org.1.poppacket.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Proses globalisasi bermanfaat untuk budaya kita]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Istilah globalisasi selama ini banyak merujuk kepada maksud dunia tanpa sempadan di mana ia dijelmakan melalui revolusi maklumat dengan kewujudan teknologi internet khususnya. Dalam banyak wacana, globalisasi sering dipersalahkan kerana ia kononnya menghakis nilai budaya masyarakat. Saya beranggapan tuduhan ini bersifat separuh masak.</p>
<p>Prof. Sidek Baba, mantan rektor di Universiti Islam Antarabangsa Malaysia pernah menulis bahawa budaya dalam pengertian mudah ialah gabungan budi dan daya. Budi adalah sesuatu yang murni dan baik terpancar daripada hati, sementara daya adalah upaya diri menterjemahkan nilai murni dalam kehidupan. Pengertian ini mirip dengan apa yang pernah disebut oleh Sutan Takdir Alisjahbana dalam Polemik Kebudayaan di Indonesia bahawa budaya adalah “penjelmaan nilai-nilai dalam kehidupan”.</p>
<p>Nilai dalam sejarah antara lain wujud dengan kehadiran agama. Islam khususnya mengajar umat tentang nilai halal, harus, makruh, haram dan sebagainya. Di Malaysia, peranan agama khususnya Islam dilihat cukup besar dalam wacana isu semasa sama ada bersifat popular atau tidak. Sebahagian wacana agama ini menggambarkan globalisasi sebagai satu agenda Barat (khususnya Amerikanisasi) untuk mengeksport faham yang bertentangan dengan agama. Justeru, globalisasi sering terhukum dari faham ini.</p>
<p>Bagaimanapun, saya melihat globalisasi sebenarnya lebih memperkaya budaya berbanding menghakisnya. Hujah-hujah saya adalah seperti berikut:</p>
<p><em>1. Perubahan konsep Ruang dan Waktu yang mengoptimumkan interaksi.</em></p>
<p>Berkembangnya teknologi telah membantu manusia berinteraksi dan membuat keputusan lebih cepat serta bermaklumat. Dengan cara ini, keputusan yang diambil berpotensi menjadi lebih baik dengan timbang tara yang luas.</p>
<p>Akses kepada maklumat ini telah membantu rakyat Malaysia menjadi antara pengguna teramai dalam laman sosial sama ada berbentuk blog atau jaringan sosial lain seperti Friendster, Facebook dan MySpace.</p>
<p>Saya masih ingat ketika berkunjung ke Amerika, seorang rakan saya dari negara Rusia mengatakan ketika di zaman Kesatuan Sosialis Soviet Rusia (USSR), akses kepada maklumat luar adalah sangat terhad termasuk hal pelancongan. Di dalam televisyen, rakyat mereka sentiasa dimomokkan bahawa USSR adalah negara terbaik di mana kerajaan sentiasa cuba melindungi mereka daripada dipengaruhi anasir luar. Hanya setelah krisis ekonomi lewat 1980-an yang menyaksikan kejatuhan empayar Soviet menyedarkan mereka kepada realiti sebenar dan krisis selanjutnya pada lewat 1990-an menambah tekanan kepada struktur ekonomi yang belum dibaiki sepenuhnya. Sampai sekarang, Moscow masih menjadi antara bandar termahal di dunia.</p>
<p>Kesan daripada akses maklumat ini, Malaysia kini berpeluang menikmati ruang demokrasi yang lebih meskipun masih banyak yang boleh diperbaiki.</p>
<p><em>2. Nilai adalah berkaitan pilihan.</em></p>
<p>Dalam teknologi globalisasi, kita akui bahawa ia turut sama membawa unsur yang tidak sihat kepada masyarakat (khususnya masyarakat beragama). Kita maklum isu rakaman sama ada bersifat gambar atau video yang menceroboh hak persendirian (privacy) individu atau kumpulan tertentu.</p>
<p>Dalam hal daya tahan (resilience) terhadap budaya luar ini, saya suka mengajak kita untuk melihat pengalaman Baghdad yang ditawan tentera Mongol pada tahun 1258. Tercatat dalam sejarah bahawa meskipun Baghdad ditawan, tentera Mongol akhirnya memeluk Islam! Pengalaman unik tentera penjajah memeluk agama kelompok yang dijajah ini ternyata sukar dibayangkan tetapi ia boleh dijadikan contoh penting bagaimana dalam aspek budaya boleh bertahan. Ia akhirnya bergantung kepada pilihan individu.</p>
<p>Mengambil kira realiti dunia internet hari ini yang serba bebas, ternyata ramai mereka yang ‘benar-benar beriman’ dapat berfikir dan bertindak sesuai dengan tuntutan agama.</p>
<p>Hakikatnya, tanpa globalisasi, masalah manusia membuat pilihan yang buruk adalah masalah yang wujud sejak kewujudan Nabi Adam a.s. lagi malah tercatat di zaman Rasulullah s.a.w. juga bahawa ada umat Islam yang berzina dan minum arak sedangkan di zaman itu mereka berpeluang melihat wajah Rasulullah s.a.w. sendiri. Nilai adalah berkaitan pilihan manusia, justeru yang perlu ialah kita menggiatkan usaha menawarkan pilihan-pilihan yang baik.</p>
<p><em>3. Perniagaan dan Manusia</em></p>
<p>Antara aspek lain yang besar dalam globalisasi ialah budaya perniagaan melalui pasaran bebas dan rantau ini khususnya Melaka cukup dikenali dengan ini. Saya berkunjung ke Muzium Negara dan membaca catatan Duarte Barbosa yang mengikut Ferdinand Magellan ke Melaka. Dicatatkan sebanyak kira-kira 2000 kapal yang berlabuh di Selat Melaka untuk urusan perniagaan dan beliau menyatakan pada waktu itu siapa yang menguasai Melaka, merekalah yang menguasai dunia.</p>
<p>Selain daripada berniaga, sebahagian mereka juga datang dengan misi menyebarkan kepercayaan agama masing-masing.</p>
<p>Semua faham agama mengajar penganutnya menjadi manusia yang baik dan berguna kepada masyarakat. Dalam kajian personaliti dan kerjaya, Puan Ainon Mohd, pengasas Universiti PTS mencatatkan dalam buku Psikologi Kejayaan bahawa personaliti peniaga adalah personaliti yang terbaik kerana mereka adalah kelompok yang mengambil tanggungjawab terhadap diri sendiri. Peniaga yang berusaha kuat dan belajar membetulkan teknik perniagaan mereka berpeluang untuk berjaya dan mereka juga berpotensi rugi besar sekiranya gagal.</p>
<p>Prof. Shaharir Mohamad Zain semasa pembelaannya terhadap Bahasa Melayu dalam penentangannya terhadap Program Pendidikan Matematik dan Sains dalam Bahasa Inggeris (PPSMI) ada menulis sinis terhadap liberalisme dalam hujah kedua kertas kerjanya. Namun saya berpendapat liberalisme lebih cocok dengan perenggan kedua hujah kedua kertas kerja beliau &#8211; bahawa liberalismelah sebenarnya memperkaya budaya melalui perkongsian. Duarte Barbosa ada mencatatkan bahawa terdapat 84 bahasa dituturkan di Melaka pada waktu itu dan kita tidak mendengar bagaimana kerencaman ini akhirnya menghakis bahasa Melayu sebaliknya kita tahu bagaimana bahasa Melayu sebahagiannya terolah dari deskripsi yang pelbagai termasuk Sanskrit.</p>
<p>Hakikat bahawa rantau ini telah lama dikenali sebagai rantau persona religious (manusia beragama) dan terkenal dengan kegiatan perdagangan tentunya menarik untuk diteroka lebih lanjut. Nilai budaya hanya berfungsi bila diamalkan. Mencari kambing hitam kepada masalah budaya sendiri ternyata satu sikap yang tidak membantu.</p>
<p>Sutan Takdir mungkin dilihat sinis kerana melihat segala yang datang dari Barat itu sebagai baik. Namun, kita juga harus berlaku adil bahawa mengatakan segala yang datang dari Barat itu tidak baik juga tidak tepat. Saya mahu menyimpulkan bahawa interaksi kepelbagaian budaya yang berlaku daripadanya telah memperkaya budaya dan bukan menghakis nilai masyarakat setempat.</p>
<hr />
<p><em>Amin Ahmad ialah Penyelidik di Malaysia Think Tank.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademimerdeka.org/2009/03/17/globalisasi-memperkaya-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Itu Liberal?</title>
		<link>http://akademimerdeka.org/2009/02/27/apa-itu-liberal/</link>
		<comments>http://akademimerdeka.org/2009/02/27/apa-itu-liberal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 15:25:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Country: Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Country: Semua Negara]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[liberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademimerdeka.org.1.poppacket.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Mestinya, pertanyaan yang lebih pas adalah “Apa itu liberalisme?” Sengaja saya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mestinya, pertanyaan yang lebih pas adalah “Apa itu liberalisme?” Sengaja saya tidak menggunakan kata “liberalisme” dalam pertanyaan di atas, karena saya ingin menjelaskan makna “liberal” dalam nama “Liberal Society.”</p>
<p>“Liberal” tentu saja adalah kata sifat atau bisa juga kata benda. Jika kata ini disandingkan dengan kata benda lain, maka fungsinya menjadi kata sifat penjelas, seperti “liberal thinker,” “liberal group,” atau “liberal community.” Kata “liberal” sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti “bebas.” Sebelum abad ke-19, kata “liberal” berarti “orang yang baik hati dan toleran.”</p>
<p>Liberal adalah sebuah sikap politik, ekonomi, dan sosial, yang menekankan pentingnya kebebasan individu. Seorang yang liberal adalah seorang yang mendukung gagasan kemajuan dan perlindungan terhadap kebebasan sipil.</p>
<p>Dalam bidang politik, seorang liberal percaya bahwa demokrasi adalah satu-satunya cara untuk perubahan politik yang damai. Demokrasi tak hanya menjanjikan keragaman hidup, tapi juga menjanjikan perlindungan kepada hak-hak fundamental, batasan kekuasaan, dan pasar bebas. Demokrasi yang baik adalah demokrasi yang liberal, yakni demokrasi yang tak hanya menekankan aspek-aspek prosedural (seperti pemilihan umum), tapi juga aspek-aspek substansial (kebebasan individu).</p>
<p>Dalam bidang ekonomi, liberalisme memberikan aneka jenis kebebasan kontraktual seperti hak milik, hak mengumpulkan kekayaan dan kapital, kebebasan untuk memproduksi, menjual, dan membeli. Orang-orang liberal mengimani sepenuhnya pasar bebas. Pasar adalah lokus di mana individu-individu mempraktikkan kebebasan ekonomi mereka. Pasar merefleksikan supply dan demand bagi barang-barang dan jasa, yang kemudian, pada akhirnya, pasarlah yang harus menentukan harga.</p>
<p>Dalam bidang sosial, liberalisme memproyeksikan bahwa kebijakan-kebijakan yang baik adalah kebijakan yang mempertimbangkan tatanan ekonomi-politik yang secara intrinsik bersifat sosial. Kebijakan liberal pada dasarnya bersifat sosial karena ia bertujuan memberikan warga negara kebebasan untuk menjaga hak dan harta bendanya secara bertangungjawab. Kebebasan sosial, pada akhirnya, adalah sebuah jawaban terhadap apa yang kini kita sebut sebagai kesempatan untuk meningkatkan mobilitas individu di tengah masyarakat.</p>
<p>Liberal Society berusaha membangun sebuah masyarakat yang peduli pada nilai-nilai politik, ekonomi, dan sosial yang liberal, yakni nilai-nilai yang dirumuskan oleh para pemikir liberal seperti John Locke, Adam Smith, John Stuart Mill, Friedrich August von Hayek, dan Ludwig von Mises.</p>
<p>Saya akan menjelaskan tentang nilai-nilai liberal dan para perumus Liberalisme dalam tulisan terpisah.</p>
<p><em>Tulisan ini pernah dimuat dalam <a href="http://www.assyaukanie.com/articles/apa-itu-liberal">blog pribadi Luthfi Assyaukanie</a>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademimerdeka.org/2009/02/27/apa-itu-liberal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Erti libertarianisme bagi saya</title>
		<link>http://akademimerdeka.org/2008/09/04/erti-libertarianisme-bagi-saya/</link>
		<comments>http://akademimerdeka.org/2008/09/04/erti-libertarianisme-bagi-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Sep 2008 22:04:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wan Saiful Wan Jan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Country: Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Country: Semua Negara]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[liberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akademimerdeka.org.1.poppacket.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang dimaksudkan dengan faham libertarianisme?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sering ditanya oleh rakan-rakan dua soalan: “Orang Islam boleh jadi liberal kah?” dan “Bagaimana mungkin seorang ahli PAS menyokong fahaman liberal? Bukankah Islam itu lengkap?”. Kedua-dua soalah ini menunjukan betapa ramainya yang terkeliru dengan maksud perkataan ‘liberal’.</p>
<p>Tidak mudah untuk menghurai kekeliruan mengenai liberalisme. Dalam artikel pendek ini saya akan cuba menjelaskan erti liberalisme yang saya fahami dan kenapa saya tidak nampak percanggahan antara aqidah Islam dan juga fahaman liberal. Insha-Allah saya akan cuba menulis artikel-artikel lain untuk menghuraikan maksud ideologi ini dengan lebih mendalam.</p>
<p>Sebelum itu, saya perlu membuat satu klarifikasi yang penting. Perkataan ‘liberal’ kerapkali disalahguna hinggakan penggunaannya kadang kala lari daripada maksud sebenarnya. Di Amerika Syarikat, perkataan liberal telah dicuri oleh mereka yang menyokong campur tangan kerajaan dalam hal ehwal peribadi rakyat (contohnya Parti Demokratik). Di Malaysia pula, jika disebut sahaja perkataan ‘liberal’, maka biasanya yang datang dalam fikiran ialah ‘Islam liberal’. Saya tidak termasuk dalam kedua-dua kelompok ini. Saya seorang yang berpegang dengan falsafah liberalisme klasik, atau, di Amerika, biasanya ia dipanggil falsafah libertarianisme. Untuk mengelakkan lebih banyak salah faham, maka saya akan menggunakan perkataan libertarian dalam artikel ini.</p>
<p><strong>Kedaulatan undang-undang</strong></p>
<p>Liberalisme klasik atau libertarianisme bukan satu falsafah baru. Prinsip asas libertarianisme ialah keyakinan terhadap adanya satu “peraturan tertinggi”, dan prinsip ini boleh dikesan dalam falsafah lama Yahudi dan Greek purba. Prinsip ini bermaksud semua manusia, daripada pemerintah kepada yang diperintah, adalah tertakluk kepada sebuah peraturan yang sama. Kedatangan Islam pula telah memperkukuh keyakinan terhadap prinsip “peraturan tertinggi” yang diteroka sejak sebelum zaman Nabi Musa lagi. Malahan Islam dengan jelas mengajar bahawa mereka yang berkuasa tidak boleh sewenang-wenangnya menggunakan kuasa mereka untuk memaksa rakyat mengikut telunjuk mereka. Pemerintah juga tertakluk kepada undang-undang.</p>
<p>Libertarianisme tidak menyeru kepada pemansuhan atau pengabaian terhadap peraturan dan undang-undang. Sebaliknya, libertarianisme adalah satu panggilan agar semua manusia mematuhi undang-undang yang sama tanpa pengecualian kerana wujudnya kedaulatan undang-undang. Konsep ini adalah perlindungan terbaik daripada kediktatoran dan totalitarianisme. Jika tidak wujud kedaulatan undang-undang, maka yang berdaulat adalah manusia. Perampasan kedaulatan undang-undang oleh segelintir manusia yand memerintah akan membolehkan mereka memaksa rakyat hidup mengikut telunjuk mereka. Sekiranya prinsip asas libertarianisme ini tidak dihiraukan, maka akan wujudlah totalitarianisme seperti di negara-negara komunis dan fasis yang pastinya tidak Islamik.</p>
<p><strong>Kerajaan terhad</strong></p>
<p>Pemerintah mempunyai kuasa untuk memaksa orang bawahan tunduk kepada mereka dengan menggunakan akta-akta parlimen, peraturan, undang-undang, tentera, polis, dan sebagainya. Pendek kata, wujud ketidaksamarataan kuasa antara rakyat dan pemerintah. Untuk memastikan pemerintah tidak menyalahgunakan kuasa mereka, maka kuasa kerajaan perlu dihadkan. Tanpa had yang jelas, kerajaan berkuasa penuh untuk meluluskan undang-undang dan akta-akta yang mengongkong kehidupan manusia, seterusnya melahirkan satu sistem yang tidak ubah seperti kediktatoran. Prinsip kerajaan terhad ini juga satu prinsip yang penting dalam libertarianisme.</p>
<p>Kuasa kerajaan terhasil daripada amanah yang diberikan oleh rakyat. Tetapi kerajaan boleh menjadi terlalu berkuasa sehingga ia mencengkan dan membahayakan rakyat itu sendiri terutamanya apabila kerajaan meluluskan peraturan-peraturan yang memaksa rakyat taat dan patuh kepada mereka. Untuk menghadkan kuasa kerajaan dan menghalang mereka daripada menjadi diktator, maka negara-negara biasanya mempunyai perlembagaan yang memperinci dan memperjelaskan sempadan antara hak kerajaan dan hak rakyat.</p>
<p>Sebagai seorang Muslim, saya menentang sepenuhnya konsep kediktatoran dan pemusatan kuasa. Islam tidak mempunyai kuasa pentadbiran berpusat dan dengan itu Islam mempertanggungjawabkan penganutnya untuk memilih cara hidup yang terbaik, dan menganjurkan agar penganutnya menuntut ilmu agar mereka boleh membuat keputusan yang tepat. Inilah sebabnya kenapa saya juga yakin bahawa pemerintah mestilah memperkuasa rakyat untuk membuat keputusan yang terbaik dan tidak memaksa rakyat patuh kepada keputusan-keputusan yang dibuat oleh pemerintah sahaja.</p>
<p><strong>Individu merdeka</strong></p>
<p>Apabila kuasa sesebuah kerajaan dihadkan, maka setiap individu rakyat menjadi merdeka untuk memilih apa yang terbaik untuk kehidupan mereka selagi mana mereka tidak melakukan keburukan terhadap orang lain. Libertarianisme melihat individu sebagai elemen paling asas dalam masyarakat kerana perkumpulan individu-individu inilah yang akhirnya membentuk sesebuah masyarakat. Setiap individu merdeka boleh memilih apa yang terbaik untuk mereka, berdasarkan pengetahun mereka sendiri. Prinsip individu merdeka ini selaras dengan keyakinan kita bahawa Islam datang untuk memerdekakan manusia daripada perhambaan sesama manusia agar seseorang Muslim itu boleh memperhambaan diri kepada Allah semata-mata. Menafikan kemerdekaan individu adalah seolah-oleh menafikan satu anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Sebagai seorang Muslim, saya melihat mereka yang memperhambakan manusia lain seolah-olah cuba merampas tempat Allah dalam kehidupan manusia.</p>
<p>Setiap individu mestilah menghormati maruah individu lain tanpa mengira agama, bangsa atau jantina mereka. Ini bermaksud kita perlu menghormati perbezaan antara satu individu dengan individu lain. Konsep individu merdeka juga bermaksud setiap individu mempunyai hak dan tanggungjawab, seperti hak untuk dihormati oleh orang lain, dan tanggungjawab untuk menghormati orang lain. Paling penting sekali, konsep individu merdeka bermaksud kerajaan tidak boleh masuk campur dalam hal-hal peribadi seseorang rakyat. Selagi mana individu tersebut tidak melakukan keburukan terhadap orang lain, selagi itulah kerajaan tidak boleh masuk campur.</p>
<p><strong>Pasaran bebas</strong></p>
<p>Memang diketahui umum bahawa seorang libertarian biasanya menyokong pasaran bebas. Tetapi terdapat banyak salah faham mengenai sebab kami menyokong pasaran bebas. Terdapat dakwaan bahawa kami menyokong pasaran bebas kerana kami tidak mempedulikan nasib golongan miskin dan kami mahu membiarkan wujudnya jurang antara kaya dan miskin. Tuduhan liar ini salah sama sekali.</p>
<p>Sebenarnya libertarian menyokong pasaran bebas kerana hanya sistem ini sahajalah yang boleh menjamin maruah individu dihormati. Pasaran bebas membolehkan setiap individu memilih sendiri barangan dan perkhidmatan menggunakan akal yang diberikan oleh Tuhan. Penafian kebolehan setiap individu untuk berfikir sendiri adalah seolah-olah menyatakan bahawa mereka itu semuanya bodoh kerana tidak boleh berfikir sendiri. Menyekat pilihan di pasaran seolah-olah menafikan anugerah akal pemberian Tuhan kepada manusia. Tidak ada penghinaan yang lebih besar terhadap maruah seseorang manusia selain itu.</p>
<p>Sesetengah pihak, terutamanya golongan sosialis, suka berhujah bahawa kerajaan perlu memastikan kesamarataan dalam masyarakat. Mereka ini salah dari dua sudut. Pertama, sebagai seorang Muslim, saya percaya bahawa Tuhan telah menciptakan kita semuanya samarata. Ini lebih penting daripada apa-apa usaha kerajaan untuk mewujudkan kesamarataan ekonomi, terutamanya jika usaha kerajaan tersebut membayangkan seolah-olah Allah tidak memberikan saya akal untuk membuat keputusan sendiri. Kedua, kita boleh melihat sendiri betapa setiap kali kerajaan cuba mewujudkan kesamarataan ekonomi, hasilnya adalah lebih banyak ketidaksamarataan. Contohnya, lihat sahaja Dasar Ekonomi Baru di Malaysia. Setelah berpuluh tahun kerajaan cuba memaksa rakyat menjadi sama rata, adakah usaha tersebut berjaya? Sebab itulah saya bingung apabila saya mendengar ahli-ahli politik berkata bahawa mereka mahu memperbetulkan kegagalan kerajaan melalui lebih banyak campurtangan kerajaan dalam kehidupan rakyat, kali ini dengan cara mewujudkan negara kebajikan. Adakah kita mahu jatuh dalam lubang yang sama buat kali kedua?</p>
<p><strong>Ke arah Malaysia berteraskan libertarianisme</strong></p>
<p>Sebagai seorang Muslim, saya sering mengimbau sejarah umat Islam terdahulu dan bagaimana mereka membina tamadun yang masyhur tanpa banyak bergantung kepada sogokan kerajaan. Pada masa itu setiap manusia, baik pemerintah mahupun yang diperintah, tertakluk kepada undang-undang yang sama. Setiap Muslim bertanggungjawab terhadap tindakan masing-masing. Kerajaan pada masa itu lebih banyak berperanan dalam bidang pertahanan dan keamanan. Umat Islam pada waktu itu merupakan pedagang yang berjaya dan mereka beroperasi dalam sistem pasaran global yang bebas. Rasulullah (s.a.w.) dan isteri Baginda merupakan peniaga-peniaga yang berjaya. Ramai sahabat (r.a.) yang turut menjadi kaya raya hasil titik peluh mereka sendiri. Mereka semuanya beroperasi dalam sistem pasaran dunia yang terbuka. Malahan, kerajaan pada zaman awal kegemilangan Islam tidak campurtangan dalam urusan pendidikan, kesihatan mahupun pengurusan masjid. Semuanya diuruskan sendiri oleh rakyat, biasanya melalui sistem wakaf. Hasilnya, masjid-masjid, pusat pusat pengajian, dan juga banyak lagi perkhidmatan-perkhidmatan awam, dapat berfungsi dengan cemerlang demi kebaikan rakyat, tanpa sebarang gangguan politik.</p>
<p>Saya berkeyakinan bahawa itulah model terbaik untuk Malaysia. Falsafah libertarianisme mendokong kedaulatan undang-undang dan sistem pasaran bebas, menyeru agar kuasa pemerintah dihadkan, dan menutut agar manusia dimerdekakan daripada penghambaan sesama manusia supaya tidak ada manusia lain yang boleh merompak kedudukan Tuhan dalam kehidupan kita. Sebagai seorang Muslim, bolehkah saya menentang semua ini?</p>
<p>[info]Wan Saiful Wan Jan ialah Editor AkademiMerdeka.org dan Ketua Pengarah Malaysia Think Tank.[/info]</p>
<p>[info]Artikel ini disiarkan oleh Malaysiakini (4 Sept 08) dan telah diterjemahkan ke Bahasa Perancis, Bahasa Parsi dan Bahasa Arab.[/info]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akademimerdeka.org/2008/09/04/erti-libertarianisme-bagi-saya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

